Memahami Watak Asli Manhaj Salafi

Akhir-akhir ini muncul fenomena pertikaian yang disebabkan perbedaan amaliyah umat Islam. Golongan kecil umat Islam mengprovokasi dan mengagitasi amalan-amalan yang selama ini sudah diamalkan oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia. Bukan sekedar perselisihan yang disebabkan perbedaan perkara ushul atau pokok, namun sayangnya penyebab pertikaian tersebut hanya berasal dari persoalan amaliyah yang sifatnya furu’ atau cabang-cabang agama ajaran Islam. Semisal contoh kasus amaliyah doa qunut, dzikir dengan suara keras, dzikir berjamaah, ziarah qubur, dan lain sebagainya.

Perbedaan fatwa antar ulama memang perkara yang tidak dapat dihindari di dalam agama Islam disebabkan perbedaan persepsi terhadap sumber hukum Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Atau bahkan perbedaan ulama disebabkan karena faktanya terjadi perbedaan dan pertentangan antar hadits itu sendiri karena faktor perbedaan redaksi periwayatannya. Namun sebelum kehadiran manhaj Salafi, perbedaan tersebut hanya berimplikasi perbedaan pilihan dalam mengamalkan di kalangan umat Islam dengan menghormati pilihan pihak lain yang berbeda.

Namun berbeda dengan manhaj Salafi. Golongan ini menyelisihi ijma ulama, sebab golongan ini dalam menyikapi perbedaan amaliyah ajaran agama Islam bukan dianggap sebuah pilihan, namun mereka menganggap perbedaan fatwa dan pandangan dari pihak lain yang berbeda dengan pandangan kelompoknya sebagai sebuah penyelewengan yang dianggap sesat yang layak dimusnahkan dan dihabisi karena mereka menganggap telah menyelisihi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bila mereka menganggap orang lain sudah menyelisihi Nabi, maka mereka tidak segan-segan lagi untuk menuduh sebagai ahlul bid’ah, sesat, fasik, munafik, dan bahkan kafir yang layak dihabisi. Kita ambil saja satu kasus fatwa ulama Salafy yang menyelisihi ijmak jumhur ulama dan ijma mayoritas umat Islam. Yaitu;

Tasyahud awal adalah duduk setelah sujud kedua pada raka’at kedua dalam shalat. Jumhur ulama Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, dan Hambali menghukumi sunnah duduk tasyahud awal dalam shalat lima kali sehari semalam selain shalat subuh. Terjadi perbedaan hanya pada tataran level kesunnahannya, seperti Imam Syafi’i menganggap duduk tasyahud awal sebagai sunnah ab’ad, sehingga bila ditinggalkan maka wajib (keharusan yang masih dalam koridor kesunnahan) diganti dengan sujud sahwi.

Namun ada juga sebagai kalangan yang menyelisihi ijma ulama tersebut dengan mengatakan bahwa duduk tasyahud awal. Mereka yang menganggap wajib duduk tasyahud awal tersebut di antaranya adalah kalangan Salafy yang dipelopori oleh oleh Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Kalangan Salafy ini mendasarkan pandangannya pada riwayat dari Abdullah bin Buhainah ia mengatakan,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم صلَّى بهم الظُّهرَ، فقام في الرَّكعتينِ الأُوليَيْنِ، لم يجلِسْ، فقام النَّاسُ معه، حتَّى إذا قضى الصَّلاةَ، وانتظَرَ النَّاسُ تسليمَه،كبَّرَ وهو جالسٌ، فسجَد سجدتينِ قبْلَ أنْ يُسلِّمَ، ثم سلَّمَ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengimami para sahabat. Beliau salat di dua rakaat pertama tanpa duduk (tasyahud awal). Maka orang-orang pun ikut berdiri (tidak tasyahud awal). Sampai ketika salat hampir selesai, orang-orang menunggu beliau salam, namun ternyata beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sujud sebelum salam. Kemudian setelah itu baru salam“ (HR. Bukhari no. 829, Muslim no. 570)

Kemudian juga hadis dari Rifa’ah bin Rafi radhiallahu’anhu,

إذا أنتَ قُمْتَ في صلاتِكَ، فكبِّرِ اللهَ تعالى، ثم اقرَأْ ما تيسَّرَ عليك مِن القُرآنِ، وقال فيه: فإذا جلَسْتَ في وسَطِ الصَّلاةِ، فاطمئِنَّ وافتَرِشْ فخِذَك اليُسرى، ثم تشهَّدْ، ثم إذا قُمْتَ فمِثْلَ ذلك حتَّى تفرُغَ مِن صلاتِكَ

“Jika engkau berdiri untuk salat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang engkau mampu”. Kemudian Nabi juga bersabda di dalamnya: “jika engkau duduk di tengah salat, maka duduklah dengan tuma’ninah dan bentangkanlah pahamu yang sebelah kiri, kemudian tasyahudlah. Kemudian jika engkau berdiri lagi (untuk rakaat ke-3) maka semisal itu juga sampai selesai salat.” (HR. Abu Daud no. 860)

Hanya berdasarkan perintah dzahirnya hadits dan tanpa mempertimbangkan ada hadits lain yang berbeda, golongan ini secara serampangan langsung berani mendakwahkan kewajiban duduk tasyahud awal tanpa didasari kaidah hukum Islam. Penisbatan hukum wajib hanya pada dzahirnya teks hadits dan hanya didasarkan pada beberapa hadits tanpa dibandingkan dengan riwayat hadits lainnya, maka hukumnya batil. Bukan bearti sebuah perintah dalam sebuah hadits memiliki dilalah (petunjuk) wajib. Karena untuk memutuskan sebuah hukum dalam Islam masih diperlukan metode istinbat yang benar.

Sebagaimana jumhur ulama yang memiliki reputasi seperti empat imam madzhab menganggap hukum duduk tasyahud awal tidak wajib sebab dalam riwayat lain Nabi terkadang tidak melakukannya. Maka bila semua dalil telah dihadirkan dan kemudian didapatkan fakta bahwa terkadang Nabi melakukan dan terkadang tidak, maka hal tersebut menunujukkan hukumnya tidak wajib melainkan hanya sunah belaka. Dalil yang menujukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan duduk tasyahud awal. Diriwayatkan dari Abdullah bin Buhainah radliallahu ‘anhu,

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين ثم قام فلم يجلس فقام الناس معه فلما قضى صلاته وانتظرنا تسليمه كبر فسجد سجدتين وهو جالس قبل التسليم ثم سلم.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan kami dua raka’at. Kemudian beliau berdiri dan tidak duduk. Orang-orangpun berdiri mengikuti beliau. Tatkala beliau menyelesaikan shalatnya dan kami menunggu bacaan salam beliau, maka beliau bertakbir dan sujud dua kali dan beliau duduk sebelum salam dan kemudian baru melakukan salam.” (Hadits Riwayat Abu Daud)

Disitulah fatalnya golongan Salafi yang enggan menjalankan syariat agamanya menggunakan metode manhaj atau bahkan madzhab, melainkan hanya didasarkan sebuah potongan-potongan hadits. bila memutuskan hukum dalam agama Islam tanpa menggunakan kaidah maka pasti dampaknya akan sesat dan menyesatkan. Hasil yang diputuskan pasti akan menyelisihi ijma ulama, dan ijma jumhur ulama. Di mana hukum menyelisihi sesuatu yang telah disepakati oleh mayoritas umat Islam yang sudah diamalkan dari masa ke masa adalah haram.

Dengan begitu pendapat golongan salafi yang diwakili oleh Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yang mengatakan bahwa duduk tasyahud awal hukumnya wajib, tidak dapat digunakan dan wajib ditinggalkan sebab telah menyelisihi ijmak ulama imam madzhab dan menyelisihi pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa duduk tasyahud awal hukumnya sunnah.

Sebagaimana kita kenal bahwa empat imam mujtahid seperti Imam abu Hanifah yang tergolong Tabi’in, dan Imam Malik, Imam Syafi’i, serta Imam Hambali di mana mereka ternyata tergolong Tabi’ut Tabi’in. Berbeda dengan semisal Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Sebagai gambaran bahwa Nabi Muhammad lahir di Mekkah pada tahun 571 M. Dan meninggal di Madinah 632 M. Kemudian empat Imam madzhab masih masuk ke dalam kategori Salafus Shalih, yakni; Abu Hanifah (Irak 699 M. – Irak 767) jarak hidup dari Nabi 128 tahun. Beliau termasuk Tabi’in, dan pendiri madzhab Hanafi. Malik bin Anas (Madinah 711 M. – Madinah 711 M.) jarak hidup dari Nabi 140 tahun. Beliau Termasuk Tabi’ut Tabi’in, dan Pendiri madzhab Maliki. Imam Asy-Syafi’i (Palestina 767 M. – Mesir 819 M.) jarak hidup dari Nabi 196 tahun. Beliau pendiri madzhab Syafi’i. Dan Imam Hambali (Turkmenistan 780 M. – Irak  855 M.) jarak hidup dari Nabi 209 tahun. Beliau pendiri madzhab Hambali.

Sedangkan ulama yang digaung-gaungkan oleh golongan Salafi sebagai Salafus Shalih ternyata faktanya tidak, sebut saja ulama mereka seperti Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Riyadh 1909 M. – Mekkah 1999 M.) jarak hidup dari Nabi 1338 tahun. Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Albania 1914 M. – Yordania 1999 M.) jarak hidup dari Nabi 1343 tahun. Dan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Saudi 1925 M. – Jeddah 2001 M.) jarak hidup dari 1354 Nabi tahun. Mereka ulama Salafi atau yang lebih dikenal sebagai Wahabi ternyata sangat jauh sekali jarak hidupnya dari Nabi.

Jadi, bila umat Islam sekarang lebih mengagungkan pendapat ulama Salafi seperti Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dengan mengabaikan fatwa ke empat Imam madzhab yang jelas-jelas sebagai Salafus Shalih sebab mereka tergolong Tabi’in dan Tabiut-Tabi’in maka mereka sangat salah besar.

Dengan begitu ke empat Imam Madzhab tersebut lebih layak disebut sebagai Salafus Shalih. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentitahkan kita untuk mengikuti mereka generasi Salafus Shalih. Menapaki jalan yang mereka tempuh, berperilaku selaras dengan apa yang telah mereka lakukan. Menapaki cara pandang hidup (manhaj) yang sesuai dengan cara pandang mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)

Dengan begitu para sahabat Nabi, para Tabi’in seperti Imam Hanafi, para Tabi’ut Tabi’in seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali adalah orang yang jelas-jelas pemahamannya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib kita lebih mengutamakan untuk mengikuti jalan mereka, perkataan-perkataan mereka, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dan (Allah) memberi petunjuk kepada (agama)-Nya, orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy-Syura: 13)

Secara mutlak istilah as-salafu ash-shalih tidak boleh disematkan kepada selain mereka. Dan batal hukumnya bilamana ada ulama selain tiga kurun yang utama tersebut mengklaim dirinya sebagai ulama as-salafu ash-shalih. Sebagaimana golongan Salafi yang mengklaim bahwa ulama-ulamanya, di mana kenyataannya mereka lahir di zaman modern sebagai as-salafu ash-shalih.

Umat Islam yang lahir pada generasi terbaru berkewajiban untuk mengikuti para ulama seperti ke empat imam madzhab tersebut karena mereka jelas sebagai as-salafu ash-shalih. Kita wajib berada di atas manhaj as-salaf dengan mengikuti mereka dari aspek pemahaman, i’tiqad, perkataan maupun amal. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam mereka orang-orang yang memilih jalan-jalan selain jalan yang ditempuh as-salafu ash-shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

As-Salafiyah bukan semata-mata perkara penisbahan (pengakuan), namun istilah tersebut simbol dari sebuah tekad untuk memurnikan keikhlasan untuk mengabdi dan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ghirah kita untuk ittiba’ Nabi memiliki keterbatasan jarak waktu yang sangat jauh dan juga kita tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Nabi. Maka tidak ada pilihan lain agar supaya pemahaman kita lebih selamat, maka kita ittiba’ pada Nabi dengan cara mengambil fatwa, penjelasan, dan penafsiran pemahaman para Salafus Shalih yang diwakili oleh empat imam Madzhab tersebut. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِـي ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, sedang mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Hadits Riwayat Bukhari, Nomor 7311)

Dari penjelasan panjang di atas sudah sangat jelas bahwa manhaj Salafy sudah layak ditolak dan ditinggalkan sebab bertentangan dan menyelisihi manhaj mayoritas umat Islam. Bila manhaj Salafy ini dipaksakan untuk diamalkan dan diikuti, maka realitas yang sudah terjadi umat Islam terjebak pada pertikaian dan konflik sehingga menyebabkan runtuh dan hancurnya sosial kehidupan umat Islam. Hal itu terjadi disebabkan dalam manhaj Salafy tidak ada konsep toleransi, sebab mereka menganggap bahwa perbedaan itu sebuah kesalahan yang layak untuk dihabisi.pandangan tersebut bertentangan fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah bahwa kehidupan dan agama Islam diciptakan sesuai dengan fitrahnya,

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. ar-Rum: 30)

Sedangkan salah satu fitrah yang ditetapkan oleh Allah adalah manusia dan kehidupan diciptakan berbeda-beda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْد اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Sedangkan manusia dilahirkan secara fitrah berbeda. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ أََبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.* فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذلِكَ؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللهُ اَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknya yang menjadikan agamanya yahudi atau nasrani atau majusi. Maka ada orang yang bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapat engkau tentang orang yang meninggal sebelum itu? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jika Islam adalah agama fitrah sedangkan fitrah manusia dilahirkan berbeda dan bervariasi, maka manhaj Ahlussunnah wal Jamaah atau juga dikenal dengan manhaj Sunni, berpandangan bahwa sebuah perbedaan adalah fitrah dan sunnatullah yang disediakan oleh Allah. Bila perbedaan itu sudah fitrah, maka dilarang untuk saling memaksakan karena tidak ada paksaan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al Baqarah: 256)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84)

Sikap bijak menghadapi perbedaan yang terjadi dalam kalangan umat Islam adalah, kita harus menerima lapang dada dengan cara menghormati dan toleransi terhadap perbedaan bukan harus menghukumi sebab Islam itu agama yang mudah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Bila Manhaj Salafi yang tidak mengenal toleransi dipaksa untuk diamalkan, niscaya umat Islam mudah kalah dan terkalahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan Al Ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat setelah zhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah (berangkat di waktu malam) “. (Hadits Bukhari Nomor 38 dan Hadits Nasai Nomor 4948)

Umat Islam mudah kalah sebab dengan sikap ektrim dan menolak perbedaan sejatinya mereka sedang mempersulit, memperberat dan mempersulit diri sendiri.

Karena perbedaan kondisi dan situasi yang dimiliki oleh setiap manusia yang dipengaruhi perbedaan zaman dan geografis yang ditinggali oleh masing-masing umat Islam. Maka, perbedaan dan variasi ajaran agama Islam disebabkan Allah sengaja mendiamkan beberapa hal tidak diatur di dalam Al-Qur’an maupun hadits tersebut disediakan bagi umat Islam untuk dipilih mana yang lebih cocok dengan keadaannya masing-masing agar lebih mudah dalam menjalani kehidupannya sebagai bentuk rahmat dari Allah. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

Baca juga;

Menghargai Perbedaan Lebih Utama Demi Menjaga Kerukunan Umat Islam dan Umat Beragama

Perbedaan Bukan untuk Dipertentangkan, Namun untuk Kemudahan Manusia

Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan dalam Agama Islam

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

 

Artikel yang sama;

Fatwa Ulama Salafi Wajib Ditinggalkan Sebab Menyelisihi Ijma Empat Ulama Imam Madzhab

Fatwa Ulama Salafi Wajib Ditinggalkan Bila Menyelisihi Ijma Empat Ulama Imam Madzhab

Fatwa Ulama Salafi Wajib Ditinggalkan Sebab Menyelisihi Ijma Jumhur Ulama

Fatwa Ulama Salafi Wajib Ditinggalkan Bila Menyelisihi Ijma Jumhur Ulama

Manhaj Salafi Wajib Ditolak dan Ditinggalkan Sebab Menyelisihi Ijma Ulama dan Ijma Mayoritas Umat Islam

Hikmah Allah Menciptakan Perbedaan Adalah Sebagai Rahmah

Bagikan Artikel Ini Ke