Hukum Duduk Tasyahud Awal Hanyalah Sunnah, Bukan Wajib

Disyariatkan untuk duduk tasyahud awal dan dzikir tasyahud pada rakaat kedua, setelah sujud kedua. Jumhur ulama sperti Imam Hanaifi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanabilah telah bersepakat bahwa Syariat ini hukumnya sunnah. Hal ini berdasarkan pada perbuatan yang pernah dicontohkan oleh Nabi dalam riwayat berikut ini,

فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ، وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ

“Jika kamu duduk di tengah shalat (tasyahud awal), duduklah dengan tumakninah, bentangkan pahamu yang kiri, kemudian baca tasyahud.” (HR. Abu Daud)

Didukung juga hadis dari Rifa’ah bin Rafi radhiallahu’anhu,

إذا أنتَ قُمْتَ في صلاتِكَ، فكبِّرِ اللهَ تعالى، ثم اقرَأْ ما تيسَّرَ عليك مِن القُرآنِ، وقال فيه: فإذا جلَسْتَ في وسَطِ الصَّلاةِ، فاطمئِنَّ وافتَرِشْ فخِذَك اليُسرى، ثم تشهَّدْ، ثم إذا قُمْتَ فمِثْلَ ذلك حتَّى تفرُغَ مِن صلاتِكَ

“Jika engkau berdiri untuk salat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang engkau mampu”. Kemudian Nabi juga bersabda di dalamnya: “jika engkau duduk di tengah salat, maka duduklah dengan tuma’ninah dan bentangkanlah pahamu yang sebelah kiri, kemudian tasyahudlah. Kemudian jika engkau berdiri lagi (untuk rakaat ke-3) maka semisal itu juga sampai selesai salat.” (HR. Abu Daud no. 860)

Namun terdapat perbedaan dalam level kesunnahan, sebagaimana yang diutarakan oleh Imam Syafi’i bahwa syariat ini hukumnya sunnah ab’ad, yakni mendekati wajib, bila ditinggalkan maka diganti sujud syahwi. Dalil kesunnahan duduk tasyahud awal dan dzikir tasyahud pada rakaat kedua adalah dari Abdullah bin Buhainah radliallahu ‘anhu ia mengatakan,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم صلَّى بهم الظُّهرَ، فقام في الرَّكعتينِ الأُوليَيْنِ، لم يجلِسْ، فقام النَّاسُ معه، حتَّى إذا قضى الصَّلاةَ، وانتظَرَ النَّاسُ تسليمَه،كبَّرَ وهو جالسٌ، فسجَد سجدتينِ قبْلَ أنْ يُسلِّمَ، ثم سلَّمَ

“Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengimami para sahabat. Beliau salat di dua rakaat pertama tanpa duduk (tasyahud awal). Maka orang-orang pun ikut berdiri (tidak tasyahud awal). Sampai ketika salat hampir selesai, orang-orang menunggu beliau salam, namun ternyata beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sujud sebelum salam. Kemudian setelah itu baru salam“ (HR. Bukhari no. 829, dan Muslim no. 570)

Hadis tersebut menujukkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam manakala lupa mengerjakan tasyahud awal menggantinya dengan sujud sahwi. Namun begitu hadits tersebut tidak berarti menunjukkan hukum duduk tasyahud awal hukumnya wajib, namun hanya sunah belaka. Sebab para ulama madzhab telah bersepakat bahwa duduk tasyahud awal hukumnya hanya sunah.

Kenapa duduk tasyahud awal hukumnya hanya sunnah belaka, sebab dalam hadits tersebut ketika duduk tasyahud awal tidak dikerjakan shalatnya tetap sah dan tidak perlu menambah satu rakaat lagi, namun cukup diganti dengan sujud syahwi. Berbeda bila seseorang melupakan atau tidak mengerjakan sejenis perbuatan yang tergolong rukun seperti bacaan Al-Fatihah, maka bila ingat kembali maka wajib segera kepada posisi awal di mana dia lupa untuk membaca surat Al-Fatihah. Atau bila teringat di penghujung shalat maka wajib menambah satu rakaat sebagai pengganti rakaat yang telah rusak sebab tidak ada bacaan surat Al-Fatihahnya. Berdasarkan hadits berikut,

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits berikut,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah).” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 714, Muslim Nomor 597, dan Ahmad Nomor 21621)

Namun berbeda dengan tasyahud awal, perbuatan ini dihukumi sunnah sebab berdasarkan hadits di atas nabi tidak memerintahkan, melakukan, atau mengulang shalatnya untuk duduk tasyahud awal, namun cukup dengan sujud syahwi. Kalau memang Nabi menganggap sujud syahwi itu wajib atau dianggap rukun shalat, tentunya Nabi memperbaiki shalatnya dengan mengulang atau menambah rakaat untuk melakukan rukun yang terlupakan tersebut. Dalam Khasyiyah Syarqawi dijelaskan,

فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره أى الفرض وهو فى الصلاة أتى به وتمت صلاته أو ذكره بعد السلام والزمان قريب أتى به وبنى عليه ما بقىي من الصلاة وسجد السهو

Bahwa fardhu (rukun) tidaklah dapat diganti dengan sujud sahwi, bahkan jika diingatnya fardhu itu, sedang ia masih dalam shalat. Hendaklah disempurnakan shalatnya itu. Atau jika ingatan itu datang beberapa waktu (dekat) setelah shalat usai, maka segeralah membenahi kesehalan itu dan menyempurnakan shalatnya serta disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke