Alasan Wahabi Berkonspirasi Dengan Zionis Yahudi dan Kapitalis Nasrani

Upaya Abdul Wahab memurnikan tauhid umat Islam, yang dianggap telah terjerumus pada kesyirikan, dan mengembalikan ajaran umat Islam kepada al-Qur’an dan Sunnah, mendapat penolakan yang luar biasa dari berbagai kalangan di jazirah Arab. Bentuk penolakan umat saat itu terhadap dakwah Abdul Wahab adalah dia terusir berkali-kali dari berbagai wilayah di semenanjung Arab. Belakangan, Abdul Wahab harus tertolak dari keluarga besarnya, yang berhaluan Sunni. Dan juga harus terusir dari kampung halamannya sendiri, Uyainah, karena Abdul Wahab dengan paham takfirinya dianggap telah memecah belah umat Islam yang telah rukun saat itu. Di sinilah titik awal tertanamnya dendam kesumat dan rasa sakit hati Abdul Wahab terhadap bangsa Arab pada umumnya dan penduduk Uyainah pada khususnya. Rasa sakit hati dan kekecewaan yang pada akhirnya menghantarkan dia membangun konspirasi dengan kekuasaan klan Saud. Upaya dia membangun konspirasi dengan kekuasaan sangat masuk akal, sebab gerakan pemurnian tauhid menurut versinya sendiri lewat dakwah dan tarbiyah, dirasa tidak efektif hasilnya. Harapan Abdul Wahab atas konspirasi tersebut adalah manhaj takfirinya dapat dikembangkan bila dipaksakan kepada umat menggunakan kekuatan kekuasaan.

Di lain sisi, Mr. Hempher, yang sengaja mempertemukan Muhammad bin Abdul Wahab dengan Muhammad bin Saud sebagai imam Dir’iyyah yang memiliki ambisi besar menjadi penguasa di tanah Arab, merasa memiliki peluang untuk memanfaatkan legitimasi fatwa-fatwa ekstrem Muhammad bin Abdul Wahab untuk merebut tanah Arab dari kekuasaan khilafah Islamiyah Turki.

Mr. Hempher, agen rahasia yang ditugaskan oleh konspirasi Inggris Raya dan Yahudi, memanfaatkan rasa sakit hati Muhammad bin Abdul Wahab dan ambisi Muhammad bin Saud, untuk merongrong kekuasaan Ottoman yang dianggap sebagai penghalang bagi banyak kepentingan Barat (Zionis Israel dan Imperialis Barat), dengan membangun aliansi atau konspirasi pada tahun 1744. Berkat hasutan Mr. Hempher dan sokongan Inggris terhadap dua Muhammad tersebut, pada akhirnya tebentuklah kekuatan perang pada tahun 1774 untuk memulai ekspansi kekuasaan dengan merebut beberapa wilayah Arab hingga ke Damaskus. Kerajaan Saudi pertama, dengan ibu kotanya di Dir’iyyah dan berdiri pada tahun 1744, bermula dari aliansi dua Muhammad tersebut dan dibubarkan secara paksa oleh khilafah Islam Turki pada tahun 1818 M, yang ditandai dengan eksekusi imam terakhir kerajaan Saudi pertama Abdullah bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud beserta sebagian besar klan Saud oleh khilafah Islam Turki. Kerajaan Saudi kedua, dengan Riyadh sebagi ibu kotanya, dibangkitkan kembali oleh Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Saud pada tahun 1824, berkat dukungan kolonial Inggris, lagi-lagi dapat dibubarkan kembali oleh khilafah Islam Turki pada 1891. Klan Saudi diasingkan ke Kuwait pada tahun 1893. Pada tahun 1902, Abdul Aziz, klan Saud yang tersisa dari anak Abdurrahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Muhammad bi Saud, berhasil melakukan pemberontakan kepada khilafah Islam Turki, dengan ditandai terbunuhnya pemimpin Bani Rasyid sebagai penguasa perwakilan khilafah Islam Turki dan menduduki Riyadh. Peristiwa ini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Arab Saudi ketiga pada 1932 hingga sekarang.

Yang perlu dipahami oleh umat Islam tentang tujuan Inggris Raya yang membonceng kepentingan Yahudi adalah juga karena dendam dan sakit hati bangsa Yahudi dan Nasrani kepada Islam. Allah berfirman;

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 120)

Sepanjang sejarah lahirnya agama Islam, konspirasi demi konspirasi terus dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani. Konspirasi Yahudi dan Nashrani adalah perwujudan dendam mereka kepada umat Islam. Banyak sebab kenapa Yahudi dan Nasrani begitu menyimpan bara dendam kepada umat Islam, di antaranya;

Kebencian bangsa Yahudi terhadap Islam disebabkan bergantinya dominasi kelahiran para Nabi dari keturunan Yahudi kepada bangsa Arab, dengan diutusnya Muhammad sebagai Nabi penutup. Allah berfirman,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 89)

Di sisi lain, Yahudi hendak balas dendam kepada umat Islam, karena merasa tanah kelahirannya, Palestina, yang telah dijanjikan Allah kepada bangsa Yahudi, direbut kaum Muslimin, ketika kaum Muslimin dapat mengalahkan Byzantium dalam pertempuran Yarmuk pada tahun 636 Masehi. Saat itu, untuk yang kesekian kalinya, bangsa Yahudi mengalami tercerai berai (berdiaspora) ke penjuru belahan bumi tanpa sebuah negara, Allah berfirman,

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. (Surat Al-Ma’idah Ayat 26)

Walaupun mereka seringkali terusir, namun keyakinan mereka tetap bahwa Palestina pasti akan dapat direbut kembali, karena tanah Palestina memang telah dijanjikan Allah bagi bangsa Yahudi. Allah berfirman,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah dijanjikan Allah bagimu (Israel), dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. al-Ma’idah: 21)

Atas keyakinan tersebut, dan berkat lobi yang sangat panjang federasi Yahudi di seluruh dunia, dapat meyakinkan Imperialisme Barat yang dikomandani Inggris, untuk dapat mendukung Yahudi merebut kembali tanah airnya, Palestina. Maka, pada tanggal 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Britania Raya (Inggris), Arthur James Balfour, mendeklarasikan Piagam Balfour yang disetujui pada rapat kabinet Inggris pada tanggal 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis buat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina. Sekali lagi umat Islam pada umumnya dan bangsa-bangsa Arab pada khususnya mengalami penghianatan oleh persekongkolan zionis Israel, imperialis Barat dan klan Saud, yang dilegitimasi oleh fatwa-fatwa keagamaan; bid’ah, sesat, syirik, kurafat, dan takfiri dari Abdul Wahab, sebagai pembenaran di hadapan umat, agar tujuan konspirasi tersebut lebih leluasa dalam pencapaiannya.

Walaupun sebetulnya bangsa Nasrani tidak pernah senang dan rukun dengan bangsa Yahudi, dikarenakan di manapun Yahudi menetap, di sana pasti akan terjadi keonaran. Namun berkat kompensasi Yahudi, melalui penemuan senjata modern berbahan aseton oleh kimiawan Yahudi Dr. Chaim Weizmann, yang dipersembahkan kepada imperialis Inggris, maka menjadi kuatlah militer Inggris, yang berdampak pada kemenangan Inggris dan sekutu pada perang dunia pertama, sehingga menyebabkan runtuhnya khilafah Islam. Hal ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,

۞ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 82)

Dari deklarasi tersebut diambil beberapa langkah strategis untuk mendukung tujuan mereka, diantaranya;

  1. Langkah pertama melemahkan kedudukan khilafah Islam Turki di hadapan umat muslim sedunia dengan cara memisahkan (merebut) dua kota suci umat Islam (Mekkah dan Madinah) agar Imperialis Barat lebih mudah untuk menghancurkan dominasi khilafah Islam yang sah, Utsmaniyah, di penjuru dunia.
  2. Untuk mewujudkan niat tersebut dianggap perlu mencari mitra ambisius (penguasa Arab lokal) yang siap mendukung berdirinya Israel Raya dengan kompensasi akan diberikan kekuasaan di Hijaz bila bersedia melakukan perongrongan dan pemberontakan kepada Khilafah Islam Turki. Penawaran ini kemudian disambut dengan terbuka oleh kolaborasi dua kekuatan militer dan keagamaan: Abdul Aziz Ibu Saud sebagai kekuatan militer dan Abdul Wahab sebagai penyokong fatwa keagamaannya.

Deklarasi tersebut akhirnya membuahkan hasil, ketika pada tanggal 11 Desember 1917, Inggris di bawah pimpinan Jedral Edward Allenby, berhasil menduduki Palestina. Di sisi lain, di tengah berkecamuknya perang dunia ke-I, Pada tanggal 26 Desember 1915, Ibn Saud menyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibn Saud atas Nejd, Hasa, Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung di dalam keempat wilayah utama ini. Apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibn Saud. Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material bagi Ibn Saud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang £20. 000 begitu traktat ditandatangani. Selain itu, Ibn Saud menerima subsidi bulanan £5. 000 dan bantuan senjata yang akan dikirim secara teratur sampai tahun 1924.

Dokumen di atas menjelaskan: Sebagai imbalan bantuan dan pengakuan Inggris akan kekuasaannya, Ibn Saud menyatakan tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya. Ibn Saud juga tidak akan menyerang atau campur tangan di Kuwait, Bahrain, Qatar dan Oman – yang berada di bawah proteksi Inggris. Ibn Saud juga berjanji mendukung penuh berdirinya negara Yahudi di Palestina yang dibidani Inggris. Dan kerajaan Saudi berjanji akan berada pada barisan terdepan untuk menggembosi negara-negara Islam yang mencoba menghalang-halangi kepentingan Barat dan Yahudi di tanah Palestina. Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris di dalam politik Ibn Saud.

Atas dukungan penuh Inggris Raya, maka sedikit demi sedikit wilayah Hijaz dapat direbutnya, dan puncaknya adalah pada tahun 1924, dua tanah suci umat Islam sedunia yakni Mekkah dan Madinah, dapat direbut dari daulah khilafah Islam Turki. Dan pada tahun itu juga, khilafah Islamiyah Ottoman yang beribu kota di Turki, runtuh tidak tersisa berkat konspirasi kekuatan politik global yang memanfaatkan keekstreman doktrin bid’ah dan takfiri yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri firqah Salafi yang kemudian lebih dikenal dengan Wahabi.

Dalam bukunya Shafahat min Tarikh al-Jazirah halaman 240-248, DR. Muhammad Awadh al-Khathib memaparkan bukti-bukti konkret tentang terlalu tampaknya pembelaan Salafi dalam berbagai kasus terkait dengan kepentingan Inggris dan Yahudi kala itu. Salah satu indikasinya adalah, ketika dilangsungkan Kongres Dunia Islam pada 1926, para ulama dan utusan dari negara-negara dunia Islam mengusulkan untuk membersihkan kawasan Timur Tengah-seperti Palestina, Syiria, Irak, dan semenanjung Jazirah Arab-dari pengaruh asing, namun ulama Salafi menolak usulan negara-negara dunia Islam tersebut.

Perhatikan saja bagaimana fatwa keagamaan dari ulama-ulama Salafi seperti Albani digunakan untuk mendukung kepentingan imperialis Barat dan zionis Israel di Palestina. Dia mengeluarkan fatwa yang isinya mengharuskan warga muslim Palestina agar keluar dari negeri mereka dan mengosongkan tanah Palestina untuk orang-orang Yahudi. Dalam hal ini Albani mengatakan:

إِنَّ عَلَى الْفِلَسْطِيْنِيِّيْنَ أَنْ يُغَادِرُوْا بِلَادَهُمْ وَيَخْرُجُوْنَ إلَى بِلَادٍ أُخْرَى، وَإِنَّ كُلَّ مَنْ بَقِيَ فِى فِلَسْطِيْنَ مِنْهُمْ كَافِرٌ. (فتاوى الألبان جمع عكاشة عبد المنان، ص/18)

“Warga Muslim Palestina harus meninggalkan negerinya ke negeri lain, semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir.” (Fatawa al-Albani halaman 18)

Bukan suatu yang aneh, jika kaum Salafi dengan kerajaan Saudi Arabia sebagai kekuatan utamanya, selama ini bungkam seribu bahasa dengan keberadaan Yahudi di Palestina dengan segala kejahatan yang mereka lakukan terhadap umat Islam di negeri yang terampas dan terjajah itu. Faktanya, Ibnu Saud sudah terikat dan tersandra oleh traktat yang telah dibuatnya, sehingga tidak akan berani melawan konspirasi Inggris dan Yahudi di Palestina. Mereka juga sadar bahwa kerajaan Saudi merupakan negara bonus dari Barat karena jasa Saudi yang ikut membantu Barat meruntuhkan khilafah Islam Turki. Sejak awal, Salafi sudah mengamini ”penggadaian” negeri Palestina kepada Inggris, untuk kemudia diberikan kepada orang-orang Yahudi.

Dalam Muktamar al-Aqir tahun 1341 H di distrik Ahsaa, telah ditandatangani perjanjian resmi antara Salafi dengan pemerintah Inggris. Tertulis dalam kesepakatan itu, kalimat-kalimat yang ditorehkan oleh pemimpin Salafi:

“Aku berikrar dan mengakui seribu kali kepada Sir Percy Cox, wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keinginan Inggris sampai hari kiamat.” (Shafahat min Tarikh al-Jazirah)

Surat perjanjian itu ditandatangani oleh Raja Abdul Aziz. Selain itu, utusan Salafi juga datang menghadiri “Muktamar tentang tempat hijrah bangsa Yahudi ke Palestina”. Dalam muktamar itu, penasihat Salafi, Syaikh Abdullah Philippi (kolonel Jhon Philippi)—seorang orientalis penasihat kerajaan Saudi, yang juga bertugas sebagai guru politik bagi Raja Faishal ibnu Abdul Aziz sejak berusia 12 tahun—mengusulkan untuk memberikan Palestina kepada bangsa Yahudi dengan imbalan kemerdekaan bagi seluruh negara-negara Arab dari kekuasaan khilafah Islam Turki dan penjajahan bangsa Barat. Dalam muktamar tersebut, Salafi menyetujui kesepakatan rencana itu. Ini adalah pengakuan Jhon Philipi sendiri dalam bukunya “40 ‘Am fi Jazirah al-Arab”. Dengan runtuhnya khilafah Turki, Muhammad bin Saud merasa dendam klan Saudi telah terbayarkan.

Selain kepentingan Yahudi, juga ada kepentingan Nasrani (baca imperialis Barat) untuk balas dendam atas kekalahannya dalam Perang Salib terhadap umat Islam, sehingga untuk kesekian kalinya Palestina terlepas dari kekuasaan mereka. Kaum Nasrani merasa selama Daulah Islamiyah Turki mendominasi dunia, maka bangsa Barat merasa kepentingannya banyak terhambat, seperti kaum Nasrani kesulitan untuk berziarah ke tempat-tempat suci di Palestina. Di samping itu, selama dunia masih di bawah dominasi khilafah Islam, bangsa barat (Nasrani dan Yahudi) merasa terkucilkan, tidak berkembang, dan berada dalam masa kegelapan, karena terus menerus berada dalam tekanan Khilafah Islamiyah Turki.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka dijalinlah kerjasama dan konspirasi untuk meruntuhkan daulah Islamiyah, dengan menghancurkan dominasi daulah Islamiyah di seluruh dunia. Menggunakan teori masa kegelapan Eropa, ketika doktrin-doktrin Injili gereja Katolik mendominasi bangsa Eropa, maka saat itu Eropa benar-benar berada dalam keterpurukan dan mengalami keterbelakangan dalam segala sendi kehidupan. Menyadari akan hal itu (kefektifan doktrin sempit agama dipadukan dengan kekuasaan yang otoriter akan mampu membungkam kreatifitas umat), maka untuk membungkam umat, ditiru dan diadopsilah doktrin-doktrin Injili dan diterapkan kepada umat Islam. Konspirasi Barat melalui Mr. Hempher untuk menghasut dua Muhammad terebut terbukti mampu menciptakan masa kegelapan di dunia Islam hingga saat ini, dengan menumbuhkan doktrin-doktrin sempit keagamaan, seperti bid’ah, sesat, musyrik, kurafat, dan takfiri kepada umat. Doktrin-doktrin sempit keagamaan yang dikembangkan Abdul Wahab dan disokong penuh oleh kekuasaan kerajaan Saudi tersebut memang disengaja agar daya kritis, kreatif, dan inovatif dari umat Islam lemah atau bahkan hilang sama sekali. Bilamana umat Islam telah terjangkiti penyakit ketakutan dan bahkan terjebak saling menyesatkan, mensyirikkan, dan mengkafirkan, maka saat itulah dunia barat akan sangat leluasa untuk mengeksploitasi sumber daya alam milik umat Islam lewat dominasi imperialismenya, dan Yahudi juga dengan mudah merebut kembali Palestina sebagai tanah yang diyakini telah dijanjikan oleh Allah.

Sampai di sini ternyata umat Islam belum juga menyadari bahwa apa yang dialami umat Islam saat ini (kegelapan dan keterpurukan), merupakan hasil konspirasi jahat tersebut. Berkat doktrin-doktrin sempit agama; bid’ah, syirik, kurafat, sesat, dan takfiri, umat Islam sekarang benar-benar berada dalam masa kegelapan, sebagaimana masa kegelapan yang pernah menyelimuti bangsa barat karena doktrin-doktrin injili yang ditanamkan oleh dewan gereja saat itu.

Konspirasi demi konspirasi untuk memecah belah Islam dari dalam memang telah diisyaratkan oleh Nabi dalam sabdanya,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Nyaris bangsa-bangsa (kafir) memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk. ” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn. ” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati. ” (HR. Abu Daud No. 3745)

 

Dikutip dari buku;

“Menyoal Kehujjahan Hadits Bid’ah”

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Agar pemahaman Anda utuh terkait tidak berlakunya Hadits-hadits bertema bid’ah, maka dapatkan buku tersebut via WA: 081234013630

Bagikan Artikel Ini Ke