Maksud Larangan Memasuki Daerah yang Sedang Merebak Wabah Virus

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kiyai, saya pernah mendengar tentang sebuah hadits di mana dalam hadits tersebut bila dalam sebuah daerah sedang merebak wabah virus, maka umat Islam yang sedang di luar daerah dilarang memasukinya dan bagi penduduk daerah tersebut dilarang keluar meninggalkan daerah tersebut. Bila hal tersebut diberlakukan lalu bagaimana nasib kehidupan para penduduknya yang membutuhkan makanan, apakah kita tidak malah menciptakan madorot sebab para penduduknya maka tersiksa virus juga akan tersiksa kelaparan. (Ebi Saifullah Barqi/Segobang-Banyuwangi)

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Saudara Ebi Saifullah Barqi, lebih dulu saya ucapkan semoga saudara tetap diberi kesehatan dan perlindungan Allah. Amin.

Mungkin Hadits yang Anda maksud adalah sebagai berikut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ فَرَجَعَ عُمَرُ مِنْ سَرْغَ وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ إِنَّمَا انْصَرَف

“Jika kalian mendengar wabah berada di suatu kawasan, janganlah kalian datang kesana, dan jika terjadi di suatu kawasan yang kalian diami, jangan kalian meninggalkannya.” Spontan Umar meninggalkan kota Saragh.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 6458)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.’ (Hadits Riwayat Muslim Nomor 4115)

Dalam memaknai sebuah nash baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits bukan berarti harus secara tekstual, sebab sejatinya setiap teks tidak pernah lepas dari sebuah konteks. Bila dimaknai secara teks memang makna dzahirnya begitu, namun sejauh yang kami fahami dalam memaknai sebuah hadits khususnya hadits tersebut di atas adalah terkandung maksud bahwa maqasidussyariyah atau syariat yang dimaksud atau yang dikehendaki adalah bukan masalah kita boleh masuk atau tidak boleh masuk ke dalam daerah tersebut.

Namun makna hakikat yang terkandung dalam hadits tersebut adalah perintah kepada kaum muslimin untuk berusaha memutus mata rantai penyebaran penyakit menular tersebut. Bilamana kita bisa memutus mata rantai penularan dengan cara primitif menjaga jarak atau mengkarantina maka umat Islam wajib menjauhi daerah tersebut atau mengisolasi siapapun agar tidak ikut menyebarkan penularan wabah tersebut.

Namun bila umat Islam memiliki kemampuan dalam bidan ilmu pengetahuan medis dengan cara mencari penangkalnya maka kewajiban umat Islam untuk meneliti dan mencari obat penyembuh bagi mereka yang terlanjur terjangkit agar sembuh dan mencari vaksin bagi mereka yang belum terjangkit agar tidak tertular.

Sebab salah satu kewajiban umat Islam yang pokok adalah wajib memelihara jiwa (hifdzun nafs). Dalam Kitab Al-Ahkaam As-Sulthoniyah disebutkan bahwa Umat Islam berkewajiban untuk menjaga jiwa sendiri dan jiwa orang lain. Jangan sampai sebab kecerobohan tindakan kita menyebabkan jiwa sendiri dan jiwa orang lain menjadi terancam. Prinsip ini sangat sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 2719)

Bila seseorang sudah terlanjur terkena penyakit menular ini hendaknya dia tidak menularkan kepada pihak lain sehingga berdampak kepada kerugian bagi banyak pihak dan atau sebaliknya. Dalam riwayat hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 َمَنْ ضَارَّ ضَرَّهُ اللهُ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللهُ عَلَيْه

“Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allah akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.” (Hadits Riwayat al-Hâkim dan al-Baihaqi)

Bentuk tidak membahayakan orang lain adalah membatasi diri untuk sementara waktu berinteraksi secara fisik dengan orang lain. Seandainya terpaksa harus berinteraksi dengan orang lain harus benar-benar menggunakan prosedur kesehatan yang ketat agar orang lain tidak tertular dengan penyakit yang sedang dideritanya. Salah satu bentuk tidak berinteraksi dengan orang lain adalah mengkarantina diri baik di rumah sendiri atau di rumah sakit, sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

“dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam(5) berkata; “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah tha’un lalu beliau mengabarkan aku bahwa tha’un (penyakit sampar, pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin dan tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia berdiam diri di dalam rumahnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentaqdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 3215)

Dengan begitu pemberlakuan pola Karantina, Social Distanching, dan Lockdown sebagai upaya umat manusia untuk menangkal penyebaran virus dibenarkan sebab memang ada tuntunan sunnahnya.

Yang tidak kalah penting dari usaha tidak membahayakan orang lain dengan cara melakukan pemsan interaksi dan kontak fisik adalah umat Islam dengan segala sumberdaya keilmuan wajib menguasai dunia medis sehingga bila terjadi kasus-kasus serupa umat islam mampu melindungi diri dari berbagai macam virus dengan cari menemukan obat atau vaksin sehingga jiwa umat iIslam dapat terlindungi dari segala mara bahaya.

Nabi sangat menganjurkan umat Islam untuk mencari pengobatan dan mengobati penyakit yang dideritanya. Sebab tidak ada satu penyakit yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Taalaitu tidak beserta obatnya. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنَزِّلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً إِلَّا الْمَوْتَ وَالْهَرَمَ

“Berobatlah kalian wahai hamba Allah, karena Allah ‘azza wajalla tidak pernah menurunkan penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya, kecuali kematian dan kepikunan.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 17727)

Dalam redaksi Hadits Bukhari diriwayatkan,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Allah tidak akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya juga.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 5246)

Tujuan kita menjaga jiwa adalah agar pengabdian kita sebagai hamba senantiasa terjaga.

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan Artikel Ini Ke