Mempercayai Karamah Para Wali Allah

Salah satu aqidah Sunni adalah meyakini, mempercayai dan mengakui karamah atau keistimewaan yang dimiliki para kekasih Allah. Karamah dalam ilmu kalam adalah suatu keajaiban di luar nalar manusia awam yang dimiliki seorang wali atas izin Allah. Para wali adalah orang shaleh yang telah dititipkan amanah ilmu. Allah meninggikan maqam dan derajat mereka di sisiNya dan di hadapan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Mujadilah Ayat 11)

Derajat para wali tentunya berbeda dibanding dengan orang kebanyakan. Yang membedakan adalah kekuatan batiniyahnya yang didorong kekuatan keimanannya kepada Allah yang dimiliki oleh para wali. Di mana kekuatan batin yang dimiliki para wali tersebut digunakan untuk meningkatkan pengabdiannya kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui (wali) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Surat Az-Zumar Ayat 9)

Walaupun terdapat sebagian golongan umat Islam mengingkari perkara ini, namun fakta dalil yang menyatakan perkara ini tidak dapat terbantahkan. Allah menganugerahkan kepada para walinya keajaiban-keajaiban dan kelebihan-kelebihan luar biasa dibanding manusia lainnya. Karomah atau biasa disebut keramat bukanlah mu’jizat dan bukan pula sihir, sebab mu’jizat hanya diberikan kepada para NabiNya dan sedangkan sihir hanya diamalkan oleh manusia-manuisa yang bersekutu dengan setan.

Karomah merupakan penghormatan yang langsung diberikan oleh Allah kepada kekasihnya selain para Nabi dan Rasul karena tingginya ketakwaannya.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ. لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Surat Yunus Ayat 62-24)

Karamah bisa berwujud sebuah kesaktian, bisa berwujud mudahnya doa terkabul, ataupun berwujud sebuah hikmah-hikmah yang dirasakan oleh orang lain. Sebagaimana karamah yang dimiliki Maryam binti Imran yang melahirkan seorang anak tanpa seorang laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (Surat At-Tahrim Ayat 12)

Maryam juga diberi pelayanan langsung dari Allah melalui para malaikatnya.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 37)

Atau karamah yang diberikan kepada Ashabul Kahfi yang diselamatkan dari penguasa dzalim dengan tidur bertahun tahun dalam gua.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا. إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (Surat Al-Kahf Ayat 9-10)

Atau karamah ‘Abbas bin Abdul Muththalib sebagai tawasul untuk kemudahan turunnya hujan. Sayidina ‘Umar berkata dalam doanya:

اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا  فَتَسْقِيَنَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

“Ya Allah, sesungguhnya dahulu ketika berdoa kepada-mu kami bertawassul dengan Nabi-Mu, Engkau pun menuruhkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami bedoa kepada-Mu dengan bertawassul dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan.” (HR. Bukhari)

Dan masih banyak lagi lainnya. Namun begitu terkait karamah para wali tidak bisa ditetapkan secara sembarangan dan serampangan. Karamah yang wajib diakui oleh umat Islam yang bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah karamah yang tentunya harus berkesesuaian dengan ketentuan al-Qur-an dan Sunnah.

Namun begitu, ada kriteria yang harus dipenuhi bahwa seseorang tersebut disebut wali. Diantaranya adalah seseorang dikategorikan wali disebabkan rasa takutnya (takwanya) kepada Allah lebih tinggi dibanding rata-rata makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surat Fatir Ayat 28)

Namun yang perlu diperhatikan adalah manakala seseorang terlihat memiliki keajaiban namun tidak menambah ketakwaan dan pengabdiannya kepada Allah, maka bisa dipastikan bahwa dia adalah walinya setan dimana ilmu sihir yang diamalkannya. Yakni sebuah kesaktian yang digunakan untuk mendapatkan kedudukan duniawi. Dan mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala sedikitpun kelak di akhiratnya.

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu (hitam-red) yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat.” (Hadits Abu Daud Nomor 3179[1])

Sungguh tinggi derajat para wali di hadapan Allah dan di mata manusia. Maka sudah selayaknya kita menghormati dan memuliakan mereka. Dengan menghormati dan memuliakan para wali, niscaya kita akan mendapatkan keberkahan atau barokah berkat doa-doa mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ. رواه الطبراني

“Keberkahan itu ada bersama para ulama (wali).” (HR Ath-Thabrani)

Sungguh hak para wali dijaga kehormatan dan kemuliaannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا. رواه الحاكم

”Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak-haknya para ulama (wali).” (HR Al-Hakim)

Perbanyaklah berkumpul dengan para wali. Perbanyaklah meminta barokah doa mereka. Dan cintailah para wali. Dengan mencintai orang-orang yang memiliki karomah, niscaya hidup kita senantiasa berada dalam ketenangan dan keberkahan atas izin dan ridha Allah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke