Etika atau Adab Saat Marah

Ada sebuah kata mutiara dari sahabat Ali bin Abi Thalib yang sering kita dengarkan,

“Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembira”

Walaupun marah itu dibenarkan, namun ada beberap pesan Nabi yang penting untuk diamalkan. Yaitu, jangan memutuskan perkara dalam keadaan marah. Hal ini tidakklah aneh sebab kecenderungan manusia saat dikendalikan oleh rasa marah akan kehilangan keadilan dan kebijaksanaannya. Agar kita tidak menyesal dari dampak dari tindakan dan keputusan kita yang ditimbulkan saat kemarahan memuncak, maka jangan memutuskan sesuatu saat kita sedang dalam pengaruh rasa amarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ أَبُو بَكْرَةَ إِلَى ابْنِهِ وَكَانَ بِسِجِسْتَانَ بِأَنْ لَا تَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

“[Abu Bakrah] menulis surat untuk anaknya yang ketika itu berada di Sijistan yang isinya; ‘Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.” (Hadits Bukhari Nomor 6625)

Di antara etika marah adalah meminta maaf setelah kita meluapkan rasa marah walaupun tidak ada keburukan yang ditimbulkan dalam kemarahan tersebut. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

كَانَ حُذَيْفَةُ بِالْمَدَائِنِ فَكَانَ يَذْكُرُ أَشْيَاءَ قَالَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ حُذَيْفَةُ إِلَى سَلْمَانَ فَيَقُولُ سَلْمَانُ يَا حُذَيْفَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْضَبُ فَيَقُولُ وَيَرْضَى وَيَقُولُ لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ سَبَّةً فِي غَضَبِي أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ فَاجْعَلْهَا صَلَاةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Hudzaifah berada di Mada`in, ia menyebut banyak hal yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Hudzaifah mendatangi Salman lalu [Salman] berkata: Hai Hudzaifah! Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu kadang marah lalu bersabda, kadang senang lalu bersabda, aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah lalu bersabda: “Siapa saja dari ummatku yang aku cela saat aku marah atau aku laknat, sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, aku marah seperti halnya kalian marah, sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam maka jadikanlah itu sebagai doa baginya pada hari kiamat.” (Hadits Ahmad Nomor 22593)

Bukan hanya meminta maaf dari pihak yang marah, namun bagi yang mengalami telah dimarahi oleh orang lain akan menjadi pahala bila ikhlas memaafkannya. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Surat Asy-Syura Ayat 37)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke