Membalas Kedzaliman dengan Maaf Lebih Utama Dibanding Membalas Laknat

Agak heran ketika mendengarkan ceramah ustadz-ustadz dari kelompok muslim garis keras, ekstrim, dan radikal, utamanya dari golongan Wahabi. Mereka menyatakan boleh mendo’akan keburukan kepada orang yang mendzalimi kita atau mendzalimi umat Islam. Agar tampak kuat, lalu dikutiplah nash-nash yang mereka simpulkan nash tersebut membolehkan mendoakan keburukan, melaknat, dan mengutuk orang lain yang dzalim. Inilah bahayanya menyimpulkan sendiri suatu hukum dari satu atau dua nash tanpa memperhatikan nash lain, dan tanpa sadar diri, apa kapasitas kita untuk menghukumi ini halal ini haram, tanpa menengok bagaimana ‘ulama yang sudah matang ilmunya berbicara hal tersebut.

Nash-nash yang digunakan kelompok muslim keras yag membolehkan melaknat orang lain yang dianggap dzalim diantaranya adalah;

Pandangan mereka disandarkan pada fatwa Imam Nawawi (w. 676 H), beliau menyatakan;

وَقَدْ تَظَاهَرَ عَلىَ جَوَازِهِ نُصُوْصُ الْكِتَابِ وَالسُنَةِ وَأَفْعَالُ سَلَفِ الْأُمَةِ وَخَلَفِهَا

Artinya: “Telah jelas kebolehan hal tersebut [mendoakan keburukan kepada orang yang berbuat zalim] berdasarkan nash-nash Al Qur`an dan As sunnah. Juga berdasarkan perbuatan generasi umat Islam terdahulu (salaf) maupun generasi terkemudian (khalaf).” (Imam Nawawi, Al Adzkar An Nawawiyyah, hlm. 479).

Nash yang dimaksud adalah;

۞ لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat An-Nisa’ Ayat 148)

Mereka juga menyandarkan pada fatwa Imam as Suyuthi (w.911), dalam tafsirnya menyatakan:

“لَا يُحِبّ اللَّه الْجَهْر بِالسُّوءِ مِنْ الْقَوْل” مِنْ أَحَد أَيْ يُعَاقِبهُ عَلَيْهِ “إلَّا مَنْ ظُلِمَ” فَلَا يُؤَاخِذهُ بِالْجَهْرِ بِهِ بِأَنْ يُخْبِر عَنْ ظُلْم ظَالِمه وَيَدْعُو عَلَيْهِ

Artinya: (Allah tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan secara terus terang) dari siapa pun juga, artinya Dia pastilah akan memberinya hukuman (kecuali dari orang yang dianiaya) sehingga apabila dia mengucapkannya secara terus terang misalnya tentang keaniayaan yang dideritanya sehingga ia mendoakan si pelakunya, maka tidaklah dia akan menerima hukuman dari Allah.

Lebih jelas, Imam Al Qurthubi (w. 671 H) menyatakan dalam tafsirnya (الجامع لأحكام القرآن = تفسير القرطبي juz 6 hal 1), mengutip sahabat Ibnu Abbas radliallahu ‘anha:

الْمُبَاحُ لِمَنْ ظُلِمَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ، وَإِنْ صَبَرَ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ، فَهَذَا إِطْلَاقٌ فِي نَوْعِ الدُّعَاءِ عَلَى الظَّالِمِ

Artinya: Adalah boleh bagi orang yang didzalimi untuk mendoakan keburukan kepada orang yang mendzaliminya, jika dia bersabar itu lebih baik baginya, dan ini mutlak dalam semua jenis do’a kepada orang dzalim.

Dalil-dalil yang juga digunakan mereka untuk membenarkan laknat, kutukan, cacian, dan doa keburukan untuk melampiaskan rasa kebencian mereka adalah;

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنْ شَيْءٍ فَقَالَتْ مِمَّنْ أَنْتَ فَقُلْتُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ فَقَالَتْ كَيْفَ كَانَ صَاحِبُكُمْ لَكُمْ فِي غَزَاتِكُمْ هَذِهِ فَقَالَ مَا نَقَمْنَا مِنْهُ شَيْئًا إِنْ كَانَ لَيَمُوتُ لِلرَّجُلِ مِنَّا الْبَعِيرُ فَيُعْطِيهِ الْبَعِيرَ وَالْعَبْدُ فَيُعْطِيهِ الْعَبْدَ وَيَحْتَاجُ إِلَى النَّفَقَةِ فَيُعْطِيهِ النَّفَقَةَ فَقَالَتْ أَمَا إِنَّهُ لَا يَمْنَعُنِي الَّذِي فَعَلَ فِي مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ أَخِي أَنْ أُخْبِرَكَ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“dari [Abdurrahman bin Syimasah] dia berkata, “Saya mendatangi [‘Aisyah] untuk menanyakan tentang sesuatu, maka dia balik bertanya, “Dari manakah kamu?” Saya menjawab, “Seorang dari penduduk Mesir.” Aisyah berkata, “Bagaimana keadaan sahabat kalian yang berperang bersama kalian dalam peperangan ini?” dia menjawab, “Kami tidak pernah membencinya sedikitpun, jika keledai salah seorang dari kami mati maka dia menggantinya, jika yang mati budak maka dia akan mengganti seorang budak, dan jika salah seorang dari kami membutuhkan kebutuhan hidup maka ia akan memberinya.” ‘Aisyah berkata, “Tidak layak bagiku jika saya tidak mengutarakan keutamaan saudaraku, Muhammad bin Abu Bakar, saya akan memberitahukanmu sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berdo’a ketika berada di rumahku ini: “Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (Hadits Muslim Nomor 3407)

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Khandak juga dijadikan dalil untuk membenarkan mereka melaknat, mengutuk, dan mendoakan keburukan.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَبَسُونَا عَنْ صَلَاةِ الْوُسْطَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مَلَأَ اللَّهُ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا

“dari [Ali radliallahu ‘anhu] bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda pada hari perang Khandak, “Mereka telah menahan kita dari shalat Wushtha yaitu Shalat Ashar, semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kubur-kubur mereka dengan api.” (Hadits Abu Daud Nomor 346)

Mereka juga berdalih bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutuk Busrun hingga tidak bisa makan menggunakan tangan kiri, karena tidak mau makan pakai tangan kanan:

أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ كُلْ بِيَمِينِكَ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ لَا اسْتَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

“bahwa seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan kirinya, Lalu Rasulullah bersabda: “Makanlah dengan tangan kananmu! Dia menjawab; ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda: “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (Hadits Muslim Nomor 3766)

Mereka juga memperkuat pendangannya dengan mengatakan bahwa melaknat juga bagian dari ajaran dan syariat agama Islam. Sebagaimana nabi juga terbiasa melaknat para pelaku keburukan. Sebagaimana Nabi melaknat manusia yang menyambung rambut;

أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَسَقَطَ شَعَرُهَا فَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْوِصَالِ فَلَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمَوْصُولَةَ

“bahwa seorang laki-laki Anshar menikah dengan seorang wanita. Ternyata rambutnya wanita itu rontok. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang wishal (menyambung rambut), beliau melaknat wanita yang menyambung dan yang minta disambungkan rambutnya.” (Hadits Ahmad Nomor 19412)

Dalam hadits lain juga disebutkan;

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki, sabdanya: “Keluarkanlah mereka dari rumah kalian.”Ibnu Abbas melanjutkan; ‘Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengeluarkan seorang fulan begitu juga dengan Umar.’ (Hadits Bukhari Nomor 5436)

Mereka juga memaksa untuk menafsiri sebuah sabda Nabi bahwa bagi mereka yang merasa terdzalimi boleh melaknat sesukanya. Sebagaimana sebuah Hadits yang dibuat hujjah berikut ini;

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Dari Abu Jafar, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Tiga doa yang tidak diragukan lagi kemustajabannya: (1) doa orang yang terzalimi, (2) doa orang yang bepergian, (3) doa orang tua untuk anaknya. (HR Ahmad Nomor 1771)

Agar pendapat mereka terlihat semakin kuat bahwa mengutuk itu dibolehkan, mereka mengutip doa-doa para ulama yang dianggapnya kutukan (al Mausu’ah al Fiqhiyyah, juz 20 hal 267 dst.);

Doa Sa’ad bin Abi Waqqash;

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَال: شَكَا أَهْل الْكُوفَةِ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَعَزَلَهُ وَاسْتَعْمَل عَلَيْهِمْ. . وَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَال: أَرْسَل مَعَهُ عُمَرُ رِجَالاً أَوْ رَجُلاً إِلَى الْكُوفَةِ يَسْأَل عَنْهُ، فَلَمْ يَدَعْ مَسْجِدًا إِلاَّ سَأَل عَنْهُ وَيُثْنُونَ مَعْرُوفًا، حَتَّى دَخَل مَسْجِدًا لِبَنِي عَبْسٍ، فَقَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ يُقَال لَهُ: أُسَامَةُ بْنُ قَتَادَةَ، يُكَنَّى أَبَا سَعْدَةَ فَقَال: أَمَّا إِذَا نَشَدْتَنَا فَإِنَّ سَعْدًا لاَ يَسِيرُ بِالسَّرِيَّةِ، وَلاَ يَقْسِمُ بِالسَّوِيَّةِ، وَلاَ يَعْدِل فِي الْقَضِيَّةِ. قَال سَعْدٌ: أَمَا وَاللَّهِ لأََدْعُوَنَّ بِثَلاَثٍ: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَأَطِل عُمُرَهُ، وَأَطِل فَقْرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ. فَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ يَقُول: شَيْخٌ مَفْتُونٌ أَصَابَتْنِي دَعْوَةُ سَعْدٍ. قَال عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ الرَّاوِي عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ: فَأَنَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ قَدْ سَقَطَ حَاجِبَاهُ عَلَى عَيْنَيْهِ مِنَ الْكِبَرِ، وَإِنَّهُ لَيَتَعَرَّضُ لِلْجَوَارِي فِي الطُّرُقِ فَيَغْمِزُهُنَّ.

Doa Sa’id bin Zaid juga pernah mendoakan agar Allah membutakan mata arwa binti qais, dan doa ini akhirnya diijabah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَعَنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أَوْسٍ – وَقِيل: أُوَيْسٍ – إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ، وَادَّعَتْ أَنَّهُ أَخَذَ شَيْئًا مِنْ أَرْضِهَا، فَقَال سَعِيدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا كُنْتُ آخُذُ مِنْ أَرْضِهَا شَيْئًا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَال: مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَال سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول: مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَْرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهَ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ. قَال مَرْوَانُ: لاَ أَسْأَلُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا، فَقَال سَعِيدٌ: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَأَعْمِ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا، قَال: فَمَا مَاتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا، وَبَيْنَمَا هِيَ تَمْشِي فِي أَرْضِهَا إِذْ وَقَعَتْ فِي حُفْرَةٍ فَمَاتَتْ.

Jadi jangan heran bialama golongan Islam radikal walaupun jargonnya kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah, namun faktanya perilaku mereka buruk, kasar, dan sangat jauh dari akhlaq Nabi.

Bantahan Terhadap Muslim Radikal yang Menghalalkan Melaknat, Mengutuk, dan Berdoa Keburukan

Memang benar, dalam situasi terdzalimi tidak jarang mendorong sisi terdalam seorang manusia untuk melaknat, mengutuk, atau mendoakan keburukan kepada mereka. Sebetulnya, dorongan emosional tersebut sifatnya sangat manusiawi. Bagaimana tidak jengkel manakala kita merasa telah berbuat baik namun faktanya kita mendapatkan balasan buruk dan merasa terdzalimi.

Ketahuilah bahwa walaupun mencaci, memaki, atau bahkan melaknat sekalipun merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Namun ternyata sikap tersebut tidaklah membuat seseorang menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahkan di hadapan manusia.

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap seseorang bilamana merasa terdzalimi? Bila kita mengaku sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah selayaknya kita berupaya meniru kemuliaan akhlaqnya. Sedangkan akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tidak membalas keburukan dan apalagi melaknat mereka yang telah berbuat kedzaliman kepada dirinya walaupun beliau punya kesempatan untuk membalasnya. Bukan hanya itu, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan dan hidayah kepada para musuh-musuhnya. Hal ini banyak terekam dalam riwayat hadits. Di antaranya adalah;

قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

“Thufail bin ‘Amru datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan (melaksanakan perintah), maka do’akanlah supaya mereka binasa.” Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendo’akan (melaknat) kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda: ‘Ya Allah, berilah petunjuk (hidayah) kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’ (Hadits Bukhari Nomor 5918)

Dalam situasi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali tidak membalas dan mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang mendzaliminya. Sungguh mulia akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka yang mendzaliminya tetap didoakan yang terbaik. Sebagaimana terekam dalam sebuah hadits berikut;

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril q , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR. Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)

Sungguh teladan yang sangat mulia ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya, beliau malah mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukan hanya Nabi tidak membalas kedzaliman mereka, sungguh Allah telah melarang Nabi Muhammad mengutuk mereka yang mendzaliminya. Sebagaimana sabda nabi berikut;

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ }

“dari [Anas], bahwa gigi geraham Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pecah ketika perang Uhud, dan kepala beliau juga terluka hingga mengalirkan darah, beliau lalu bersabda: “Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, sedangkan mereka melukai nabinya dan mematahkan gigi gerahamnya.” Oleh karena itu beliau memohon kepada Allah untuk mengutuk mereka, lalu Allah Azza wa jalla menurunkan ayat: ‘(Kamu tidak memiliki wewenang apa-apa terhadap urusan mereka…) ‘ (Qs. Ali Imran: 128).” (Hadits Muslim Nomor 3346)

Berdasarkan hadits di atas, ini sebagai bukti bahwa walaupun seseorang terdzalimi, doa keburukan yang dipanjatkan tidak akan dikabulkan oleh Allah. Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan:

وَنَزَلَتْ لَمَّا كُسِرَتْ رُبَاعِيَّته صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشُجَّ وَجْهه يَوْم أُحُد وَقَالَ كَيْفَ يَفْلَح قَوْم خَضَّبُوا وَجْه نَبِيّهمْ بِالدَّمِ {لَيْسَ لَك مِنْ الْأَمْر شَيْء} بَلْ الْأَمْر لِلَّهِ فَاصْبِرْ {أَوْ} بِمَعْنَى إلَى أَنْ {يَتُوب عَلَيْهِمْ} بِالْإِسْلَامِ {أَوْ يُعَذِّبهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} بِالْكُفْرِ

Artinya: Ayat ini turun ketika Salah satu gigi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam rontok di waktu perang Uhud dan terdapat luka di wajah beliau sehingga darah pun mengalir ke bawah. Maka beliau berkata, ‘Bagaimana suatu kaum akan beruntung jika mereka berani melukai Nabi mereka, padahal ia menyeru mereka kepada Tuhan mereka?’ maka Allah menurunkan ayat:

(Tak ada sedikit pun hakmu untuk campur tangan dalam urusan mereka itu) tetapi semua itu urusan Allah, maka hendaklah kamu bersabar (apakah) artinya hingga (Allah menerima tobat mereka) dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam (atau menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka orang-orang yang aniaya) disebabkan kekafiran mereka.

Pemahaman yang kita bisa ambil adalah, jangan sekali-kali melaknat seseorang, karena kita tidak tahu dengan takdir apa yang akan Allah tetapkan kepadanya. Bisa jadi mereka yang selalu nilai buruk akan diberikan hidayah oleh Allah di penghujung hidupnya. Dan mungkin sebaliknya dengan apa yang kita alami, naudzubillahi min dzalik. Maka berhati-hatilah untuk tidak melaknat. Maka sangat jelas sekali bahwa Allah melarang dan mengharakan melaknat dan mengutuk orang lain, sebagaimana dalam sabdanya;

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ قَالَ اضْرِبُوهُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَمِنَّا الضَّارِبُ بِيَدِهِ وَالضَّارِبُ بِنَعْلِهِ وَالضَّارِبُ بِثَوْبِهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ أَخْزَاكَ اللَّهُ قَالَ لَا تَقُولُوا هَكَذَا لَا تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diserahi seseorang yang minum khamar. Lantas beliau berujar: “pukullah dia”. Abu Hurairah berkata; maka diantara kami ada yang memukulnya dengan dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya dan ada yang memukul dengan pakaiannya. Tatkala selesai, sebagian orang ada yang berkata; ‘Kiranya Allah menghinakanmu! ‘ maka Nabi bersabda: “Janganlah kalian mengatakan yang demikian, janganlah kalian membantu setan memperdayakannya!” (Hadits Bukhari Nomor 6279)

Walaupun orang lain telah berbuat jahat dan dzalim kepada kita, namun tidak selayaknya kita membalas dengan keburukan yang sama, sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Doa terbaik menghadapi orang lain yang jahat dan dzalim adalah mengharap hidayah dari Allah semoga pelaku kejahatan dan kedzaliman segera tobat dan menyadarinya.

Janganlah mudah melaknat, sebab nasib buruk akan menimpa seseorang yang mudah melaknat. Jadi hindari kebiasaan melaknat walaupun terhadap pelaku kemaksiatan, pelaku mungkar, kejahatan, orang kafir, orang dzalim, kepada para penguasa walaupun dzalim, atau bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencaci orang yang telah meninggal, sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan (pembalasan amal).” (Hadits Darimi Nomor 2399)

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya. Beliau berkata;

واحذر – أن تدعو على نفسك أو على ولدك أو على مالك أو على احد من المسلمين وإن ظلمك,  فإن من دعا على من ظلمه فقد انتصر. وفي الخبر “لا تدعوا على انفسكم ولا على أولادكم ولا على اموالكم لاتوافقوا من الله ساعة إجابة”.

“Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat; Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, hal. 141).

Seorang pelaknat akan dijauhkan dari mendapatkan pertolongan dan juga memberikan pertolongan kelak di akhiratnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada’ (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa’at pada hari kiamat kelak.'” (Hadits Muslim Nomor 4703)

Sekali laknat terlontar dari lisan seseorang, pantangan baginya tidak menemukan sasaran korbannya. Bilamana ternyata seseorang yang dilaknat tidak sesuai dengan tuduhannya, niscaya laknat tersebut akan kembali menghancurkan dirinya sendiri alias menjadi bumerang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا

“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (Hadits Abu Daud Nomor 4259)

Melaknat dan mengutuk hakikatnya adalah mendoakan keburukan kepada orang lain. Sedangkan hukumnya adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma para Ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Mendoakan keburukan kepada makhluq hidup atau benda mati, kepada orang lain atau diri sendiri, pada siapa pun atau apa pun dari kaum muslimin agar tertimpa suatu bencana dan berharap mendapat celaka sangat dilarang sekalipun mereka telah bersikap dzalim kepada kita. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah (laknatlah) untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'” (Hadits Muslim Nomor 4704)

Sekalipun orang lain telah berbuat kedzaliman kepada kita, membalas laknat dengan mendoakan berharap orang lain agar tertimpa suatu bencana atau musibah sangat tidak dianjurkan. Hindari melaknat sebisa mungkin agar tidak berbalik keburukannya menimpa kita. Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak mendoakan keburukan bagi orang lain.

Nabi menolak doa keburukan sebab hakikat berdoa adalah memohon kebaikan kepada Allah.

Bagi seseorang yang memiliki keutamaan iman dalam Islam, seharusnya tidak akan mendoakan keburukan pada orang lain karena setiap manusia bisa saja berbuat salah. Bila kita mudah mendoakan baik pada orang lain, niscaya kita akan banyak didoakan baik pula. Bila kita mudah memaafkan, niscaya kita akan mudah dimaafkan bila khilaf berbuat salah.

Jangan mengamalkan agama berdasarkan nafsu, sebab agama yang kita anut akan kerasukan iblis. Amalkan agama berdasarkan nurani dan kelembutan hati, niscaya jiwa kita akan dirasuki oleh para malaikat.

Akan lebih baik, lebih mulia, dan lebih besar pahalanya manakala kita memilih untuk bersabar, memberi maaf, dan mendoakannya mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji kepada orang yang lebih memilih untuk berbaik hati dan berbaik budi;

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Surat Asy-Syura Ayat 43)

Sungguh, lapang dada dan bersabar adalah lebih baik dan utama, bukankah lebih menyenangkan jika Allah ubah orang dzalim tersebut menjadi orang yang ta’at berkat kesabaran kita.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke