Dalil Kewajiban Niat Saat Shalat”

Berbeda dengan madzhab Hanafi, Maliki, dan Manbali yang menganggap niat merupakan syarat sah shalat. Madzhab Syafi’i berpandangan bahwa niat merupakan rukun shalat. Jadi, karena niat sebagai rukun shalat maka letak niat di dalam hati saat takbiratul ihram. Maka tidak sah bagi mereka yang shalat tanpa adanya niat. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Umar bin Al Khaththab di atas mimbar berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1, dan Muslim Nomor 3530)

Shalat diawali dengan niat di dalam hati, dan boleh dibantu dengan pelafalan lisan. Sah tidaknya sebuah amal tergantung pada niatnya. Fungsi niat adalah membedakan antara suatu amal biasa dengan amal ibadah, juga untuk membedakan jenis ibadah yang satu dengan jenis ibadah yang lainnya.

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke