Adil Pada Tuhan dengan Tidak Syirik KepadaNya

Sikap adil bukan hanya berlaku bagi sesama manusia. Dalam Islam konsep adil bersifat menyeluruh, berlaku bagi sesama makhluk maupun kepada sang Khaliq.

Sikap adil kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan adalah dengan cara meng-Esa-kanNya, menyembahNya, dan lain sebagainya. Dengan begitu, bila kita syirik atau menyekutukan dan tidak menyembah Allah, berarti kita masuk kategori manusia dzalim kepada Tuhan.

Syirik dianggap perbuatan dzalim karena seorang hamba telah membagi dan mempersembahkan ibadahnya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dzat yang paling berhak disembah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

“dari [Mu’adz radliallahu ‘anhu] berkata: “Aku pernah membonceng di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diatas seekor keledai yang diberi nama ‘Uqoir lalu Beliau bertanya: “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?” Aku jawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya adalah hendankah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan disiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab: “Jangan kamu beritahukan mereka sebab nanti mereka akan berpasrah saja”. (Hadits Bukhari Nomor 2644 dan Hadits Muslim Nomor 44)

Sebagaimana Luqman mewanti-wanti (memperingatkan) anaknya untuk tidak berbuat syirik, karena syirik tergolong kezaliman yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Surat Luqman Ayat 13)

Lukman memerintahkan anaknya berbuat ikhlas dan melarangnya berbuat syirik karena syirik adalah kezaliman yang besar. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (Surat An-Nisa’ Ayat 36)

Marwan bin Musa rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala dalam ayat ini memerintahkan kita hanya menyembah kepada-Nya saja dan mengarahkan berbagai bentuk ibadah kepada-Nya, baik berdoa, meminta pertolongan dan perlindungan, ruku’ dan sujud, berkurban, bertawakkal dan sebagainya serta masuk ke dalam pengabdian kepada-Nya, tunduk kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan rasa cinta, takut dan harap serta berbuat ikhlas dalam semua ibadah baik yang nampak (ibadah lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (ibadah hati). Allah Ta’ala juga melarang berbuat syirik, baik syirik akbar (besar) maupun syirik asghar (kecil).

Syirik Akbar (besar) adalah syirik yang biasa terjadi dalam penyembahan maupun ketuhanan. Syirik dalam penyembahan yaitu dengan mengarahkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, misalnya berdo’a dan meminta kepada selain Allah, ruku’ dan sujud kepada selain Allah, berkurban untuk selain Allah (seperti membuat sesaji untuk jin atau penghuni kubur), bertawakkal kepada selain Allah dan mengarahkan segala bentuk penyembahan/ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala. Sedangkan syirik dalam ketuhanan yaitu menganggap bahwa di samping Allah ada juga yang ikut serta mengurus alam semesta. Syirik dalam penyembahan dan ketuhanan termasuk syirik akbar.

Sedangkan Syirik Asghar (kecil) adalah perbuatan, ucapan atau niat yang dihukumi oleh agama Islam sebagai Syirik Asghar karena bisa mengarah kepada Syirik Akbar contohnya adalah; Bersumpah dengan nama selain Allah. Memakai jimat dengan keyakinan bahwa jimat tersebut sebagai sebab terhindar dari madharat (namun bila berkeyakinan bahwa jimat itu dengan sendirinya bisa menghindarkan musibah atau mendatangkan manfaat maka menjadi Syirik Akbar). Dan Meyakini bahwa bintang sebagai sebab turunnya hujan. Hal ini adalah Syirik Asghar karena ia telah menganggap sesuatu sebagai sebab tanpa dalil dari syara’, indra, kenyataan maupun akal. Dan hal itu bisa menjadi Syirik Akbar bila ia beranggapan bahwa bintang-bintanglah yang menjadikan hujan turun.

Riya’ (beribadah agar dipuji dan disanjung manusia). Contohnya adalah seseorang memperbagus shalat ketika ia merasakan sedang dilihat orang lain.

Beribadah dengan tujuan mendapatkan keuntungan dunia.

Thiyarah (merasa sial dengan sesuatu sehingga tidak melanjutkan keinginannya). Misalnya, ketika ia mendengar suara burung gagak ia beranggapan bahwa bila ia keluar dari rumah maka ia akan mendapat kesialan sehingga ia pun tidak jadi keluar, dsb. Pelebur dosa thiyarah adalah dengan mengucapkan,

اَللّهُمَّ لَا خَيْرَ اِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ اِلَّا طَيْرُكَ وَلاَ اِلهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada nasib sial kecuali yang Engkau tentukan. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”(HR. Ahmad)

Termasuk syirik juga adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut ketika menafsirkan ayat “Falaa taj’aluu lillahi andaadaa…”artinya: “Maka janganlah kamu adakan bagi Allah tandingan-tandingan sedang kamu mengetahui” (Al Baqarah: 22):

الْأَنْدَادُ: هُوَ الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ؛ وَهُوَ أَنْ تَقُوْلَ: وَاللهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلاَنُ وَحَيَاتِيْ، وَتَقُوْلُ: لَوْلاَ كُلَيْبَةُ هَذَا لَأَتَانَا اللَّصُوْصُ، وَلَوْلَا الْبِطُّ فِي الدَّارِ لَأَتَانَا اللَّصُوْصُ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ: لَوْلَا اللهُ وَفُلاَنٌ. لاَ تَجْعَلْ فِيْهَا فُلاَناً هَذَا كُلُّهُ بِهِ شِرْكٌ (رواه ابن أبي حاتم)

“Tandingan-tandingan tersebut adalah perbuatan syirik, di mana ia lebih halus daripada semut di atas batu yang hitam di kegelapan malam, yaitu kamu mengatakan “Demi Allah dan demi hidupmu hai fulan“, “Demi hidupku“, juga mengatakan “Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri“, dan kata-kata “Jika seandainya tidak ada angsa di rumah ini tentu kita kedatangan pencuri“, juga pada kata-kata seseorang kepada kawannya “Atas kehendak Allah dan kehendakmu“, dan pada kata-kata seseorang “Jika seandainya bukan karena Allah dan si fulan (tentu…)“, janganlah kamu tambahkan fulan padanya, semua itu syirik.”

Kata-kata “Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri” adalah syirik jika yang dilihat hanya sebab tanpa melihat kepada yang mengadakan sebab itu, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala atau seseorang bersandar kepada sebab dan lupa kepada siapa yang mengadakan sebab itu, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Namun, tidak termasuk syirik jika seseorang menyandarkan kepada sesuatu yang memang sebagai sebab berdasarkan dalil syar’i atau hissiy (inderawi) atau pun waqi’ (kenyataan), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Abu Thalib, “Jika seandainya bukan karena saya, tentu ia berada di lapisan neraka yang paling bawah.”

Demikian pula termasuk syirik; Meyakini ramalan bintang (zodiak), Melakukan pelet, sihir/santet, Membaca jampi-jampi syirik, Mengatakan bahwa hujan turun karena bintang ini dan itu, padahal hujan itu turun karena karunia Allah dan rahmat-Nya. Dan mengatakan “Hanya Allah dan kamu saja harapanku”, “Aku dalam lindungan Allah dan kamu”, “Dengan nama Allah dan nama fulan” dan kalimat lain yang terkesan menyamakan dengan Allah Ta’ala.

Perbedaan Syirik Akbar dengan Syirik Asghar adalah bahwa Syirik Akbar mengeluarkan seseorang dari Islam, sedangkan Syirik Asghar tidak. Syirik Akbar menghapuskan seluruh amal sedangkan Syirik Asghar tidak dan Syirik Akbar mengekalkan pelakunya di neraka bila pelakunya meninggal di atas perbuatan itu sedangkan Syirik Asghar tidak (yakni tahtal masyii’ah; jika Allah menghendaki, maka Dia akan menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuninya), kalau pun pelakunya disiksa, namun tidak kekal.

Bersikap adlillah kepada Allah dengan mentauhidkannya dalam segala i’tiqad, dan ibadah. Janganlah bersikap dzalim kepada Allah dengan menyekutukannya. Dan semoga Allah senantiasa mwlindungi kita dari berbuat dzalim kepada-Nya. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke