Memaafkan Lebih Sulit Dibanding Meminta Maaf.

Memang, meminta maaf merupakan perkara sulit, namun lebih sulit lagi bagi mereka yang kemudian sudi memberi maaf. Alasan kenapa memberi maaf lebih sulit? Sebab, mereka yang memaafkan harus ihklas menghilangkan rasa sakit dalam hati manakala pernah terlukai. Walaupun lebih sulit, bukan berarti tidak mungkin dilakukan bagi mereka yang memiliki hati seputih mutiara dan sejernih berlian.

Sangat manusiawi sebetulnya manakala seseorang membela diri dan membalas perlakuan buruk dari orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memaklumi hambanya manakala melakukan hal tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (Surat Asy-Syura Ayat 39)

Sebetulnya, kejahatan yang dilakukan disebabkan sebagai pembalasan atas kejahatan lainnya merupakan perbuatan yang akan diampuni oleh Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (Surat Asy-Syura Ayat 41)

Namun begitu, bilamana memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama untuk membalas kejahatan tersebut, akan tetapi tidak dilakukan dan lebih memilih untuk memaafkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan pahala besar baginya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Surat Asy-Syura Ayat 40)

Alasan kenapa seseorang tidak diajurkan membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama. Sebab tanpa harus kita sendiri yang capek melakukannya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah membalas kejahatan tersebut untuk kita dengan balasan adzab yang pedih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Surat Asy-Syura Ayat 42)

Pemaaf akan mendapat derajat utama

Jangan takut memberi maaf atas kesalahan orang lain pada kita. Sebab memaafkan merupakan akhlaq yang sangat mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Surat Asy-Syura Ayat 43)

Memaafkan niscaya akan berbalas banyak cinta. Dengan memaafkan tentunya akan dicintai penduduk bumi dan penduduk langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang berbuat kebajikan dan mudah memaafkan.

Mudah memaafkan maka akan mudah dimaafkan

Hidup memang tidak pernah luput dari kesalahan. Terkadang kita berbuat salah dan terkadang orang lain yang berbuat salah kepada kita. Bila kita mudah memaafkan kesalahan orang lain, niscaya dalam kesempatan lain kitapun akan mudah mendapatkan maaf dari orang lain. Sebaliknya, bila kita sulit memaafkan kesalahan orang lain, niscaya kita juga akan sulit menerima maaf manaka suatu hari kita tidak sengaja berbuat salah pada orang lain.

Sungguh kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak. Dan keburukan juga akan dibalas dengan keburukan yang lainnya. Jangan mempersulit diri dengan cara mempersulit orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya para hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 7152)

Pemaaf Akan Mendapat Ampunan

Sungguh beruntung mereka yang mudah memaafkan, sebab barangsiapa yang mudah memaafkan niscaya Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Atau (jika engkau) memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa” (QS An-Nisaa : 149)

Disamping ayat tersebut diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga telah bersabda dalam haditsnya:

 عن البراء قال قال رسول الله صلى اللهم عليه وسلم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا

“Setiap dua orang muslim bertemu dan berjabat tangan niscaya diampunkan dosa keduanya

Dan barang siapa yang memaafkan saudaranya maka Allahpun akan mengampuni dan membersihkan dosa-dosanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Surat An-Nur Ayat 22)

Ayat tersebut turun berawal dari sikap sahabat Abu Bakar as-shiddiq, yang sempat bersumpah untuk tidak memaafkan kesalahan Misthah bin Utsatsah dan tak lagi memberi nafkah kepadanya untuk selamanya, karena dianggap telah menuduh putri tercintanya, Aisyah radliallahu ‘anha, yang juga istri Rasulullan shallallahu ‘alaihi wasallam, berzina.

Pemaaf adalah manusia terhebat

Dengan memafkan akan mendapatkan pujian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendapatkan kedudukan yang hebat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ قَالُوا فَالشَّدِيدُ أَيُّمَ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah yang disebut dengan kuat itu orang yang jago gulat.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, lalu siapakah yang disebut dengan orang yang kuat?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (Hadits Muslim Nomor 4724)

Tergolong sebagai orang yang bertakwa

Dalam Al-Qur’an Allah Tabaraka Wa Ta’ala, mengelompokkan orang-orang pemaaf ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan yang senantiasa mendapatkan surga dan ampunan dari Allah Tabaraka Wa Ta’ala, Sebagaimana firmanNya,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran ayat 133-134)

Tergolong sebagai orang yang beriman

Hanya orang yang beriman yang mudah memaafkan. Allah mengatakan bahwa mereka yang beriman dan bertawakal yang mudah memberi maaf, kedudukannya tergolong sebagai orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ. وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ

“Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (Surat Asy-Syura[42] Ayat 36-39)

Akhlaq Nabi Adalah Pemaaf

Sejarah telah banyak merekam akhlaq mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau berkali-kali mengalami kejahatan, kedzaliman, dan pengkhianatan. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah dendam dan memilih untuk memafkan. Dalam sebuah riwayat hadits dikisahkan;

أَنَّ امْرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ أَرَدْتُ لِأَقْتُلَكَ فَقَالَ مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَلِكَ أَوْ قَالَ عَلَيَّ فَقَالُوا أَلَا نَقْتُلُهَا قَالَ لَا فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa daging kambing yang telah diberi racun, lalu beliau memakannya. Setelah itu, wanita Yahudi tersebut dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. beliau lantas menanyakan tentang hal tersebut, wanita itu menjawab, “Aku ingin membunuhmu!” beliau bersabda: “Allah tidak akan memberikan kemudahan bagimu untuk melakukan itu, atau beliau mengatakan, “untuk melakukan (hal itu) terhadapku.” Para sahabat berkata, “Bagaimana jika kami membunuhnya saja?” beliau bersabda: “Jangan.” Anas berkata, “Dan aku masih melihat sisa-sisa racun itu di tenggorokan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadits Abu Daud Nomor 3909)

Sungguh akhlaq mulia yang patut kita tiru dalam keseharian bila kita berharap diakui sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Aku pernah bertanya kepada [Aisyah] mengenai akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia pun menjawab, “Beliau bukanlah seorang yang buruk prilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar-pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1939)

Memang benar, dalam situasi terdzalimi tidak jarang mendorong sisi terdalam seorang manusia untuk membalas kejahatan yang sama. Sebetulnya, dorongan emosional tersebut sifatnya sangat manusiawi. Bagaimana tidak jengkel manakala kita merasa telah berbuat baik namun faktanya kita mendapatkan balasan buruk dan merasa terdzalimi.

Ketahuilah bahwa walaupun membalas keburukan dengan keburukan yang sama merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Namun ternyata sikap tersebut tidaklah membuat seseorang menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahkan di hadapan manusia.

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap seseorang bilamana merasa terdzalimi? Bila kita mengaku sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah selayaknya kita berupaya meniru kemuliaan akhlaqnya. Sedangkan akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tidak membalas keburukan dan apalagi melaknat mereka yang telah berbuat kedzaliman kepada dirinya walaupun beliau punya kesempatan untuk membalasnya. Bukan hanya itu, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan dan hidayah kepada para musuh-musuhnya. Hal ini banyak terekam dalam riwayat hadits. Di antaranya adalah;

قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

“Thufail bin ‘Amru datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan (melaksanakan perintah), maka do’akanlah supaya mereka binasa.” Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendo’akan (melaknat) kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda: ‘Ya Allah, berilah petunjuk (hidayah) kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’ (Hadits Bukhari Nomor 5918)

Dalam situasi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali tidak membalas dan mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang mendzaliminya. Sungguh mulia akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka yang mendzaliminya tetap didoakan yang terbaik. Sebagaimana terekam dalam sebuah hadits berikut;

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril q , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR. Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)

Sungguh teladan yang sangat mulia ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya, beliau malah mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukan hanya Nabi tidak membalas kedzaliman mereka, sungguh Allah telah melarang Nabi Muhammad mengutuk mereka yang mendzaliminya. Sebagaimana sabda Nabi berikut;

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ }

“dari [Anas], bahwa gigi geraham Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pecah ketika perang Uhud, dan kepala beliau juga terluka hingga mengalirkan darah, beliau lalu bersabda: “Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, sedangkan mereka melukai nabinya dan mematahkan gigi gerahamnya.” Oleh karena itu beliau memohon kepada Allah untuk mengutuk mereka, lalu Allah Azza wa jalla menurunkan ayat: ‘(Kamu tidak memiliki wewenang apa-apa terhadap urusan mereka…) ‘ (Qs. Ali Imran: 128).” (Hadits Muslim Nomor 3346)

Pelajaran yang kita bisa ambil adalah, jangan sekali-kali membalas keburukan dengan keburukan, karena kita tidak tahu dengan takdir apa yang akan Allah tetapkan kepadanya. Bisa jadi mereka yang selalu nilai buruk akan diberikan hidayah oleh Allah di penghujung hidupnya. Dan mungkin sebaliknya dengan apa yang kita alami, naudzubillahi min dzalik. Maka berhati-hatilah untuk membalas kedzaliman. Maka sangat jelas sekali bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang dan mengharamkan berbalas keburukan, sebagaimana dalam sabdanya;

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ قَالَ اضْرِبُوهُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَمِنَّا الضَّارِبُ بِيَدِهِ وَالضَّارِبُ بِنَعْلِهِ وَالضَّارِبُ بِثَوْبِهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ أَخْزَاكَ اللَّهُ قَالَ لَا تَقُولُوا هَكَذَا لَا تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diserahi seseorang yang minum khamar. Lantas beliau berujar: “pukullah dia”. Abu Hurairah berkata; maka diantara kami ada yang memukulnya dengan dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya dan ada yang memukul dengan pakaiannya. Tatkala selesai, sebagian orang ada yang berkata; ‘Kiranya Allah menghinakanmu! ‘ maka Nabi bersabda: “Janganlah kalian mengatakan yang demikian, janganlah kalian membantu setan memperdayakannya!” (Hadits Bukhari Nomor 6279)

Walaupun orang lain telah berbuat jahat dan dzalim kepada kita, namun tidak selayaknya kita membalas dengan keburukan yang sama, sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Doa terbaik menghadapi orang lain yang jahat dan dzalim adalah mengharap hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga pelaku kejahatan dan kedzaliman segera tobat dan menyadarinya.

Janganlah mudah berbalas keburukan, sebab nasib buruk akan menimpa seseorang yang mudah menebar keburukan. Jadi hindari kebiasaan berbuat buruk kepada orang lain, apalagi menumpahkan kejengkelan dengan sumpah serapah.

Mendoakan keburukan kepada orang lain agar tertimpa suatu bencana dan berharap mendapat celaka sangat dilarang sekalipun mereka telah bersikap dzalim kepada kita. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah (laknatlah) untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'” (Hadits Muslim Nomor 4704)

Sekalipun orang lain telah berbuat kedzaliman kepada kita, membalas laknat dengan mendoakan berharap orang lain agar tertimpa suatu bencana atau musibah sangat tidak dianjurkan. Hindari melaknat sebisa mungkin agar tidak berbalik keburukannya menimpa kita. Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak mendoakan keburukan bagi orang lain.

Nabi menolak doa keburukan sebab hakikat berdoa adalah memohon kebaikan kepada Allah. Bagi seseorang yang memiliki keutamaan iman dalam Islam, seharusnya tidak akan mendoakan keburukan pada orang lain karena setiap manusia bisa saja berbuat salah. Bila kita mudah mendoakan baik pada orang lain, niscaya kita akan banyak didoakan baik pula. Bila kita mudah memaafkan, niscaya kita akan mudah dimaafkan bila khilaf berbuat salah.

Penutup

Memberi maaf adalah perbuatan yang jauh lebih sulit untuk dilakukan dibandingkan dengan sekedar minta maaf. Oleh karena itu alangkah mulianya orang yang senantiasa mau memberi maaf kepada orang yang berbuat salah yang memohon maaf kepada kita. Dengan sikap memafkan orang lain, maka perselisihan dan permusuhan pun semakin berkurang, maka kerukunan hidup pun akan tercipta. Budaya saling memaafkan inilah yang harus dimiliki oleh bangsa kita terutama pada para pelajar begitu juga dalam masyarakat. Sehingga setiap ada persoalan tidak berujung kericuan, perselisihan, pertikaian, permusuhan, tawuran dan perkelahian yang justru menurunkan martabat sebagai manusia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke