Jangan Mengerjakan Shalat Tahiyatul Masjid

Walaupun hukum mengerjakan shalat tarawih hukumnya disunnahkan pada saat masuk masjid dan belum duduk. Namun terdapat beberapa keadaan dimana shalat tahiyatul masjid tidak disunnahkan untuk dilakukan. Terkait dengan ini terdapat pendapat dari Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zen. Beliau berkata;

وهي ركعتان قبل الجلوس لكل داخل متطهرمريد الجلوس فيه لم يشتغل بها عن الجماعة ولم يخف فوت راتبة، ولا تسن للخطيب إذا خرج للخطبة، ولا لمن دخل آخر الخطبة بحيث لو فعل التحية فاته أول الجمعة مع الإمام

“Shalat tahiyatul masjid adalah shalat dua rakaat sebelum duduk bagi orang yang masuk masjid dalam kondisi suci dan ingin duduk, serta tidak khawatir tertinggal shalat berjamaah dan shalat sunnah rawatib. Shalat tahiyatul masjid tidak disunnahkan bagi khatib yang mau langsung khotbah, dan tidak disunnahkan juga bagi orang yang masuk masjid pada khotbah terakhir, bisa dipastikan kalau mengerjakan tahiyatul masjid dulu shalat Jum’at bersama imam akan luput.”

Berdasarkan penjelasan dalam Nihayatuz Zen tersebut ada tiga kondisi seseorang tidak disunnahkan mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Yaitu; ketika shalat berjamaah sudah mau dimulai sebab dilarang mengejar kesunnahan yang menyebabkan tertinggalnya kewajiban. Ketika khatib hendak naik mimbar untuk menyampaikan khatbah Jum’at. Ketika terlambat datang ke masjid pada hari Jum’at sementara sementara waktu sisa khatbah Jum’at tersebut tidak mungkin mencukupi untuk shalat tahiyatul masjid.

Ibnu Hajar juga berpendapat, “Dikecualikan bagi khatib masjid, yang akan masuk ke masjid untuk shalat, dan berkhutbah di hari jum’at, maka seorang khatib tidak perlu melakukan shalat Tahiyatul Masjid. Dikecualikan juga bagi pengurus masjid, karena ia diberi amanah untuk senantiasa keluar masuk masjid, jika setiap keluar masuk di perintahkan untuk shalat tahiyatul masjid, tentu hal itu akan memberatkan baginya. Sebagaimana pula tidak disunnahkan bagi seseorang yang masuk ke masjid sedangkan imam telah menegakkan shalat fardhu atau telah selesai dikumandangkan iqamat, karena sesungguhnya shalat fardhu telah cukup walaupun tidak shalat tahiyatul Masjid.” (Subulus Salam: 1’/320)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke