Kedudukan Hadits Kebersihan Sebagian Daripada Iman

Seringkali kita mendengar sebagian umat Islam mengaitkan amalan kebersihan dengan sebuah Hadits “An-Nadhafatu Minal Iman” atau “Kebersihan Adalah Sebagian Daripada Iman” atau “Kebersihan sebagian dari iman” yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Kebersihan bagian dari iman.” (Riwayat Al-Khothib Al-Baghdadi “Talkhishul Mutasyabih” 1/223)

Terkait Hadits ini Syekh Yusuf Qardhawi berpandangan bahwa,

هذه الكلمة (النظافة من الإيمان) بهذا اللفظ لم ترد عن النبي -صلى الله عليه وسلم- فيما أعلم، بسند صحيح ولا حسن ولا ضعيف.

Kalimat ini (An-nadhafatu minal iman) tidak bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana saya ketahui dengan sanad sahih, tidak hasan, dan tidak pula daif.

Dalam riwayat Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu juga disebutkan,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَخَلَّلُوْا فَإِنَّهُ نَظَافَةٌ وَالنَّظَافَةُ تَدْعُوْ إِلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِيْمَانُ مَعَ صَاحِبِهِ فِى الْجَنَّةِ (رواه الطبراني)

“Buanglah sisa-sisa makanan di gigimu, karena perbuatan itu adalah kebersihan, dan kebersihan itu akan mengajak (menggiring) kepada iman, dan iman itu akan bersama orang yang memilikinya dalam surga.” (HR. At-Thabrani dalam “Mu’jamul Awsath” no. 7311)

Imam Al-Haitsami di dalam kitabnya Majma’ Az-Zawaid mengatakan bahwa Hadits ini paslu disebabkan dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Hayyan yang sering memalsukan Hadits sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu ‘Adi. (Lihat “Al-Kamil” 1/254, “Adh-Dhu’afa” Ibnul Jauzi 1/31, “Mizanul I’tidal” 1/147, “Lisanul Mizan” 1/270)

Meskipun sebagian ulama mengatakan bahwa secara matan kalimat “An-Nadhafatu Minal Iman”  sebagai Hadits tidak valid karena tidak ditemukan asal-usulnya, dhaif, dan bahkan palsu. Namun secara makna kalimat tersebut adalah sahih. Sebab makna yang terkandung dalam ungkapan “Kebersihan Itu Sebagian dari Iman” selaras dengan teks-teks hadis sahih yang mengatakan bahwa kebersihan memang bagian dari indikator keimanan seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Bersuci adalah setengah dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi, atau salah satunya memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah petunjuk, kesabaran adalah sinar, dan al-Qur’an adalah hujjah untuk amal kebaikanmu dan hujjah atas amal kejelekanmu. Setiap manusia adalah berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya.” (Penjelasan Hadits Muslim Nomor 328)

Terdapat dua pandangan dari kalangan para ulama tentang makna bersuci merupakan separuh iman. Sebagian ulama mengartikan bersuci secara maknawi, yaitu bersuci dari dosa-dosa dzahir maupun batin seperti suci dari kekufuran, kemaksiatan, serta kehinaan.

Dan sebagian ulama lainnya mengartikan secara lahiriyah atau secara hissi (dapat dilihat indrawi), yakni bersuci dari hadats kecil dan hadats besar yang merupakan syarat sahnya salat, baik suci dari hadats yang dapat dihilangkan dengan cara berwudu dan mandi, maupun suci dari najis yang harus dibersihkan sehingga sucilah pakaian, badan, dan tempat yang akan digunakan untuk shalat. Tercakup juga ke dalam malasah ini adalah kebersihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‏ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورٍ، وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ‏.‏

 “Allah tidak akan menerima shalat (yang dilakukan) tanpa bersuci dan tidak akan menerima sedekah dari hasil korupsi (pengkhianatan).” (Hadits Riwayat Ibnu Hibban Nomor 1705)

Dalam Hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari harta curian.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 270)

Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu menjaga kesucian dan kebersihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

 “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Surat At-Taubah Ayat 108)

Dengan demikian, walaupun redaksi “Annadhafatu Minal Iman” masih dipertentangkan kedudukannya sebagai Hadits, namun eseninya dalam Islam adalah sebagai sebuah ajaran yang harus diamalkan oleh semua umat Islam. Jadi, kebersihan adalah pertanda keimanan, sehingga bagi mereka yang tidak bersih maka perlu dipertanyakan keimanannya. Barangsiapa yang mengaku dirinya sebagai orang yang beriman pastinya akan menjaga kesucian dan kebersihannya sebab ia menjadi syarat sah melaksanakan beberapa ibadah dalam agama Islam.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke