Hukum Memandang Amrod (Pemuda Tampan)

Perkara memandang segala hal di dunia merupakan hal yang sangat asasi yang dimiliki oleh setiap makhluq hidup. Pandangan yang hanya berdasarkan kekaguman akan keindahan ciptaan Allah yang tidak berlanjut pada timbulnya syahwat, maka diperbolehkan. Sebagaimana seseorang memandang taman, alam, bunga-bunga, binatang, perhiasan dan lain sebagainya dari fenomena alam di sekitarnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Surat Ali ‘Imran Ayat 14)

Mengagumi sebuah ciptaan Allah merupakan sesuatu yang sangat lumrah dan fitrah. Bahkan sebuah pandangan yang didasari oleh keimanan sebagai wujud syukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah merupakan bentuk ibadah di sisi Allah.

Memandang seseorang karena keindahan paras rupanya sehingga mengingatkan dia akan kebesaran Dzat sang Maha Pencipta merupakan perkara baik sebagai peningkat keimanan. Namun sebuah pandangan yang didasari sebuah syahwat dan apalagi sampai mendorong seseorang terjerumus pada kemaksiatan dan kemungkaran maka akan memiliki kedudukan hukum tersendiri dalam Islam.

Bila memandang lawan jenis yang bukan mahramnya yang didasari syahwat sudah sangat jelas hukumnya. Sebagaimana hukum asal seorang laki-laki memandang seorang amrod atau pemuda yang tampan adalah halal, namun menjadi haram manakala disertai dengan syahwat, ini merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Demikian juga haram memandang kepada para wanita yang merupakan mahrom yang disertai dengan syahwat. Masih dengan hukum yang sama juga memandang apapun termasuk binatang menjadi haram manakala disertai dengan rasa syahwat. Sebab pandangan yang disertai syahwat kepada perkara yang bukan haknya adalah tercela. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Surat Ta Ha Ayat 131)

Jadi jelas sekali bahwa memandang apapun yang tidak disertai dengan syahwat hukumnya haram. Dan sebaliknya, jika pandangan tersebut disertai dengan syahwat maka hukumnya adalah haram. Begitu juga yang terjadi pada pandangan antar sesama laki-laki yang didasari dengan syahwat juga dihukumi haram.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke