Batasan Mengkafirkan Muslim Lain

Berbeda dengan pandangan Wahabi yang menganggap kafir terhadap kaum muslimin yang mencela para sahabat Nabi adalah pandangan golongan Ahlussunnah wal Jamaah atau lebih dikenal dengan golongan Sunni. Golongan ini bersikap tawassuth (pertengahan-moderat) dalam segala hal, termasuk dalam i’tiqadnya. Khusus terkait dengan keyakinan golongan Sunni terhadap golongan sikap, keyakinan, dan aqidah umat Islam lain yang dianggap sesat, menyimpang, dan menyeleweng seperti Syi’ah Rafidah yang membenci dan mencela para Sahabat Nabi tidaklah sampai memandang mereka sebagai kafir.

Golongan Sunni menganggap bahwa selama kaum muslimin, walaupun masih tersisa sedikit keimanan dalam hatinya adalah mereka tetap dihukumi mukmin dan muslim. Bukan hak manusia yang menghukumi seseorang kafir kecuali memang pelakunya mengikrarkan diri secara lisan dan tindakan sebagai orang kafir.

Sesesat apapun, semenyimpang apapun, semenyeleweng apapun, semungkar apapun, semaksiat apapun dari seorang muslim tetaplah dihukumi mukmin dan muslim. Golongan Sunni berlepas diri untuk menghukumi mereka kafir. Sebab yang berhak menghukumi kafir hanyalah Allah. Apalagi menghukumi seorang muslim sebagai kafir hanya berdasarkan persangkaan dzahir saja akan berdampak pada kembalinya hukum kafir bagi penuduhnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut.” (HR. Muslim No. 91)

Golongan Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah wal Maturidiyah merupakan golongan yang sangat toleran terhadap perbedaan yang terjadi di kalangan kaum muslimin. Golongan ini tidak sampai mengkafirkan golongan muslim lain meskipun mempunyai keyakinan yang sangat jauh berbeda. Ulama Sunni, Imam Ibnu Hajar al-Haitamy berpandangan bahwa;

والمختار الذي عليه جمهور المتكلمين والفقهاء: أنه لا يكفر أحدٌ من المخالفين في غير الضروري. والجهل به تعالى من بعض الوجوه غير مكفر، وليس أحدٌ من أهل القبلة يجهله تعالى إلا كذلك؛ فإنهم على اختلاف مذاهبهم اعترفوا بأنه تعالى قديمٌ أزليٌّ، عالمٌ قادر، موجدٌ لهذا العالَم

“Pendapat yang dipilih, yang diikuti oleh mayoritas ulama ahli kalam dan ahli fiqih, adalah bahwasanya tak seorang pun dari golongan luar dianggap kafir dalam hal selain yang sudah diketahui bersama (dlarûriy). Ketidaktahuan terhadap Allah Ta’ala dari satu sisi tidaklah membuat jadi kafir. Tak ada seorang pun dari ahli kiblat (orang-orang yang shalat) yang tidak mengetahui Allah kecuali dalam hal itu saja. Mereka semua, dalam berbagai mazhabnya, mengakui bahwa Allah Ta’ala Qadîm tanpa awal mula, Maha-Mengetahui, Maha-Berkuasa, Yang Mencipta alam dunia.” (Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fath al-Mubîn, halaman 164).

Sekeras apapun golongan Sunni menentang keyakinan golongan muslim lain seperti Muktazilah, golongan Sunni masih menganggap Muktazilah sebagai umat Islam yang beriman. Dalam hal ini Imam al-Ghazali berpandangan;

المعتزلة والمشبهة والفرق كلها سوى الفلاسفة، وهم الذين يصدقون ولا يجوزون الكذب لمصلحة وغير مصلحة، ولا يشتغلون بالتعليل لمصلحة الكذب بل بالتأويل ولكنهم مخطئون في التأويل، فهؤلاء أمرهم في محل الاجتهاد. والذي ينبغي أن يميل المحصل إليه الاحتراز من التكفير ما وجد إليه سبيلاً.

“Muktazilah, Musyabbihah, dan sekte-sekte lain seluruhnya selain penganut filsafat ketuhanan Yunani, mereka adalah orang yang membenarkan [risalah Nabi] dan tak menoleransi adanya kebohongan untuk alasan maslahat atau selain maslahat. Mereka tak menyibukkan diri untuk berapologi membela maslahat kebohongan melainkan mereka mentakwil. Akan tetapi mereka salah dalam takwilnya. Maka, mereka semua berada dalam ruang lingkup ijtihad. Yang selayaknya dilakukan oleh peneliti adalah menjauhi vonis kafir selama ada jalan untuk itu”. (al-Ghazali, al-Iqtishad fî al-I’tiqâd, 135)

Inilah sikap dan akidah golongan Sunni yang membedakan dengan golongan Islam lainnya. Golongan Sunni jauh dari sikap takfiri, mudah menuduh kafir pihak yang berbeda faham. Sedangkan golongan lain, khususnya golongan Wahabi yang marak akhir-akhir ini sudah nyata tak terbantahkan sebagai kaum takfiri, yakni kaum yang dengan serampangan mudah mengkafirkan golongan lain hanya persoalan perbedaan-perbedaan tafsirannya sendiri-sendiri. Merespon fenomena saling mengafirkan yang dilakukan oleh golongan selain Sunni ini, Ibnu Asakir mengatakan;

فَأَما الْأَصْحَاب فَإِنَّهُم مَعَ اخْتلَافهمْ فِي بعض الْمسَائِل مجمعون على ترك تَكْفِير بَعضهم بَعْضًا بِخِلَاف من عداهم من سَائِر الطوائف وَجَمِيع الْفرق فَإِنَّهُم حِين اخْتلفت بهم مستشنعات الْأَهْوَاء والطرق كفر بَعضهم بَعْضًا وَرَأى تبريه مِمَّن خَالفه فرضا وَظَهَرت مِنْهُم أَمَارَات المعاداة والتباغض كَمَا عرف من فرق الْمُعْتَزلَة والخوارج وَالرَّوَافِض وَمَا ذَلِك إِلَّا من أَمر الله عزوجل عَلَيْهِم وإحسانه فِي الائتلاف مَعَ وجود الِاخْتِلَاف إِلَيْهِم

“Adapun kawan-kawan kami (Asy’ariyah), meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah, mereka sepakat untuk meninggalkan saling vonis kafir. Berbeda dengan kelompok selain mereka dan sekte-sekte Islam, ketika mereka berbeda dalam hal pandangan dan metode yang dianggap buruk, maka mereka saling mengafirkan satu sama lain. Mereka menganggap berlepas diri dari dari orang selain kelompok mereka adalah wajib. Dari mereka nampak tanda-tanda permusuhan dan kemarahan seperti diketahui dari kelompok Muktazilah, Khawarij dan Syi’ah. Toleransi dalam Aswaja itu tak lain karena perintah dan kebaikan Allah ﷻ terhadap mereka agar tetap rukun dalam perbedaan.” (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, halaman 409).

Sikap Sunni Menghadapi Golongan Islam yang Sesat Aqidah dan Amaliyah

Cara yang dilakukan golongan Sunni menghadapi mereka yang aqidah dan amaliyahnya sesat dan menyimpang seperti penyimpangan golongan Syi;ah yang mencaci para sahabat Nabi di antaranya adalah cukup dididik dan dibina bilamana hanya terkait dengan celaan yang tidak berkaitan dengan i’tiqad. Namun bila celaan mereka terhadap para sahabat sampai menyentuh terkait perkara i’tiqad atau akidah, maka pelakunya layak untuk dita’zir atau dihukum saja. Tidak sampai dihukumi kafir.

Golongan Wahabi Menghukumi Kafir Terhadap Golongan Islam yang Berbeda Aqidah dan Amaliyahnya

Sudah jamak diketahui bahwa golongan Wahabi adalah golongan bermanhaj takfiri , yakni golongan yang paling getol dan bersemangat dalam mengkafirkan saudara-saudara muslim lainnya yang dianggap bukan dari golongannya, walaupun masih tersisa keimanan di dalam hatinya. Mereka dikafirkan oleh Wahabi disebabkan memiliki pemahaman yang berbeda dari golongannya sendiri. Sebagaimana golongan Wahabi menghukumi kafir atau mengkafirkan Syi’ah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah, dan bahkan Asy’ariyah sekalipun.

Disamping dengan berbagai macam argumentasi yang disodorkan Wahabi untuk mengkafirkan golongan Syi’ah. Mereka juga memelintir-melintir ayat untuk dijadikan dalil mendukung i’tiqad mereka. Salah satu ayat yang dijadikan dalil Wahabi untuk mengkafirkan Syi’ah adalah firman Allah berikut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Fath Ayat 29)

Wahabi menggunakan analogi dalam ayat tersebut untuk membenarkan i’tiqad mengkafirkan golongan Syi’ah; Tanaman yang menumbuhkan tunas dalam ayat tersebut ditafsiri sebagai para sahabat. Sedangkan orang-orang yang membenci tunas tersebut ditafsiri sebagai Syi’ah yang kafir sebab kejengkelannya terhadap tunas atau para sahabat. Disebabkan fakta bahwa Syi’ah Rafidah jengkel kepada sebagian sahabat Nabi, maka golongan Wahabi menjatuhkan vonis kafir kepada golongan Syi’ah menggunakan ayat tersebut sebagai dalil. Golongan Wahabi menambahkan bahwa siapapun yang membenci para sahabat Nabi dihukumi Kafir. Sebagaimana yang dikutip dari perkataan Imam Malik,

لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية

“Karena para sahabat membuat hari mereka jengkel. Dan siapa yang jengkel (murka) pada para sahabat, maka ia kafir berdasarkan ayat ini.”

Wahabi menganggap kebencian kepada Syiah didasarkan pada i’tiqad, bukan kebencian hanya sekedar marah biasa. Sehingga layak dihukumi kufur. Salah satu ulama terkemuka Wahabi, Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Larangan (mencela sahabat Nabi) ini menunjukkan konsekuensi hukum haram. Maka seseorang tidak boleh mencaci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam secara umum dan secara khusus personal mereka. Jika dia mencaci para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam secara umum maka ia telah kafir bahkan tidaklah diragukan kafirnya orang yang meragukan kekafiran orang yang semisal ini. Adapun jika ia mencaci salah seorang atau para sahabat secara personalnya maka dilihat apa yang menjadi faktor pendorongnya. Jika ia mencacinya karena alasan bentuk tubuhnya, tabiatnya atau agamanya maka masing-masing hal ini memiliki konsekuensi hukum tersendiri” (Disarikan dengan perubahan redaksi dari Syarh Aqidah Wasitiyah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 460, terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA.)

Ulama Wahabi lain, Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhailiy mengatakan, “Adapun masalah pengkafiran mereka (Syi’ah Rafidhah yang gemar mencaci maki para sahabat terutama Abu Bakar dan ‘Umar –red.) maka hal ini telah disebutkan Ibnu Taimiyah bahwa para ulama memiliki dua pendapat yang terkenal seputar pengkafiran mereka dan khawarij. Kemudian Ibnu Taimiyah mengatakan, “Yang benar bahwa pendapat-pendapat yang mereka katakan yang diketahui bahwa semua itu bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam merupakan kekufuran. Demikian juga tindakan-tindakan mereka yang merupakan jenis perbuatan orang-orang kuffar kepada kaum muslimin juga merupakan bentuk kekufuran….. Akan tetapi mengkafirkan individu tertentu dari mereka dan memberikan vonis kekal di neraka tergantung pada apakah telah benar-benar tegak pada mereka syarat-syarat pengkafiran dan tidak adanya faktor yang memalingkannya” (Lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Prof. DR. Ibrohim Ar Ruhailiy hal. 147/I terbitan Maktabah al Uluw wal Hikam, Madinah, KSA.)

Pandangan golongan Wahabi terkait penghinaan secara umum dihukumi kufur. Maksudnya adalah kaum muslimin yang menghina muslim lainnya saja dianggap tidak beriman, apalagi menghina para sahabat Nabi yang sangat beliau cintai. Pandangan Wahabi ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا الْلَعَّانِ وَلَا الْفَاحِش وَلَا الْبَذِى

“Bukanlah orang yang beriman orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat, orang yang fahisy (sengaja menambah kata-kata keji dan melakukan perbuatan keji) dan orang yang tidak punya malu” (HR. Ahmad no. 404/I, Tirmidzi dalam Kitab al Bir washilah Bab Maa Ja’a fil La’nah no. 1977, Ibnu Majah no. 192, al Hakim no. 12/I dan Al Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 312)

Hadits lain yang juga sering digunakan Wahabi untuk mengkufurkan golongan lain yang dianggap menghina para sahabat adalah hadits berikut; “Dari Barra’ radhiallahu anhu mengatakan, saya mendengar Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

“Kaum Anshar, tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafiq. Barangsiapa yang mencintai mereka Allah akan mencintainya dan siapa yang membenci mereka Allah pun akan membencinya”. (Hadits Bukhari Nomor 3499)

Golongan Wahabi berpandangan bahwa; Kalau keimanan terhapuskan bagi orang yang membenci Ansor dan bersemai pada dirinya kemunafikan, bagaimana bagi orang yang membenci Ansor dan Muhajiran serta para tabiin (para pengikut) mereka dengan baik, dengan mencela, melaknat dan menghukumi kafir kepada mereka. Menghukumi kafir bagi orang yang berwala dan ridha kepada mereka. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah? Tidak diragukan lagi mereka lebih layak dengan kekufuran dan kemunafikan dan tiadanya keimanan.

Ini adalah dasar yang agung, seharusnya seluruh umat Islam mengetahuinya. Yaitu mencintai dan memulyakan para shahabat. Karena hal itu termasuk keimanan. Dan membenci atau membenci salah satu diantara mereka termasuk kekufuran dan kenifakan. Karena mencintai mereka termasuk mencintai Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Dan membenci mereka termasuk membenci Nabi sallallahu alaihi wa sallam.” (Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyah)

Secara global golongan yang mencela, ada yang tidak diragukan kekufurannya, di antara mereka ada yang tidak dihukumi kafir dan di antara mereka ada yang masih diragukan. (As-Sharimul Maslul Ala Syatimir Rasul, hal. 590-591).

Adanya keragu-raguan seperti yang kami sebutkan, karena siapa yang mencela kepribadian orang tertentu terkadang karena urusan pribadi dengannya. Boleh jadi karena marah kepada seseorang  karena urusan dunia atau semisal itu, hal ini tidak termasuk kekufuran. Tetapi, tidak diragukan apabila dia membenci salah satu dari keduanya karena menjadi sahabat (Nabi) maka dia Kafir. Bahkan (walaupun derajatnya) lebih rendah dari keduanya (Abu Bakar dan Umar), lalu seseorang membencinya karena dia sebagai sahabat, maka dia pasti kafir. (Fatawa As-Subki, /575).

Berdasarkan literatur-literatur otentik dari ulama-ulama Wahabi di atas tersebut, sudah sangat jelas sekali akidah mereka bahwa siapapun yang menghina dan mencela para sahabat Nabi dihukumi zindik dan kafir. Inilah fakta bahwa golongan Wahabi adalah golongan takfiri, yakni golongan yang berpandangan bahwa siapapun dari kaum muslimin yang berbeda pemahamannya dengan pemahaman Wahabi adalah kafir.

Bahayanya Mudah Mengkafirkan Muslim Lain

Sekali-kali tidak akan pernah seseorang masuk surga hanya gara-gara mengkafirkan orang lain. Sebab mengkafirkan, menuduh syirik, menuduh bid’ah, sesat, munafik, fasik, dzalim, dan lain sebagainya terhadap orang lain bukan merupakan amal shalih. Perlu diketahui bahwa penyebab seseorang masuk surga adalah keimanan terhadap Allah dan amal shalih yang dirasakan manfatnya bagi manusia dan alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Surat Al-Baqarah Ayat 82)

Ayat di atas diperkuat oleh riwayat hadits berikut,

“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani)

Sebaliknya orang-orang yang gegabah menuduh kafir menyebabkan dia akan masuk neraka, sebab tuduhan tersebut akan kembali pada dirinya bila tuduhannya tidak benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“dari [Abdullah bin Umar] radliallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya; “Wahai Kafir” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (Hadits Bukhari Nomor 5639)

Jangan mudah menuduh kafir pada orang lain, sebab tanda-tanda seseorang telah beriman manakala mulutnya tidak gegabah mengkafirkan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نُكَفِّرُهُ بِذَنْبٍ وَلَا نُخْرِجُهُ مِنْ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللَّهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ بِالْأَقْدَارِ

“Tiga perkara yang merupakan dasar keimanan, yaitu: menahan diri dari orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH, dan kita tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, serta tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan. Jihad tetap berjalan sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, hal itu tidaklah digugurkan oleh kelaliman orang yang lalim, serta keadilan orang yang adil, dan beriman kepada taqdir.” (Hadits Abu Daud Nomor 2170)

Di samping mengkafirkan orang lain merupakan tanda lemahnya iman seseorang, juga hukumnya dosa besar yang akan disiksa di neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ مِلَّةِ الْإِسْلَامِ فَهُوَ كَمَا قَالَ قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam, maka dia seperti yang dikatakannya, dan barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahannam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri, dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya, dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (Hadits Bukhari Nomor 6161)

Salah satu sifat Khawarij adalah berani menuduh orang lain bid’ah, sesat dan kafir terhadap orang lain di mana orang lain tersebut nyata-nyata masih bersyahadat dan masih mengerjakan ibadah, walaupun belum sempurna. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa.” (HR. Ath-Thabrani)

Mengkafirkan orang lain berasal dari hawa nafsu dalam menjalankan agama. Hawa nafsu mendorong seseorang merasa dirinya lebih suci dibandingkan orang lain. Mentang-mentang sudah rajin ibadah lalu menganggap orang lain tidak. Mentang-mentang dirinya berilmu lalu kemudian menganggap orang lain bodoh. Dan mentang-mentang sudah merasa telah mampu tidak melakukan kemaksiatan, dan merasa telah mampu menjauhi dosa kemudian menganggap dirinya sudah pasti suci dan sudah merasa berada dalam hidayah. Padahal pemikiran semacam itu sangat dikecam oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Surat An-Najm Ayat 32)

Jauhkan sikap sombong dengan menganggap diri kita telah suci. Hanya Allah yang tahu siapa dari hambanya yang suci dan maksum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kamu menganggap dirimu telah suci, Allah Ta’ala-lah yang lebih tahu siapa saja sesungguhnya orang yang baik atau suci di antara kamu.” (Hadits Muslim Nomor 3992)

Sikap merasa dirinya suci berdampak pada kecenderungan untuk menganggap orang lain kotor, hina, syirik, sesat, bid’ah dan lain sebagainya. Mereka golongan yang ekstrim mengaku paling ahli Qur’an dan Sunah, namun kenyataannya prilakunya sama sekali tidak sesuai dengan teladan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan mengkafirkan orang lain seseorang sedikitpun tidak akan mendapatkan pahala. Jangan mengira tuduhan-tuduhan kafir tersebut akan menambah pahala kita, sebab tuduhan tersebut bukanlah merupakan amal shalih dan bukanlah sesuatu anjuran. Bahkan para pelakunya dikecam Allah dan Nabi. Tuduhan kafir tersebut merupakan dosa besar yang menyebabkan masuk neraka. Di samping itu, tuduhan kafir itu menyebabkan rontoknya keimanan seseorang, sebagaimana keterangan pada hadits-hadits di atas. Bekal seseorang ke surga tiada lain selain keimanan, ketakwaan, amal shalih dan akhlaq yang mulia. Sedangkan jalan menuju siksa neraka manakala mulut dan kemaluannya dijadikan pintu kemungkaran dan kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1927)

Dengan begitu, salah sekali anggapan seseorang yang bersemangat dan mudah mengkafirkan dan menuduh orang lain munafik akan meningkatkan keimanan dan kesalihannya. Pelakunya tidak akan sedikitpun mendapatkan pahala dan keuntungan. Bahkan pelakunya akan dikecam dan dimasukkan ke dalam neraka. Sebab mulutnya telah menebar teror, permusuhan, dan perpecahan di dalam kalagan umat Islam. Islam yang sejati adalah manakala muslim lain selamat dari kekejian lisannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Muslim sejati adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan (kekejian fitnah) lisan dan (dari marabahaya) tangannya.” (Hadits Bukhari Nomor 6003 dan Hadits Muslim Nomor 58)

Janganlah mudah menghukumi muslim lain apapun kondisi mereka, sebab hal itu akan menyebabkan timbulnya permusuhan dan pertikaian antar sesama muslim. Di samping itu, bila kaum muslimin mudah mengkafirkan muslim lain akan memberikan celah dan peluang terhadap musuh-musuh Islam mudah mengadu domba umat Islam. Sebagaimana kenyataan sepanjang sejarah pertikaian dan kehancuran umat Islam disebabkan umat Islam sendiri mudah saling mengkafirkan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghindarkan fikiran, lisan, dan sikap kita kita dari sumber fitnah dan malapetaka sesama muslim dan sesama manusia. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke