Boleh Hukumnya Mencoba Mengamalkan Semua yang Pernah Nabi Ajarkan”

Variasi ajaran dalam agama Islam itu bukan perbedaan, namun pilihan sebagai bentuk kemurahan agama untuk mempermudah umatnya.

Seringkali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mencontohkan secara langsung variasi sebuah amalan atau ibadah yang dapat kita pilih untuk kita amalkan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan variasi sebuah amalan atau ibadah, bukan berarti apa yang dilakukan Nabi tersebut merupakan perbedaan dan saling bertentangan.

Melainkan sengaja Nabi melakukan hal tersebut sebagai bentuk kemurahan agama dan menunjukkan bahwa Islam tersebut merupakan agama yang mudah dan mempermudah. Variasi yang dicontohkan Nabi tersebut bertujuan agar umatnya dapat memilih amalan-amalan yang diingininya dan yang dianggap sesuai dengan keadaan dirinya.

Baca juga; Islam Itu Mudah

Namun sebagai umat Islam yang bijak bilamana menjumpai dalam syariat agama Islam terdapat banyak bentuk ajarannya, hal tersebut bukanlah bentuk perbedaan yang patut dipertentangkan dan diperdebatkan, namun sebaiknya sebagai umat yang bijak cukup memilih atau mengamalkan secara bergiliran sebagai bentuk ingin mengamalkan semuah sunnah yang pernah dicontohkan oleh Nabi kepada umatnya.

Sikap terbaik menghadapi perbedaan syariat yang diajarkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah mengamalkannya secara bergantian dan bergiliran, selama itu masih memiliki dasar hukumnya. Misalnya pada saat shalat Subuh kita membaca bersedekap dengan tangan di antara dada dan pusar, ketika shalat Dzuhur bersedekap di bawah puasr, dan seterusnya. Misalnya pada kesempatan lain kita mencoba merasakan pada saat shalat Subuh kita membaca doa sujud dari riwayat hadits yang satu, ketika shalat Dzuhur membaca doa sujud dari riwayat hadits yang lainnya, dan seterusnya.

Jangan alergi untuk mencoba mengamalkan semua yang pernah dicontohkan oleh Nabi walaupun nanti akan dituduh mencampur adukkan atau talfiq dalam madzhab. Memang pilihan yang sulit, namun dari semua pilihan sulit yang ada menurut hemat kami lebih baik memilih untuk mencoba mengamalkan semua apa yang pernah diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, selama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengamalkan. Daripada tidak bersikap seperti ini malah terjebak dan terjerumus pada sikap untuk bersikukuh dengan satu amalan saja namun malah menyebabkan diri kita bersikap ekstrim sehingga akan mudah menuduh amalan orang lain yang berbeda kita anggap bid’ah dan sesat. Pemahaman ini sangat sesuai dengan kaidah fikih berikut,

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

Sebab menjaga kerukunan dan ukhuwah Islamiyah lebih diutamakan daripada memaksakan untuk sama dalam segala hal, namun akhirnya beresiko pada sikap memaksakan kehendak pada orang lain. Padahal tidak ada paksaan dalam menjalankan agama atau tidak ada paksaan dalam mengamalkan salah satu ajaran yang telah disediakan variasinya oleh agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al Baqarah: 256)

Prinsip di atas disebutkan pula dalam ayat lain,

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84)

Bersikap beradab lebih penting daripada bersikukuh mengamalkan ilmu malah terjebak pada pertikaian. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَيَسِّرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدَّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada seorangpun yang bersikap keras terhadap agama melainkan dia akan terkalahkan, maka bersikaplah lurus, dan bersikaplah sederhana, berilah kabar gembira, berilah kemudahan, dan mintalah pertolongan pada saat pagi hari dan sore hari dan sedikit dari waktu malam.” (HR. Nasa’i No. 4948)

Kenapa kita sebagai hamba malah lebih memaksa dari pada Allah sebagai Tuhan. Kenapa kita memaksa untuk semua harus sama, padahal Allah sendiri menciptakan perbedaan bagi umat manusia dan kehidupan. Kenapa kita sulit menerima sedangkan Allah sendiri mengatakan bahwa perbedaan itu fitrah kehidupan.

Pasti ada hikmah dari ketika Allah telah memutuskan perbedaan pada umat manusia, walaupun hal itu sulit difahami oleh manusia. Dari perbedaan maka akan muncul usaha untuk saling memahami. Dari usaha untuk memahami maka akan muncul saling menyayangi, kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْد اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dengan membiarkan umat Islam memilih mengamalkan semua variasi yang pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka akan tumbuh rasa saling toleransi sehingga menjauhkan kita dari sikap permusuhan dan pertikaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

Sesungguhnya menjalankan ajaran agama itu mudah, maka jangan mempersulit diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sama sekali tidak seseorang berlaku keras dalam agama kecuali akan terkalahkan.” (HR. Bukhari)

Karena Islam itu agama yang mudah, maka kerjakan dan bertakwalah sesuai dengan kemampuan dan keadaan kita masing-masing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah pada Allah semampu kalian” (QS. At Taghobun: 16)

Islam merupakan agama yang dicintai Allah dibanding dengan agama sebelumnya, karena dalam Islam Allah memerintahkan kepada hambanya untuk bersikap toleran terhadap apapun, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

حَدَّثَنِي يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, kemudian beliau menjawab: al-Hanifiyyah al-Samhah (agama lurus yang penuh toleransi). (HR. Ahmad Nomor 2003. kitab min musnad bani hasyim bab bidayah sanad Abdullah ibn ‘Abbas)

Dengan saling toleransi maka akan tumbuh perdamaian walaupun dengan segala perbedaan yang dimiliki umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S.Al-Hujurat ayat 10)

Baca juga; Toleransi Antar Umat Beragama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 103)

Pada akhirnya, bila kita bersikap untuk mencoba rasanya mengamalkan semua apa yang pernah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perlu mempersoalkan orang lain memilih amalan yang berbeda dari apa yang kita yakini dan apa yang kita amalkan. Sehingga kita akan mendapatkan semua pahala karena pernah mengamalkan semua sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Sehingga ajaran dan syariat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan tetap lestari.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

 

Pembahasan yang senada;

Manhaj Utama Golongan Sunni dalam Menjalankan Ajaran Agama Islam

Menghargai Perbedaan Lebih Utama Demi Menjaga Kerukunan Umat Islam dan Umat Beragama

Perbedaan Bukan untuk Dipertentangkan, Namun untuk Kemudahan Manusia

Bertakwa dan Menjalankan Ajaran Agama Islam Sesuai Kemampuan Kita

Tidak Ada Paksaan Dalam Mengamalkan Variasi Ajaran Agama Islam

Hukum Talfiq atau Mencampur Adukkan Ajaran Islam dalam Pengamalannya

Coba Saja Semua Apa yang Pernah Nabi Ajarkan

Bagikan Artikel Ini Ke