Bahayanya Mudah Mengkafirkan Muslim Lain

Sekali-kali tidak akan pernah seseorang masuk surga hanya gara-gara mengkafirkan orang lain. Sebab mengkafirkan, menuduh syirik, menuduh bid’ah, sesat, munafik, fasik, dzalim, dan lain sebagainya terhadap orang lain bukan merupakan amal shalih. Perlu diketahui bahwa penyebab seseorang masuk surga adalah keimanan terhadap Allah dan amal shalih yang dirasakan manfatnya bagi manusia dan alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Surat Al-Baqarah Ayat 82)

Ayat di atas diperkuat oleh riwayat hadits berikut,

“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani)

Sebaliknya orang-orang yang gegabah menuduh kafir menyebabkan dia akan masuk neraka, sebab tuduhan tersebut akan kembali pada dirinya bila tuduhannya tidak benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“dari [Abdullah bin Umar] radliallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya; “Wahai Kafir” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (Hadits Bukhari Nomor 5639)

Jangan mudah menuduh kafir pada orang lain, sebab tanda-tanda seseorang telah beriman manakala mulutnya tidak gegabah mengkafirkan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نُكَفِّرُهُ بِذَنْبٍ وَلَا نُخْرِجُهُ مِنْ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللَّهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ بِالْأَقْدَارِ

“Tiga perkara yang merupakan dasar keimanan, yaitu: menahan diri dari orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH, dan kita tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, serta tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan. Jihad tetap berjalan sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, hal itu tidaklah digugurkan oleh kelaliman orang yang lalim, serta keadilan orang yang adil, dan beriman kepada taqdir.” (Hadits Abu Daud Nomor 2170)

Di samping mengkafirkan orang lain merupakan tanda lemahnya iman seseorang, juga hukumnya dosa besar yang akan disiksa di neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ مِلَّةِ الْإِسْلَامِ فَهُوَ كَمَا قَالَ قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam, maka dia seperti yang dikatakannya, dan barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahannam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri, dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya, dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (Hadits Bukhari Nomor 6161)

Salah satu sifat Khawarij adalah berani menuduh orang lain bid’ah, sesat dan kafir terhadap orang lain di mana orang lain tersebut nyata-nyata masih bersyahadat dan masih mengerjakan ibadah, walaupun belum sempurna. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa.” (HR. Ath-Thabrani)

Mengkafirkan orang lain berasal dari hawa nafsu dalam menjalankan agama. Hawa nafsu mendorong seseorang merasa dirinya lebih suci dibandingkan orang lain. Mentang-mentang sudah rajin ibadah lalu menganggap orang lain tidak. Mentang-mentang dirinya berilmu lalu kemudian menganggap orang lain bodoh. Dan mentang-mentang sudah merasa telah mampu tidak melakukan kemaksiatan, dan merasa telah mampu menjauhi dosa kemudian menganggap dirinya sudah pasti suci dan sudah merasa berada dalam hidayah. Padahal pemikiran semacam itu sangat dikecam oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Surat An-Najm Ayat 32)

Jauhkan sikap sombong dengan menganggap diri kita telah suci. Hanya Allah yang tahu siapa dari hambanya yang suci dan maksum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kamu menganggap dirimu telah suci, Allah Ta’ala-lah yang lebih tahu siapa saja sesungguhnya orang yang baik atau suci di antara kamu.” (Hadits Muslim Nomor 3992)

Sikap merasa dirinya suci berdampak pada kecenderungan untuk menganggap orang lain kotor, hina, syirik, sesat, bid’ah dan lain sebagainya. Mereka golongan yang ekstrim mengaku paling ahli Qur’an dan Sunah, namun kenyataannya prilakunya sama sekali tidak sesuai dengan teladan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan mengkafirkan orang lain seseorang sedikitpun tidak akan mendapatkan pahala. Jangan mengira tuduhan-tuduhan kafir tersebut akan menambah pahala kita, sebab tuduhan tersebut bukanlah merupakan amal shalih dan bukanlah sesuatu anjuran. Bahkan para pelakunya dikecam Allah dan Nabi. Tuduhan kafir tersebut merupakan dosa besar yang menyebabkan masuk neraka. Di samping itu, tuduhan kafir itu menyebabkan rontoknya keimanan seseorang, sebagaimana keterangan pada hadits-hadits di atas. Bekal seseorang ke surga tiada lain selain keimanan, ketakwaan, amal shalih dan akhlaq yang mulia. Sedangkan jalan menuju siksa neraka manakala mulut dan kemaluannya dijadikan pintu kemungkaran dan kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1927)

Dengan begitu, salah sekali anggapan seseorang yang bersemangat dan mudah mengkafirkan dan menuduh orang lain munafik akan meningkatkan keimanan dan kesalihannya. Pelakunya tidak akan sedikitpun mendapatkan pahala dan keuntungan. Bahkan pelakunya akan dikecam dan dimasukkan ke dalam neraka. Sebab mulutnya telah menebar teror, permusuhan, dan perpecahan di dalam kalagan umat Islam. Islam yang sejati adalah manakala muslim lain selamat dari kekejian lisannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Muslim sejati adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan (kekejian fitnah) lisan dan (dari marabahaya) tangannya.” (Hadits Bukhari Nomor 6003 dan Hadits Muslim Nomor 58)

Janganlah mudah menghukumi muslim lain apapun kondisi mereka, sebab hal itu akan menyebabkan timbulnya permusuhan dan pertikaian antar sesama muslim. Di samping itu, bila kaum muslimin mudah mengkafirkan muslim lain akan memberikan celah dan peluang terhadap musuh-musuh Islam mudah mengadu domba umat Islam. Sebagaimana kenyataan sepanjang sejarah pertikaian dan kehancuran umat Islam disebabkan umat Islam sendiri mudah saling mengkafirkan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghindarkan fikiran, lisan, dan sikap kita kita dari sumber fitnah dan malapetaka sesama muslim dan sesama manusia. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke