Kriteria Ahlul Bait Nabi

Seringkali kita mendengar fatwa-fatwa dari para ulama, terutama dari kalangan Habaib bahwa umat Islam dianjurkan dan bahkan disunnahkan untuk menghormati dan mencintai Ahlul Bait, yakni keluarga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam agar kita mendapat keberkahan hidup dan mendapat syafaat kelak di akhirat. Namun tahukah siapa sebetulnya yang dimaksud Ahlul Bait Nabi? Terkait dengan ini ternyata telah terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang kategori Ahlul Bait, yakni keluarga Nabi. Berikut penjelasannya;

Pertama; Keturunan Inti Nabi

Sebagian ulama dan kalangan umat Islam, terutama dari sebagian kecil golongan Sunni dan mayoritas Syiah berpandangan bahwa yang tergolong Ahlul Bait hanya terdiri dari keluarga inti Nabi, yakni; Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain radhiyallahu ‘anhum. Dan tidak memasukkan orang lain termasuk istri-istri Nabi. Pandangan ini didasarkan pada potongan riwayat dari Imam Muslim berikut;

فَقُلْنَا مَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ نِسَاؤُهُ قَالَ لَا وَايْمُ اللَّهِ إِنَّ الْمَرْأَةَ تَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ الْعَصْرَ مِنْ الدَّهْرِ ثُمَّ يُطَلِّقُهَا فَتَرْجِعُ إِلَى أَبِيهَا وَقَوْمِهَا

“Lalu kami bertanya; siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau? Dia menjawab; Bukan, demi Allah, sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya.” (Hadits Muslim Nomor 4425)

Kedua; Istri-istri Nabi tidak Termasuk Ahlul Bait

Sebagian ulama tidak memasukkan Istri-istri Nabi sebagai Ahlul Bait, sebab ahlul bait adalah mereka yang haram manakala menerima zakat. Disamping itu, istri-istri Nabi tidak dapat disebut sebagai ahlul Bait sebab mereka bisa saja sewaktu-waktu dicerai oleh Nabi. Pengertian ini didasarkan pada riwayat hadits berikut;

أَنَّهُ قَالَ أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ وَفِيهِ فَقُلْنَا مَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ نِسَاؤُهُ قَالَ لَا وَايْمُ اللَّهِ إِنَّ الْمَرْأَةَ تَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ الْعَصْرَ مِنْ الدَّهْرِ ثُمَّ يُطَلِّقُهَا فَتَرْجِعُ إِلَى أَبِيهَا وَقَوْمِهَا أَهْلُ بَيْتِهِ أَصْلُهُ وَعَصَبَتُهُ الَّذِينَ حُرِمُوا الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ

“Hanya saja dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al Qur’an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’ Juga di dalamnya disebutkan perkataan; Lalu kami bertanya; siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau? Dia menjawab; Bukan, demi Allah, sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlu bait beliau adalah, keturunan beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat.’ (Hadits Muslim Nomor 4425)

Ketiga; Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait

Sebagian ulama juga memasukkan istri-istri Nabi sebagai keluarga Nabi berdasarkan keumuman ayat Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman;

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” (Surat Al-Ahzab Ayat 6)

Juga firman Allah;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (Aisyah istri Nabi-pen) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Surat Al-Ahzab Ayat 33)

Dan juga ucapan para Malaikat kepada bunda Sarah istri dari Nabi Ibrahim alaihi as-salaam;

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”. (Surat Hud Ayat 73)

Juga ayat berikut;

إِلَّا آلَ لُوطٍ إِنَّا لَمُنَجُّوهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا ۙ إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ

“kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)”. (Surat Al-Hijr Ayat 59-60)

Juga riwayat hadits berikut;

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ رَبِيبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا } فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ وَعَلِيٌّ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَجَلَّلَهُ بِكِسَاءٍ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأَنَا مَعَهُمْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ وَأَنْتِ إِلَى خَيْرٍ

“dari [Umar bin Abu Salamah] anak tiri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia berkata; ayat ini yaitu; Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya QS Al Ahzab; 33 turun atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah Ummu Salamah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu beliau menyelimuti mereka dengan selendang, sedangkan Ali berada di belakang beliau lalu beliau juga menyelimuti dengan selendang, kemudian beliau bersabda: “Ya Allah, mereka semua adalah ahli baitku, maka hilangkanlah dosa dari diri mereka dan sucikanlah mereka sebersih-bersihnya.” Ummu Salamah berkata; “Saya juga bersama mereka wahai Nabi Allah?” beliau bersabda: “kamu tetap berada di posisimu, dan akan tetap mendapatkan suatu kebaikan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3719)

Ayat-ayat di atas mengisyaratkan bahwa istri-istri para Nabi adalah termasuk Ahlul Bait.

Keempat; Bani Hasyim Termasuk Ahlul Bait

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa pada bagian lain dalam hadits riwayat Muslim tersebut juga dijadikan dasar untuk memasukkan golongan Ahlul Bait adalah Bani Hasyim bin Abdi Manaf, yang didalamnya ada; keluarga Ali, keluarga Abbas, keluarga Ja’far, keluarga ‘Uqoil, keluarga Al Harits bin Abdul Muthallib. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam radliyallahu anhu dia berkata:

يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ

“Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berpidato di suatu tempat air yang di sebut Khumm, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan serta berkata; Ketahuilah hai saudara-saudara, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku, malaikat pencabut nyawa, akan datang kepadaku dan aku pun siap menyambutnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu: Pertama, Al-Qur ‘an yang berisi petunjuk dan cahaya. Oleh karena itu, laksanakanlah isi Al Qur’an dan peganglah. Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Al Qur’an. Kedua, keluargaku. Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali). Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn; “Hai Zaid, sebenarnya siapakah ahlul bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau itu adalah ahlul bait (keluarga) nya?” Zaid bin Arqam berkata; “Istri-istri beliau adalah ahlul baitnya. tapi ahlul bait beliau yang dimaksud adalah orang yang diharamkan untuk menerima zakat sepeninggalan beliau.” Husain bertanya; “Siapakah mereka itu?” Zaid bin Arqam menjawab; “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil. keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Husain bertanya; “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?” Zaid bin Arqam menjawab.”Ya.” (Hadits Muslim Nomor 4425)

Kelima; Bani Al-Muthallib Termasuk Ahlul Bait

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad dan juga Imam Syafi’i mengatakan bahwa Bani Al Muthallib termasuk keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam berdasarkan riwayat dari Jubair bin Muth’im radliyallahu anhu sesungguhnya dia berkata:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ مَشَيْتُ أَنَا وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْطَيْتَ بَنِي الْمُطَّلِبِ وَتَرَكْتَنَا وَنَحْنُ وَهُمْ مِنْكَ بِمَنْزِلَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“dari [Jubair bin Muth’im] berkata; ‘Aku dan ‘Utsman bin ‘Affan berjalan menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kami katakan; “Wahai Rasulullah, baginda memberikan Bani Al Muthallib tapi kami tidak, padahal kami di hadapan baginda kedudukannya sama”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Bani Al Muthallib dan Banu Hasyim adalah satu (sama kedudukannya-sama-sama sekluarga).”. (Hadits Bukhari Nomor 2907)

Keenam; Budak-budak Nabi yang Dimerdekakan Termasuk Ahlul Bait

Sebagian ulama juga ada yang berpendapat bahwa semua bagian Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah anak cucu Nabi, Menantu Nabi, Bani Hasyim, Bani Muthallib, dan budak-budak yang dimiliki Nabi adalah Ahlul Bait atau keluarga Nabi. Jangankan anak cucu dan istri-stri Nabi, budak yang telah dimerdekakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam saja juga bagian dari Ahlul Bait. Pandangan ini didasarkan pada sebuah riwayat Hadits berikut;

عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ أَتَيْتُ أُمَّ كُلْثُومٍ ابْنَةَ عَلِيٍّ بِشَيْءٍ مِنْ الصَّدَقَةِ فَرَدَّتْهَا وَقَالَتْ حَدَّثَنِي مَوْلًى لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لَهُ مِهْرَانُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّا آلُ مُحَمَّدٍ لَا تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ وَمَوْلَى الْقَوْمِ مِنْهُمْ

“dari [‘Atha’ bin As Sa’ib] berkata; saya menemui [Ummu Kultsum] salah seorang anak ‘Ali dengan membawa barang hasil sedekah, lalu dia menolaknya dan berkata; salah seorang budak Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menceritakan kepadaku yang bernama [Mihran], Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” Keluarga Muhammad tidak halal sedekah bagi mereka, dan budak suatu kaum adalah bagian dari mereka (ahlul bait).” (Hadits Ahmad Nomor 15152)

Ketujuh; Semua Kaum Muslimin Termasuk Ahlul Bait

Ada juga sebagian ulama mengatakan bahwa semua umat Islam adalah Ahlul Bait atau keluarga Nabi. Sebab seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut;

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara (ahlul bait). Ia tidak boleh berbuat zhalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak.” (Hadits Muslim Nomor 4677)

Muliakan Ahlul Bait Berdasarkan Ketakwaannya

Setelah mengetahui pandangan dari beberapa ulama tentang kategori Ahlul Bait Nabi, kita dapat memahami bahwa yang dimaksud Ahlul Bait Nabi adalah tergantung kriteria yang kita tetapkan. Maksudnya adalah, bila yang dikehendaki dengan ahlul bait menggunakan kategori biologis, maka hanya anak cucu Nabi seperti Fatimah, Hasan Husein saja yang tergolong ahlul bait dan berarti Ali bin Abi Thalib tidak termasuk. Lalu bila menggunakan kriteria mereka yang tidak boleh menerima zakat, berarti termasuk Bani Hasyim dan para budak-budak Nabi juga termasuk Ahlul Bait. Bila menggunakan kriteria agama dan keimanan, maka semua umat Islam adalah termasuk Ahlul Bait Nabi.

Dengan begitu, maka tidak perlu lagi diperpanjang perdebatannya tentang siapa yang berhak dijuluki sebagai Ahlul Bait. Dan hal ini bertujuan untuk tidak dijadikan alasan oleh sebagian kecil umat Islam untuk lebih mengunggulkan sebagian dan kemudian merendahkan sebagian umat Islam yang lainnya. Sebab Allah sendiri tidak memandang kemuliaan hambanya menggunakan tolak ukur nasab keturunan, namun mereka yang dianggap sebagai hamba termulia hanyalah mereka yang paling bertakwa disisinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Jadi bagi kita yang tidak memiliki garis keturunan biologis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak perlu berkecil hati, sebab kita masih memiliki peluang di habadan Allah sebagai hamba yang mulia berkat ketakwaan. Dan begitu juga bagi mereka yang kebetulan memiliki garis keturunan biologis dari Nabi tidak perlu takabbur dan memandang rendah hamba lainnya, sebab percuma memiliki garis keturunan dari Nabi namun tidak memiliki ketakwaan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun begitu, sebagai muslim yang berakhlaq mulia, kita tetap wajib menghormati dan memuliakan mereka Ahlul Bait apapun kondisinya dengan niat menghormati dan memuliakan Nabi dengan mengharap ridha Allah. Yang perlu menjadi catatan juga adalah, menghormati itu tidak sama dengan mentaati. Hormati mereka sebagai keturunan Nabi, namun jangan ikuti bilamana ada perilaku yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi. Hormati dan muliakan mereka sewajarnya saja, dan gunakanlah ukuran ketakwaan dalam menghormati hamba-hamba Allah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke