Bentuk dan Posisi Telapak Kaki Kanan Saat Tasyahud Awal dalam Shalat

Bentuk dan posisi telapak kaki kanan saat tasyahud awal dalam shalat adalah ditegakkan dengan jari-jarinya ditekuk ke lantai. Sedangkan bentuk dan posisi telapak kaki kiri diletakkan dan dibentangkan di bawah pantat atau diduduki pantat. Sebagaimana hadits yang riwayatkan dari Abdullah bin Zubair radliallahu ‘anhu, dia berkata,

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى تَحْتَ فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ وَأَرَانَا عَبْدُ الْوَاحِدِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

“dari ayahnya dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dalam shalat, beliau meletakkan (membentangkan) telapak kaki kirinya di bawah paha dan betis kanannya (iftirasy), dan menghamparkan (menegakkan) telapak kaki kanannya serta meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan meletakkan tangan kanan di atas paha kanan sambil menunjuk dengan jarinya.” Abdul Wahid memperlihatkan kepada kami sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.” (HR. Abu Dawud Dawud, 3/172)

Duduk seperti yang digambarkan pada hadits tersebut di atas adalah duduk iftirasy. Duduk iftirasy adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri kemudian menduduki kaki kiri tersebut. Duduk iftirasy sebagaimana yang sering kita lakukan pada tasyahud awwal dan duduk antara dua sujud. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, Al Maktabah At Taufiqiyah, 1/347).

Dengan kata lain duduk iftirasy adalah duduk diatas kaki kiri sedangkan kaki kanan ditegakan (duduk santai). Duduk ini biasanya dilakukan ketika tasyahhud awal, duduk di antara dua sujud, dan duduk istirahat. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

”Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 828)

Iftirasy Disunnahkan Pada Tasyahud Awal

Jumhur ulama fikih berpendapat bahwa pada tasyahud awal disunnahkan untuk duduk iftirasy. Sedangkan pada tasyahud akhir yang disunnahkan adalah duduk tawaruk. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 14/148)

Perbedaan Laki-laki dengan Perempuan

Madzhab Hanafi membedakan, yakni duduk iftirasy disunnahkan bagi laki-laki, baik di tasyahud awal ataupun di tasyahud akhir. Sedangkan duduk tawaruk disunnahkan bagi perempuan, baik di tasyahud awal ataupun tasyahud akhir.

Madzhab Hanbali berpandangan bahwa duduk iftirasy pada tasyahud awal disunnahkan bagi laki-laki, ketika pada tasyahud akhir disunnahkan dengan duduk tawaruk. Sedangkan bagi perempuan bebas untuk memilih, mau bersila, atau seperti tawaruk tapi kaki kanan dihamparkan ke arah kanan sebagaimana kaki kiri, sebagaimana biasa dilakukan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha. (Ibnu Abidin, 1/321, 341, Al-Qawanin al-Fiqhiyah, 69)

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke