Cara Menghadapi Mereka yang Dzalim dan Jahat

Tidak jarang dalam menjalani kehidupan seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Terkadang kita sudah merasa berbuat terlalu baik kepada orang lain, baik kepada saudara, tetangga, atau teman dan sahabat. Namun ibarat apa kata pepatah “kacang lupa pada kulitnya” atau “habis manis sepah dibuang”.

Dalam situasi seperti itu tidak jarang mendorong sisi terdalam seorang manusia untuk melaknat, mengutuk, atau mendoakan keburukan kepada mereka. Sebetulnya, dorongan emosional tersebut sifatnya sangat manusiawi. Bagaimana tidak jengkel manakala kita merasa telah berbuat baik namun faktanya kita mendapatkan balasan buruk dan merasa terdzalimi.

Ketahuilah bahwa walaupun mencaci, memaki, atau bahkan melaknat sekalipun merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Namun ternyata sikap tersebut tidaklah membuat seseorang menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahkan di hadapan manusia.

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap seseorang bilamana merasa terdzalimi? Bila kita mengaku sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah selayaknya kita berupaya meniru kemuliaan akhlaqnya. Sedangkan akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tidak membalas keburukan dan apalagi melaknat mereka yang telah berbuat kedzaliman kepada dirinya walaupun beliau punya kesempatan untuk membalasnya. Bukan hanya itu, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan dan hidayah kepada para musuh-musuhnya. Hal ini banyak terekam dalam riwayat hadits. Di antaranya adalah;

قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

“Thufail bin ‘Amru datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan (melaksanakan perintah), maka do’akanlah supaya mereka binasa.” Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendo’akan (melaknat) kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda: ‘Ya Allah, berilah petunjuk (hidayah) kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’ (Hadits Bukhari Nomor 5918)

Dalam situasi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali tidak membalas dan mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang mendzaliminya. Sungguh mulia akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka yang mendzaliminya tetap didoakan yang terbaik. Sebagaimana terekam dalam sebuah hadits berikut;

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril q , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR. Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)

Sungguh teladan yang sangat mulia ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya, beliau malah mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Walaupun orang lain telah berbuat jahat dan dzalim kepada kita, namun tidak selayaknya kita membalas dengan keburukan yang sama, sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Doa terbaik menghadapi orang lain yang jahat dan dzalim adalah mengharap hidayah dari Allah semoga pelaku kejahatan dan kedzaliman segera tobat dan menyadarinya.

Janganlah mudah melaknat, sebab nasib buruk akan menimpa seseorang yang mudah melaknat. Jadi hindari kebiasaan melaknat walaupun terhadap pelaku kemaksiatan, pelaku mungkar, kejahatan, orang kafir, orang dzalim, kepada para penguasa walaupun dzalim, atau bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencaci orang yang telah meninggal, sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan (pembalasan amal).” (Hadits Darimi Nomor 2399)

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya. Beliau berkata;

واحذر – أن تدعو على نفسك أو على ولدك أو على مالك أو على احد من المسلمين وإن ظلمك,  فإن من دعا على من ظلمه فقد انتصر. وفي الخبر “لا تدعوا على انفسكم ولا على أولادكم ولا على اموالكم لاتوافقوا من الله ساعة إجابة”.

“Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat; Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, hal. 141).

Seorang pelaknat akan dijauhkan dari mendapatkan pertolongan dan juga memberikan pertolongan kelak di akhiratnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada’ (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa’at pada hari kiamat kelak.'” (Hadits Muslim Nomor 4703)

Sekali laknat terlontar dari lisan seseorang, pantangan baginya tidak menemukan sasaran korbannya. Bilamana ternyata seseorang yang dilaknat tidak sesuai dengan tuduhannya, niscaya laknat tersebut akan kembali menghancurkan dirinya sendiri alias menjadi bumerang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا

“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (Hadits Abu Daud Nomor 4259)

Melaknat dan mengutuk hakikatnya adalah mendoakan keburukan kepada orang lain. Sedangkan hukumnya adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma para Ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Mendoakan keburukan kepada makhluq hidup atau benda mati, kepada orang lain atau diri sendiri, pada siapa pun atau apa pun dari kaum muslimin agar tertimpa suatu bencana dan berharap mendapat celaka sangat dilarang sekalipun mereka telah bersikap dzalim kepada kita. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah (laknatlah) untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'” (Hadits Muslim Nomor 4704)

Sekalipun orang lain telah berbuat kedzaliman kepada kita, membalas laknat dengan mendoakan berharap orang lain agar tertimpa suatu bencana atau musibah sangat tidak dianjurkan. Hindari melaknat sebisa mungkin agar tidak berbalik keburukannya menimpa kita. Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak mendoakan keburukan bagi orang lain.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke