Jasa Para Sahabat dalam Membukukan Hadits

Sejarah telah mencatat bahwa inisiatif pembukuan Hadits bukan berasal dari Nabi dan juga bukan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada zaman Nabi para sahabat mengamalkan sunnah langsung berasal dari Nabi dengan sistem mendengarkan dan sebagian menghafalkannya. Sebagaimana yang dilakukan sahabat Umar, Abu Hurairah, dan lainnya berkonsultasi perkara agama langsung kepada Nabi atu terkadang menanyakan lewat Aisyah.

Dari satu persatu ajaran dan amalan yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebar dari mulut ke mulut para sahabatnya. Menyampaikan ajaran Nabi adalah perintahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”. (Hadits Bukhari Nomor 3202)

Menyampaikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat satu kepada sahabat lainnya terus berlaku hingga pada masa para tabi’in. Namun pada masa-masa berikutnya seiring dengan kompleknya keadaan kaum muslimin disebabkan semakin luas wilayahnya, semakin beragam suku para pemeluknya, dan semakin banyak macam golongan politiknya. Pada akhirnya terjadi banyak kendala terkait dengan penyebaran riwayat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Diantaranya adalah penggunaan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai media fitnah untuk kepentingan-kepentingan masing-masing golongan umat Islam atau musuh-musuh Islam. Para musuh-musuh Islam dan kaum munafikun menjadikan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicampur dengan bualan dusta untuk kepentingan sesaat. Keadaan ini sebetulnya sudah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dalam sabdanya;

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barangsiapa menceritakan hadits dariku, yang mana riwayat itu diduga adalah kebohongan, maka dia (perawi) adalah salah satu dari para pembohong tersebut.” (Hadits Muslim Nomor 1)

Pada akhirnya, situasi tersebut mendorong sebagian tabi’in berpikir untuk membukukan as-Sunnah untuk menjaga keotentikan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminimalisir musuh merusak agama Islam. Salah satu tabi’in yang merasa keprihatinan adalah Umar bin Abdul Aziz (628-720 M), Khalifah  Dinasti Umayyah kedelapan yang berkuasa pada 717-720 M. Dia membentuk panitia penghimpunan dan pembukuan Hadits dengan melibatkan para penghafal hadits. Gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari para ulama.

Atas mandat Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (wafat 117 H) melibatkan ulama besar penghafal hadis di Madinah, yakni Amrah binti Abdurrahman dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq untuk mengumpulkan hadits, terutama yang bersumber dari Aisyah binti Abu Bakar yang sekaligus istri Nabi.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memandatkan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (wafat 124 H) untuk menghimpun hadis yang dikuasai oleh para ulama di Hijaz dan Suriah. Pembukuan hadits secara besar-besaran berlanjut hingga abad ke-2 H atau abad ke- 8 M.

Di kota Makkah lahir ulama yang konsern menghimpun hadits. Beliau adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Sedangkan dari kota Madinah muncul ulama yang juga memiliki dedikasi tinggi untuk menyelamatkan hadits Nabi, beliau adalah Imam Malik bin Anas dan Muhammad bin Ishak.

Penyempurnaan demi penyempurnaan pembukuan hadits terus berlanjut dan meluas di wilayah-wilayah Islam pada saat itu. Seperti di Basrah, Yaman, Kufah, Suriah, Khurasan dan Rayy (Iran), serta Mesir.

Penyempurnaan dilakukan terkait dengan sanad, matan, kualitas perawi, sitematika penyusunan, bahkan terkait dengan muatan tema-tema ajaran agama Islam seperti delapan pokok masalah, yakitu akidah, hukum, tafsir, etika makan-minum, tarikh, sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akhlak, serta perbuatan baik dan tercela.

Berbagai upaya untuk menyempurnakan kuwalitas hadits juga dilakukan dengan cara dipilah antara ucapan dan tindakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ajaran agama Islam atau sebagai perbuatan pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pemilahan antara ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau ucapan yang berasal dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hingga pada puncaknya apa yang dilakukan oleh Abu Dawud Sulaiman Al- Tayasili (133-203 H) dengan menyusun hadits dengan metode al-musnad yang mana mencatatkan sebuah hadis yang dituliskan sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan disertakan susunan sanadnya. Hal senada juga dilakukan oleh al-Imam Ahmad Ibnu Hanbal.

Dikarenakan dalam metode al-musnad tidak dipilah hadis sahih, hasan, daif, bahkan hadis palsu (maudhu). Maka generasi berikutnya, memasuki abad ke-3 H, para ulama hadits lebih menyempurnakan lagi metode pembukuan hadits lebih sistematis dengan memilah hadis-hadis sahih dengan dikelompokkan menyusunnya ke dalam berbagai topik.

Pada masa ini melahirkan para ulama dan pakar hadits seperti Imam Bukhari (194 H.-256 H.) dengan karyanya; al-Jami al-Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulilah wa Sunanihi wa Ayyamihi, atau lebih dikenal dengan Kitab Sahih Bukhari. Imam Muslim (202 H.-261 H.) dengan karyanya; Al-Jami’ atau lebih dikenal dengan Kitab Sahih Muslim. Imam Abu Dawud (202 H – 275) dengan karyanya Kitab Sunan Abi Dawud. Imam Abu Isa Muhammad At-Tirmizi (209 H. – 275 H) dengan karyanya Kitab Sunan at-Tirmizi. Imam An-Nasai (215 H. – 303 H.) dengan karyanya kitab Sunan An-Nasai. Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini, atau lebih dikenal Ibnu Majah (207 H – 275 H.) dengan karyanya Sunan Ibnu Majah. Ibnu Hibban al-Busti (270 H. – 354 H.) dengan karyanya Kitab Sunan Ibnu Hibban. Imam Malik (93 H. – 179 H.) dengan karyanya al-Muwatta. Dan Ahmad bin Hanbal (164 H – 241 H.) dengan karyanya al-Musnad al-Kabir atau lebih dikenal dengan Musnad Imam Ahmad.

Inilah jasa besar yang ditinggalkan oleh para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para tabi’i, dan para tabi’ut tabi’in. Masing masing dari mereka memiliki peran yang sangat penting dalam mengerjakan mega proyek kebaikan ini. Inilah bid’ah hasanah terbesar kedua setelah pembukuan Al-Qur’an peninggalan para sahabat. Tanpa pembukuan Hadits ini, bisa saja umat Islam akan senantiasa semakin jauh dari nilai-nilai ajaran Allah dan nabinya. Serta akan mudah mendapat serangan dari para musuh Islam.

Pembukuan Hadits Adalah Bid’ah

Setiap perkara baru dalam agama Islam adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah tercela dan masuk neraka. Itulah doktrin tertinggi yang dimiliki oleh golongan Salafy. Kalau begitu, dan kalaupun golongan ini konsisten dengan doktrinnya, tentunya tidak terkecuali dengan pembukuan Hadits. Namun kenyataannya golongan Wahabi menerima penggunaan kitab-kitab Hadits dalam bentuk mushaf. Dan anehnya mereka membantah mati-matian bahwa pembukuan Hadits ini bukanlah bid’ah.

Namun amat disayang, apapun argumentasi yang dikemukakan golongan Wahabi bahwa pembukuan Hadits dalam bentuk mushaf bukan perkara bid’ah adalah tertolak. Sebab, pembukuan Hadits adalah perkara bid’ah yang tidak ada satupun dalil yang menunjukkan adanya perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan perkara ini.

Bahkan faktanya mencatat dan membukukan hadits hukumnya sebetulnya haram. Karena membukukan hadits sangat dilarang oleh Nabi. Hal ini banyak terekam dalam hadits-hadits berikut;

أَنَّهُمْ اسْتَأْذَنُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنْ يَكْتُبُوا عَنْهُ فَلَمْ يَأْذَنْ لَهُمْ

“Mereka meminta izin kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk boleh menulis sesuatu dari selain al-Qur’an (maksudnya Hadits), namun beliau tidak mengizinkan mereka”. (HR. Darimi No. 452)

أَنَّهُ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يُكْتَبَ الْحَدِيثُ فِي الْكَرَارِيسِ وَيَقُولُ يُشَبَّهُ بِالْمَصَاحِفِ قَالَ يَحْيَى وَوَجَدْتُ فِي كِتَابِي عَنْ زِيَادٍ الْكَاتِبِ عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ وَاكْتُبْ كَيْفَ شِئْتَ

“Ia membenci menulis Hadits di atas kertas, ia mengatakan: ‘Hal itu menyerupai mushhaf (al-Qur’an), Yahya berkata: ‘Aku dapati dalam kitabku dari Ziyad al-Katib dari Abu Ma’syar, ‘Tulislah sekehendakmu’ “. (HR. Darimi No. 464)

لاَ تَكْتُبُوْا عَنِّى شَيْئًا إِلاَّ الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّى غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian menulis sesuatu dari saya kecuali al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis dari saya selain al-Qur’an, maka hapuslah” (HR Ahmad No 11362, Muslim No 3004, Abu Ya’la No 1209, ad-Darimi No 450 dan Ibnu Hibban No 6254)

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus, dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku-Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata: dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka. ” (HR. Muslim No. 5326)

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَدِيثِ عَنِّي فَمَنْ قَالَ عَلَيَّ فَلْيَقُلْ حَقًّا أَوْ صِدْقًا وَمَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda di atas mimbar ini: ” Janganlah kalian banyak-banyak membacakan Hadits dariku, maka barangsiapa berkata atas namaku, hendaklah ia berkata dengan benar atau jujur. Barangsiapa berkata atas namaku dengan sesuatu yang aku tidak mengatakannya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Ibnu Majah No. 35)

مَا كَتَبْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الْقُرْآنَ وَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةُ حَرَامٌ مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى كَذَا فَمَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ

“Tidak ada yang kami tulis dari Nabi SAW. kecuali al-Qur’an dan apa yang ada pada ash-shahifah (lembaran-lembaran Hadits) ini”, di mana Nabi SAW. bersabda: “Madinah adalah tanah suci yang wilayahnya antara gunung ini hingga wilayah anu. Maka barangsiapa yang berbuat kemungkaran (membukukan hadit) yang dilarang agama didalamnya atau membantu orang berbuat bid’ah maka orang itu akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia, dan tidak akan diterima darinya amalan ‘ibadah wajib dan sunnahnya” (atau taubat dan tebusannya). (HR. Bukhari No. 2943)

Namun begitu, walaupun Nabi tidak pernah melakukan dan bahkan jelas-jelas dilarang sendiri oleh nabi. Dalam ajaran Islam, kalau memang itu sangat diperlukan dan bermanfaat, dan bahkan untuk mencegah bencana agama sebab berpeluang disalahgunakan oleh musuh-musuh Islam, maka boleh dilakukan. Sebagaimana penulisan dan penghimpunan Hadits dalam sebuah kitab tersebut.

Ini bukti hal-hal baru (bid’ah) yang baik (hasanah), selama untuk kebaikan dan apalagi sifatnya urgen, maka fitrah agama Islam memberikan ruang dan peluang seluas-luasnya untuk berkreasi dan berinovasi.

Sudah sangat jelas bahwa perkara baru yang baik (bid’ah hasanah) dalam agama Islam bukanlah tertolak. Para sahabat adalah generasi salafusshalih. Bila mereka lebih dahulu memberikan peluang untuk melakukan kebaikan-kebaikan walaupun tergolong baru, bagaimana mungkin kita berani mengatakan para sahabat tersebut sesat dan masuk neraka.

Dengan demikian perkara pembukuan Hadits ke dalam sebuah kitab tersebut membuktikan bahwa doktrin dan konsep bid’ah yang dibuat oleh golonganWahabi adalah salah dan bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di samping itu, yang dimaksud bid’ah hasanah dalam perkara pembukuan hadits ini adalah dengan pembukuan Hadits tersebut akan mempermudah kaum muslimin untuk menjaga ajaran agama islam serta dapat mencegah musuh merusak agama Islam.

Baca Juga; Dalil-dalil Sahih Pembatal Konsep Bid’ah Wahabi

Fakta-fakta bid’ah hasanah ini sama sekali tidak terbantahkan dengan argumentasi apapun dari golongan Wahabi. Bahwa apapun yang baik menurut mayoritas umat Islam adalah baik dan dapat diterima oleh agama Islam. Pandangan dibenarkan bid’ah hasanah ini sangat didukung oleh pernyataan Nabi sendiri. Sebagaiman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa membuat Sunnah kebaikan (bid’ah hasanah) kemudian dikerjakan oleh orang setelahnya, maka ia akan mendapatkan seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat satu Sunnah jelek, kemudian dikerjakan oleh orang setelahnya, maka dia akan menanggung seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. ” (HR. Ibnu Majah No. 203, Ibnu Majah No. 200, Ibnu Majah No. 199, dan Muslim No. 4830)

Mencari kebaikan, menciptakan kebaikan, dan memutuskan perkara berdasarkan penelitian seorang muslim itu dibenarkan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ

“Jika seorang hakim berijtihad dalam menetapkan suatu hukum, ternyata hukumnya benar, maka hakim tersebut akan mendapatkan dua pahala, dan apabila dia berijtihad dalam menetapkan suatu hukum, namun dia salah, maka dia akan mendapatkan satu pahala.” (Hadits Muslim Nomor 3240)

Mencari kebenaran dan kebaikan di luar agama, selama tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits juga dibenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana yang dilakukan sahabat Mu’ad,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab; Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab; Dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam Sunnah Rasulullah SAW.?” Ia menjawab; Aku akan berijtihad dengan pendapat (akal)-ku. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi No. 1249)

Alasan kenapa umat Islam boleh menciptakan kebaikan adalah karena umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan pernah bersepakat di atas kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu/bersepakat di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di Sawadul a’dzam (kelompok yang terbanyak).” (HR. Ibnu Majah No. 3940)

Dengan begitu, runtuhlah klaim dan doktrin golongan Wahabi yang mengatakan bahwa bid’ah hasanah atau kebaikan-kebaikan yang sifatnya baik tapi baru adalah tertolak, sesat, dan pelakunya masuk neraka.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke