Jangan Keburu Iqamah dan Shalat Fardhu Setelah Kumandang Adzan

Salah satu bentuk menyia-nyiakan shalat adalah tidak shalat tepat di dalam waktu yang telah ditetapkan dan tidak dikerjakan di awal waktu. Sebab shalat tepat waktu dan di awal waktu merupakan bagian dari keutamaan shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya; Amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Shalat di awal waktu!” (Hadits Abu Daud Nomor 362)

Di antara kesunnahan shalat adalah mengerjakan shalat di awal waktu secara berjamaah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya terkait amalan utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab,

“Shalat pada awal waktu” (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. (Hadits Riwayat Bukhari)

Namun begitu, terkadang ada fenomena yang kurang tepat di kalangan umat Islam dalam menafsirkan sabda Nabi tersebut. Seringkali sebagian umat Islam seperti dari kalangan Salafi dalam menterjemahkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam tersebut secara tekstual sehingga terkesan saklek (kaku) sekali. Sehingga manakala sebuah adzan selesai dikumandangkan langsung saja dilanjutkan dengan iqamah tanpa adanya jeda sedikitpun.

Tindakan seperti ini sebetulnya tidak salah, namun menimbulkan permasalahan. Sebab niat untuk mendapatkan sebuah kebaikan dan keutamaan dari sebuah amaliah ibadah namun malah terjebak dengan tindakan menyia-nyiakan kebaikan dan keutamaan amaliah ibadah lainnya yang lebih banyak. Sebab sebetulnya waktu setelah adzan dan sebelum iqamah Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menetapkan, mensyariatkan, dan menyediakan banyak keutamaan ibadah yang dapat diamalkan.

Janganlah disebabkan hanya memburu satu keutamaan shalat di awal waktu malah menyebabkan terabaikannya amalan-amalan lain yang juga memiliki banyak keutamaan yang sangat dianjurkan oleh Nabi sendiri.

Berikut beberapa amalan antara adzan hingga iqamah yang mengandung banyak pahala, di antaranya;

Menjawab Adzan

Hukum menjawab adzan dan berdoa setelahnya adalah sunnah. Dianjurkan untuk mendengarkan dan menjawab adzan ketika kita mendengarnya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 611 dan Muslim Nomor 846)

Banyak keutamaan mendengarkan dan menjawab adzan, sehingga amat sayang sekali amalan ini bila ditinggalkan. Diantaranya adalah dengan menjawab adzan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa kita. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

“Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, (وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا) Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya)

Di samping itu menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan menghantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “

“Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar. Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar. Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, dan seterusnya hingga akhir adzan. siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga.” (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya).

Mengamalkan Doa Adzan

Di samping itu, selain kita dianjurkan untuk mendengarkan dan menjawab adzan, juga disunnahkan membaca doa sesaat setelah adzan dikumandangkan. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang setelah mendengar adzan membaca doa : Allahumma Robba hadzihid da’wattit taammah was shalatil qaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzi wa ‘adtahu “(Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya) melainkan dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 94)

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 875)

Berdasarkan hadits tersebut bilamana membaca doa adzan dengan ikhlas niscaya akan mendapatkan syafaat Nabi kelak di akhirat.

Berdoa Setelah Adzan

Di dalam waktu ini sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang sedang menunggu jamaah shalat untuk memperbanyak doa kebaikan bagi dirinya dan bagi orang lain. Sebab waktu-waktu di antara adzan dan iqamah tersebut adalah di antara waktu terkabulnya do’a, yakni waktu dimana doa-doa yang dipanjatkan akan diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kaum muslimin memperhatikan dan memanfaatkan waktu tersebut dengan memperbanyak doa dan dzikir untuk bermunajat dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala hajat yang dimilikinya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad 3/155)

Dari Anas bin Malik pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad; shahih)

Shalat Sunnah

Salah satu amalan yang dapat sebagai sumber pahala adalah mengamalkan shalat-shalat sunnah pada waktu ini. Seseorang bisa mengerjakan shalat antara adzan dan iqamah. Diantara shalat sunnah yang dapat diamalkan adalah;

Shalat Setelah Wudhu

Sebelum memasuki masjid dianjurkan badan sudah dalam keadaan suci dari hadits dengan wudhu. Ternyata setelah wudhu ini selain ada kesunnahan doa, juga ada kesunnahan shalat sunnah wudhu. Shalat ini disyariatkan sesuai hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ « يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِى بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى الإِسْلاَمِ ، فَإِنِّى سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَىَّ فِى الْجَنَّةِ » . قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِى أَنِّى لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُورًا فِى سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِى أَنْ أُصَلِّىَ

“Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal ketika waktu shalat fajar, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang diharapkan yang telah kau lakukan di dalam Islam, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal berkata, “Tidak ada amalan yang paling diharapkan di sisiku, yaitu bahwa tidaklah aku bersuci pada waktu malam atau siang kecuali aku shalat dengan bersuci shalat yang aku sanggupi.” (HR. Bukhari)

Shalat Tahiyyatul Masjid

Shalat tahiyyatul masjid disyariatkan bagi yang baru masuk masjid sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

« إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ »

“Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaknya ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk.” (HR Bukhari dan Muslim)

Shalat Sunnah Rawatib

Shalat yang diamalkan untuk shalat-shalat fardhu yang memiliki sunnah qabliyah rawatib, yaitu shalat subuh dan dzuhur. Abdullah bin Umar menuturkan;

حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Aku hafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat; dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah isya di rumahnya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Bukhari)

Shalat Sunnah Mutlak

Terdapat sebagian shalat fardhu yang tidak memiliki sunnah qabliyyah rawatib. Namun seseorang tetap disyariatkan melakukan shalat sunnah mutlak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

« بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ – ثَلاَثًا – لِمَنْ شَاءَ »

“Antara adzan dan iqamat itu terdapat shalat –Rasul mengulanginya tiga kali- bagi siapa yang berkehendak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an juga bisa diamalkan saat menunggu dikumandangkannya iqamah. Sebab, membaca Al-Qur’an bagian dari ibadah yang mengandung banyak pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم رْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka untuknya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Baca Juga; Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Menunggu Shalat Jamaah

Sungguh Allah Maha Pembalas Kebaikan, sehingga orang yang duduk di masjid untuk menunggu shalat pun, pahalanya seperti orang yang sedang shalat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ، لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ

“Salah seorang di antara kalian dianggap terus menerus di dalam sholat selama ia menunggu sholat di mana sholat tersebut menahan nya untuk pulang, tidak ada yang menahanya untuk pulang ke keluarganya kecuali sholat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Begitu mudahnya mendapat kebaikan dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga hanya menunggu shalat saja pahalanya seperti orang yang melaksanakan shalat.

Memperbanyak Dzikir

Amalan berdzikir juga bisa dilakukan pada waktu mustajabah ini. Dzikir adalah amalan yang ringan di lisan, namun sangat besar dalam timbangan. Banyak dalil yang menunjukkan tentang keutamaan amalan dzikir. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk berdzikir;

قَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdzikir dalam setiap waktu dan keadaannya.” (HR .Bukhari dan Muslim)

Banyak ragam dzikir yang bisa diamalkan, baik redaksinya berasal dari Nabi maupun berasal dari para alim ulama. Dzikir, atau biasa disebut dengan puji-pujian oleh orang Indonesia bisa menggunakan bahasa Arab maupun bahasa selain Arab.

Menurut Ibnu Abidin dalam kitab “Hasiyah” berpandangan bahwa sejarah puji-pujian atau dzikir setelah adzan baru populer dimulai sekitar tahun 781 H, merujuk pada pendapat Imam as-Sakhawi dalam kitab “taj al-jami”,

اَلصَّلاَةُ بَعْدَ اْلاَذنِ سُنَّةٌ لِلسَّامِعِ وَاْلمُؤَذّنُ وَلَوْ بِرَفْعِ الصَّوْتِ, وَعَلَيْهِ الشَّافِعِيَّة وَاْلحَنَابِلَة وَهِيَ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ

“Membaca shalawat setelah adzan adalah sunah, baik bagi orang yang adzan maupun orang yang mendengarkannya, dan boleh mengeraskan suara. Pendapat inilah yang didukung oleh kalangan madzhab Syafi’iyah, dan kalangan madzhab Hambali.”

Tidak heran manakala kita menyaksikan di kalangan umat Islam di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia, pada waktu-waktu tersebut kita banyak mendengarkan melalui pengeras-pengeras suara di masjid-masjid atau mushala-mushala lantunan dzikir-dzikir yang bermuatan doa-doa dipanjatkan.

Mengumandangkan pujian setelah adzan seolah sudah menjadi sebuah tradisi. Ragam warna pujian di berbagai daerah, ada yang berbentuk Bahasa Arab, Bahasa Indonesia maupun Bahasa daerah. Ada yang bermuatan doa, dzikir, pengetahuan Islami maupun nasehat-nasehat kehidupan.

Baca Juga; Hukum Berdoa dan Berdzikir dengan Selain Bahasa Arab

Lantunan dzikir-dzikir yang bermuatan doa tersebut biasanya kita kenal dengan istilah puji-pujian. Dengan maksud mereka memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat sebagai pahala ibadah, sekaligus mengabulkan segala hajat. Sebab pujian merupakan tingkatan doa yang paling tinggi kedudukannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عن جَابِر بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallahu dan doa yang paling utama adalah Al-hamdu Lillah.” (HR. Tirmidzi no. 3305, Ibnu Majah no. 3790, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Sedangkan doa-doa yang dibaca dengan cara dilagukan dalam bentuk syair-syair dengan suara keras di dalam masjid hukumnya boleh dan ada tuntunan sunnahnya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hasan bin Tsabit berikut;

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِى الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَجِبْ عَنِّى اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ. قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. رواه أبو دادو والنسائي

“Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata bahwa Umar bin Khaththab pernah berjalan melewati Hassan yang sedang melantunkan sya’ir di Masjid. Lalu Umar menegurnya dengan pandangan mata. Tetapi Hassan berkata; “Dulu saya pernah melantunkan syair di Masjid ini, yang ketika itu ada seseorang yang lebih mulia daripadamu yaitu (Rasulullah).” Kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya, Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Ruhul Kudus” Abu Hurairah menjawab; “Ya, Saya pernah mendengarnya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Sehubungan dengan riwayat tersebut syaikh Isma’il Az-Zain dalam kitabnya Irsyadul Mukminin menjelaskan: Boleh melantunkan sya’ir yang berisi puji-pujian, nasehat, pelajaran tata karama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub hal 179 juga menjelaskan:

وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا، وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ، وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ. إهـ

“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah adzan (jawa : Pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat”.

Baca Juga;

Hukum Berdzikir, Berdo’a, dan Membaca Al-Qur’an dengan Suara Keras

Hukum Berdoa dengan Cara Dilantunkan dalam Bentuk Sya’ir Lagu

Dengan begitu memanfaatkan waktu mustajabah tersebut dengan doa-doa dalam bentuk lirik-lirik syair sudah menjadi kebiasaan para sahabat yang dibenarkan oleh Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ, فَادْعُوْا. رواه أبو يعلى

“Do’a yang dibaca antara adzan dan iqamat itu mustajab (dikabulkan oleh Allah). Maka berdo’alah kamu sekalian”. (HR. Abu Ya’la)

Bahkan Syaikh Amin al-Kurdi di dalam Tanwirul Qulub menegaskan bahwa hukum puji-pujian setelah adzan hukumnya sunnah,

وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا, وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ, وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ.

“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah adzan (puji-pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat”

Sudah sangat terang bahwa pujian yang bermuatan dzikir, doa, dan shalawat setelah adzan adalah suatu amaliah yang sangat jelas dalilnya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi kaum muslimin, terutama bagi takmir masjid memberikan kesempatan bagi para jamaah untuk mengisi berbagai dzikir doa dengan tidak tergesa-gesa dalam mengumandangkan iqamah setelah adzan. Lebih baik lagi manakala masjid atau surau mengangkat petugas untuk membacakan dzikir-dzikir doa melalui pengeras suara untuk memandu dan mengingatkan para jamaah untuk mengisi waktu mustajabah tersebut dengan memperbanyak doa.

Namun begitu, semangat untuk mengamalkan kesunnahan ini jangan sampai mengganggu lingkungan dan jamaah lainnya dengan terlampau keras, bising dan tanpa dibatasi waktu serta jangan sampai dalam mengumandangkan tanpa mempertimbangkan kemerduan suara dari puji-pujian tersebut.

Membaca Dzikir Shalawat

Shalawat juga merupakan bagian dari dzikir yang disyariatkan. Sudah sangat jelas bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang penuh keberkahan (kebaikan). Sudah sepantasnya seorang muslim menyibukkan diri untuk banyak bershalawat. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 875)

Berdasarkan hadits tersebut, pembacaan shalawat kepada Nabi setelah adzan hukum asalnya adalah sunnah, dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Sebagaimana yang difatwakan oleh Imam Jalaludin as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Haitsami, Syeikh Zakariya al-Anshari, dan lain lain.

Begitu berlimpah pahala membaca shalawat sehingga tidak mengherankan jika kaum muslimin saat setelah adzan di penjuru pelosok negeri memanfaatkan pengeras suara untuk mengumandangkannya. Syaikh Amin al-Kurdi di dalam Tanwirul Qulub menegaskan,

وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا, وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ, وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ.

“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah adzan (puji-pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat.”

Imam Ibnu Abidin dalam ‘hasyiyahnya’ mengatakan, bahwa Madzhab Syafi’i dan Hambali mensunnahkan membaca shalawat setelah adzan bagi mereka yang adzan dan yang mendengarkannya.

Membaca Dzikir Istighfar

Istighfar juga merupakan bagian dari dzikir yang disyariatkan. Beristighfar adalah memohon ampunan atas segala kesalahan dan dosa kepada Allah. Amalan ini sangat baik dilakukan saat menunggu iqamat dikumandangkan. Banyak dalil yang menunjukkan keutamaan dzikir istighfar ini. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut;

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً »

Abu Hurairah menuturkan, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain juga disebutkan,

عن الأَغَرِّ بنِ يسار المزنِيِّ – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، تُوبُوا إِلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ ، فإنِّي أتُوبُ في اليَومِ مئةَ مَرَّةٍ »

“Dari Al Aghar bin Yasar Al Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat dalam satu hari seratus kali.” (HR. Muslim)

Penutup

Itulah beberapa amalan yang dapat kita dikerjakan untuk memanfaatkan waktu yang sangat mustajabah tersebut. Sudah selayaknya kaum muslimin tidak menyia-nyiakan waktu antara adzan dan iqamah dengan perbuatan yang tidak berfaedah. Dengan memperbanyak ibadah, niscaya pahala juga akan semakin bertambah sebagai bekal kelak di akhirat.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke