Larangan Khalwat, Berduaan dan Menyendiri Laki-laki dan Perempuan Bukan Mahrom

Khalwat atau seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita asing yang bukan mahramnya merupakan salah satu bentuk kemaksiatan yang sangat dibenci oleh agama. Oleh karena perkara tersebut sangat dibenci agama, maka khalwat dihukumi haram. Sifat keharaman berkhalwat berlaku umum, sama saja apakah disertai nafsu syahwat ataupun tidak. Banyak sekali kaum muslimin yang menganggap sepele perkara ini. Padahal, dampak negatif dari khalwat sangat besar. Banyak penyakit sosial yang berawal dari perkara ini, hamil di luar nikah, pembunuhan di kalangan remaja sebab asmara, pemerkosaan, maupun penyakit-penyakit sosial lainnya.

Di antara bentuk khalwat yang sering terjadi adalah seorang istri tanpa izin dan sepengetahuan suami atau orang lain memasukkan ke dalam rumahnya, duduk-duduk berduaan di tempat sepi, atau bahkan bersenda gurau dan berlembut-lembut ria lewat media online. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, At-Thabrani 2/184, dan Al-Baihaqi 7/91)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad dari hadits Jabir)

Syetan menjadi yang ketiga karena syetan akan membisikkan dan menghasut kepada keduanya dengan membangkitkan syahwat dan birahinya sehingga keduanya terjebak pada kemaksiatan sebab telah kehilangan rasa malu karena tidak adanya orang lain yang mengawasi di sekitarnya.

As-Syaukani berkata, “Sebabnya adalah lelaki senang kepada wanita karena demikanlah ia telah diciptakan memiliki kecondongan kepada wanita, demikian juga karena sifat yang telah dimilikinya berupa syahwat untuk menikah. Demikian juga wanita senang kepada lelaki karena sifat-sifat alami dan naluri yang telah tertancap dalam dirinya. Oleh karena itu syaitan menemukan sarana untuk mengobarkan syahwat yang satu kepada yang lainnya maka terjadilah kemaksiatan.” (Nailul Autor 9/231).

Dalam riwayat yang lain dari Ali bin Zaid bin Jad’an bahwasanya Sa’id berkata, “Tidaklah syaitan berputus asa dari (menggoda) sesuatu kecuali ia mencari jalan keluar dengan mempergunakan para wanita (sebagai senjatanya untuk menggoda” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 4/373 no. 5452 dengan sanadnya hingga Ali bin Al-Madini dari Sufyan dari Ali bin Zaid bin Jad’an).

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975)

Khalwat merupakan pintu syetan untuk menggoda umat manusia agar terjerumus ke dalam kemaksiatan. Khalwat merupakan bagian dari tipu daya (talbis) Iblis kepada manusia. Sa’id bin Musayyib berkata, “Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang Nabi, melainkan dia tidak aman dari gangguan Iblis yang merusaknya melalui perantara wanita.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada finah para wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Mulim no. 97,98)

Tutuplah jalan godaan dan tipu daya setan dengan tidak melakukan khalwat. Hindari sebisa mungkin berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan merupakan mahromnya, sehingga kita dan keluarga kita aman dari terperosok ke dalam kemaksiatan dan perzinahan. Semoga kita dan keluarga senantiasa dilindungi oleh Allah dari godaan setan yang menjerumuskan pada kemaksiatan. Amin.

Namun begitu, bukan berarti seorang perempuan tidak boleh bersama dengan laki-laki lain sama sekali. Dalam kondisi-kondisi tertentu Islam memperbolehkan seorang laki-laki berjumpa dan bertemu dengan perempuan lain manakala ada hajat yang dibenarkan oleh syariat Islam. Diantara alasan yang dibenarkan seorang laki-laki menemui perempuan lain adalah sebab darurat.

Sebagaimana Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah bin Abi Ma’ith dan para wanita yang lain meninggalkan keluarganya untuk ikut berhijrah dari Mekah ke Madinah tanpa mahrom. Demikian pula seorang wanita yang dihadirkan dalam majelis persidangan tanpa mahrom. Sebagaimana seorang pezina perempuan yang diasingkan ke daerah lain.

Alasan yang juga dibenarkan seorang perempuan bertemu dengan laki-laki lain yang bukan mahromnya adalah bila pertemuan tersebut tidak bersifat fisik yang mengarak kepada kemaksiatan dan juga disaksikan dan didampingi oleh mahromnya, atau wanita lain di tempat-tempat umum atau tempat-tempat yang dijamin keamanannya dan dijamin tidak menimbulkan fitnah. Seperti di pasar, di masjid, di sekolah, kantor-kantor pemerintah, kendaraan umum, dan lain sebagainya.

Imam An-Nawawi berkata, “…Diharamkannya berkhalwat dengan seorang wanita ajnabiah dan dibolehkannya berkholwatnya (seorang wanita) dengan mahramnya, dan dua perkara ini merupakan ijma’ (para ulama).” (Al-Minhaj 14/153).

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke