Kapan Wali Hakim Dapat Mengganti Wali Keluarga?.

Dalam situasi tertentu terkadang tidak memungkin sebuah pernikahan dihadirkan wali nasab dari keluarga atau kerabat disebabkan beberapa faktor, seperti sakit permanen, lama tidak diketahui keberadaannya, atau bahkan sudah meninggal dunia. Dalam keadaan seperti ini pernikahan tetap bisa dilakukan oleh wali hakim berdasarkan beberapa riwayat hadits, diantaranya riwayat dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

“Jika terjadi sengketa antara mereka, maka penguasa (wali hakim) menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ahmad 24205, Abu Daud 2083, Turmudzi 1021)

Dr. Ahmad Rayan mengatakan,

إن للسلطان دورًا في التزويج, ولكنه يأتي بعد الولاية الخاصة

”Penguasa punya hak untuk menikahkan, namun setelah tidak adanya wali khusus (kerabat).” (Fiqih Usroh, hlm. 115).

Berdasarkan penjelasan di atas, penguasa, pejabat negara, pemerintah atau wali hakim wajib menikahkan rakyatnya yang tidak memiliki wali kerabat atau memiliki wali kerabat namun tidak memenuhi syarat. Seperti mempelai wanita dari hasil perzinahan maka walinya adalah hakim yang menjabat resmi di sebuah negeri.

Maksudnya adalah wewenang wali hakim pada dasarnya berada pada urutan terakhir, setelah semua wali nasab sudah wafat, atau tidak memenuhi syarat. Dengan kata lain selama urutan wali nasab masih ada dan memenuhi syarat, maka wewenang wali hakim belum ada.

Baca selengkapnya; Ketentuan Wali dalam Nikah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke