Hukum Mengenakan Sandal Masuk ke dalam Masjid

Tidak semua masjid berlantai keramik atau marmer. Ada sebagian masjid yang masih berlantai tanah. Mungkin masih dalam tahap renovasi atau pembangunan. Maka hukumnya boleh masuk ke dalam masjid menggunakan alas kaki. Dari ‘Amr bin Harits Al-Makhzumi radhiallahu’anhu, beliau berkata,

رأيتُ رسولَ اللهِ يصلِّي في نعلَينِ مَخْصوفتَينِ

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan memakai sepasang sandal yang memiliki mikhshaf” (Hadits Riwayat At Tirmidzi Nomor 76)

Dari Abdullah bin Syikhir radhiallahu’anhu beliau mengatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ»

“Aku melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan menggunakan sepasang sandal” (Hadits Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf Nomor 1500)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu beliau mengatakan,

لقد رأينا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي في النَّعلَينِ والخُفَّينِ

“Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan menggunakan sepasang sandal dan sepasang khuf.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 858)

Dalam sebuah Hadits juga diriwayatkan bahwa Nabi pernah shalat di dalam masjid masih mengenakan sandal,

رأيت رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم يصلي حافيا ومنتعلا

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan tanpa alas kaki dan pernah juga dengan memakai sandal” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 653)

Dari kakeknya ‘Amr bin Syu’aib, ia berkata,

رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي يَنفتِلُ عن يمينِهِ وعن شمالِهِ ، ورأيتُهُ يصلِّي حافيًا ومُنتعلًا ، ورأيتُهُ يشرَبُ قائمًا وقاعدًا

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat lalu setelah selesai berbalik ke sebelah kanan dan pernah juga berbalik ke sebelah kiri, aku pernah melihat beliau shalat tanpa sandal dan pernah juga menggunakan sandal, aku pernah melihat beliau minum sambil berdiri dan pernah juga sambil duduk” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 10/119)

Didukung dengan riwayat dari Abu Maslamah Sa’id bin Yazid beliau berkata,

سألتُ أنسَ بنَ مالكٍ: أكان النبيُّ صلى الله عليه وسلم يُصلي في نَعْلَيه قال: نعم

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘apakah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat memakai sandai?’ Beliau menjawab, ‘ya’” (Hadits Riwayat Al-Bukhari Nomor 386)

Bahkan dalam sebuah riwayat penggunaan sandal merupakan upaya untuk menyelisihi kaum Yahudi. Dari Syaddad bin Aus radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

خالِفوا اليَهودَ فإنَّهم لا يصلُّونَ في نعالِهِم ولا خفافِهِم

“Selisihilah kaum Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai sandal dan sepatu mereka” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 652)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

صَلَّيتُ مع رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فرأَيْتُه تَنَخَّعَ ، فدَلَكَها بنعلِه

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan aku melihat beliau meludah (ke tanah) lalu menggosok ludahnya (di tanah) dengan sandalnya” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 554)

Dari Abu Aubar Ziyad Al Haritsi, beliau berkata:

أتى رجلٌ أبا هُرَيْرةَ ، فقالَ : أنتَ الَّذي تَنهى النَّاسَ أن يُصلُّوا ، وعليهِم نعالُهُم ؟ قالَ : لا ، ولَكِن وربِّ هذِهِ الحُرمةِ ، لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي إلى هذا المقامِ ، وعليهِ نَعلاهُ ، وانصرَفَ وَهُما عليهِ ونَهَى النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن صيامِ يومِ الجمعةِ ، إلَّا أن يَكونَ في أيَّامٍ

“Seseorang datang kepada Abu Hurairah radhiallahu’ahu. Orang tersebut berkata, ‘apakah engkau yang melarang orang-orang untuk shalat dengan memakai sandal?’ Abu Hurairah menjawab, ‘tidak, namun demi Allah ini adalah kehormatan. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat di tempat ini dengan memakai sepasang sandal, kemudian beliau selesai shalat dan tetap memakai sandal. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang puasa di hari Jum’at kecuali jika dibarengi dengan hari-hari yang lain.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 16/315)

Maksud diperbolehkannya masuk masjid dan shalat menggunakan sandal adalah manakala alas kaki kita dalam keadaan suci. Sebaliknya, manakala sandal kita dalam keadaan najis tentunya tidak boleh sandal masuk ke dalam masjid. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu,

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى فخَلعَ نَعليهِ فخلعَ النَّاسُ نعالَهُم فلمَّا انصرَف قالَ: لمَ خَلعتُمْ نعالَكُم ؟ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ، رأيناكَ خلَعتَ فخَلَعنا قالَ: إنَّ جَبرئيلَ أتاني فأخبرَني أنَّ بِهِما خَبثًا فإذا جاءَ أحدُكُمُ المسجِدَ فليقلِب نعليهِ فلينظُر فيهما خبثٌ؟، فإن وجدَ فيهما خبثًا فليمسَحهما بالأرضِ، ثمَّ ليصلِّ فيهما

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’” (Hadits Riwayat Al-Hakim 1/541, Abu Daud Nomor 650, Ibnu Hibban Nomor 2185)

Walaupun kita yang berada di Indonesia mempertanyakan perkara ini karena dikaitkan dengan kesopanan. Hukum boleh mengenakan alas kaki seperti sejenis sepatu atau kaos kaki (khuf) saat shalat ini tentunya dapat difahami bahwa kondisi cuaca di Arab pada masa Nabi terkadang ekstim. Ada situasi di mana cuaca terkadang terlalu sangat panas dan terkadang sangat dingin. Sehingga kebiasaan orang Arab ketika mengalami cuaca terlalu dingin tidak melepas alas kaki mereka selama berhari-hari. Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

كَانَ النَّبِيُّ يَأْمُرُنَا إذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Dari Shafwan bin ‘Asal berkata bahwa Rasululah SAW memerintahkan kami untuk mengusap kedua khuff bila kedua kaki kami dalam keadaan suci. selama tiga hari bila kami bepergian atau sehari semalam bila kami bermukim dan kami tidak boleh membukanya untuk buang air dan kencing kecuali karena junub.” (Hadits Riwayat Ahmad, An-Nasa’i dan At-Tirmizi)

Namun begitu, bila di suatu daerah seperti di Indonesia penggunaan alas kaki ke dalam rumah atau masjid dianggap kurang sopan, tentunya patut dihindari. Apalagi cuaca di Indonesia sedang-sedang saja, dan bangunan masjid nyaris sudah tidak ada lagi yang berlantai tanah maupun pasir, maka memaksakan menggunakan alas kaki saat shalat dan masuk ke dalam masjid dengan alasan mengikuti sunnah Rasul tentunya juga kurang bijak.

Di samping itu kondisi tanah di Arab hampir jarang hujan sehingga kondisinya senantiasa kering. Namun berbeda dengan di Indonesia yang mana merupakan iklim tropis dan kontur tanahnya mudah bece bila terkena air, maka memaksakan untuk menggunakan alas kaki dan masuk ke dalam masjid akan menyebabkan masjid akan menjadi kotor.

Mayoritas ulama berpandangan bahwa kebolehan shalat memakai sandal ini dalam rangka memberikan rukhshah (kemudahan) yang dilakukan ketika ada kebutuhan. Seperti ketika shalat di luar bangunan, ketika di tengah tanah lapang, ketika di perjalanan, ketika shalat di rumah ketika lantai sangat dingin, dan semisalnya yang memang dibutuhkan kemudahan untuk shalat memakai sandal. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathur Baari (1/494),

قَالَ بن بَطَّالٍ هُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِمَا نَجَاسَةٌ ثُمَّ هِيَ مِنَ الرُّخَصِ كَمَا قَالَ بن دَقِيقِ الْعِيدِ لَا مِنَ الْمُسْتَحَبَّاتِ لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يَدْخُلُ فِي الْمَعْنَى الْمَطْلُوبِ مِنَ الصَّلَاةِ

“Ibnu Bathal menyebutkan bahwa maksud dibolehkannya memakai sandal ini adalah selama tidak ada najis pada sandal tersebut. Dan ini merupakan rukhshah (kemudahan), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al-Ied. Sehingga bukan sesuatu yang mustahab (dianjurkan), karena hal ini tidak termasuk pada hakikat yang dituju dari shalat.”

Artikel yang sama;

Hukum Shalat Menggunakan Sandal

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke