Mempersoalkan Kata Sayyidina

Memang ada sebagian dari kalangan umat Islam tidak terbiasa dengan ucapan sayyidina yang mempunyai arti penghormatan atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Namun pandangan tersebut sangat bertentangan dengan lebih banyak argumen yang membolehkan kata sayyidina. Menambahkan lafadz “Sayyidina” kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah tidak diragukan lagi hukum kebolehannya.

Sebelum memperpanjang pembahasannya, sebaiknya terlebih dahulu kita mencoba mengetahui apa arti kalimat sayyid. Dijelaskan dalam kitab “Ghoytsus Sahabah” karya Sayyidi Syeikh Muhammad Ba’atiyah halaman 39, dijelaskan bahwa: “Kata Sayyid jika dimaknai secara mutlak, maka yang dimaksud adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi jika dikehendaki makna lain maka bisa bermakna: Orang yang diikuti di kaumnya. Orang yang banyak pengikutnya. Dan orang yang mulia di antara relasinya.”

Sementara pada halaman 37 disebutkan: “Orang yang memimpin selainnya dengan berbagai kegiatan dan menunjukkan tinggi pangkatnya”. Sedangkan di dalam Kitab “Ghoyatul Muna” halaman 32, Sayyidi Syeikh Muhammad Ba’atiyah menyebutkan: “Sayyid ialah orang yang memimpin kaumnya atau yang banyak pengikutnya.” Dan masih banyak lagi makna lainnya.

Dengan begitu pelarangan menggunakan kata Sayyid dalam amaliah umat Islam sangat bertentangan dengan banyak dalil yang seringkali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan penggunaan kata Sayyidina tersebut. Di antara hadits yang dimaksud adalah;

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن عبد الله الزبيري ثنا يزيد بن مردانية قال حدثنا بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الحسن والحسين سيدا شباب أهل الجنة

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Az Zubairi yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Mardaniyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Nu’m dari Abi Sa’id Al Khudri yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Al Hasan dan Al Husain Sayyid [Pemimpin] Pemuda Ahli Surga.” (Musnad Ahmad 3/3 no 11012)

Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Sa’id adalah Abdurrahman bin Abi Nu’m, Atha’ bin Yasar, Athiyah Al Aufy. Berikut jalan yang shahih dari Abu Sa’id yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad 3/3 no 11012 dan Fadhail Ash Shahabah no 1384

Hadis ini sanadnya shahih para perawinya tsiqat. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad telah menyatakan bahwa sanadnya shahih para perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim kecuali Yazid bin Mardaniyah perawi Nasa’i yang tsiqat. Berikut keterangan mengenai para perawinya.

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang dengan tegas dan secara terang mengatakan bahwa dirinya adalah Sayyid bagi seluruh anak cucu Adam. Sebagaimana riwayat hadits berikut,

عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 4223)

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sayyid manusia di dunia dan akhirat.

Dalam redaksi yang berbeda namun dengan makna yang sama disebutkan,

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه : قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : أنا سيّد ولد آدم يوم القيامة ولافخر وبيدي لواءالحمد ولافخر, وما من نبيّ يومئذ آدم فمن سواه إلاّ تحت لوآئى وأنا اول من تنشقّ عنه الأرض ولافخر وأنا اول شافع واول مشفّع ولافخر : رواه أحمد

“Dari abi sa’id Al-khudri radliallahu ‘anhu: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; aku adalah penghulu (Sayyid) anak adam di hari kiamat tanpa membanggakan diri, dan di tanganku terletak panji pujian tanpa membanggakan diri,tiada seorang nabi pun di hari tersebut mulai dari nabi adam hingga Nabi-nabi lainnya kecuali berada di bawah panjiku aku adalah orang pertama yang bumi terbelah karna aku keluar dari dalamnya tanpa membanggakan diri,dan aku adalah orang pertama yang dapat memberi syafaat serta aku adalah orang pertama yang diperbolehkan memberi syafaat tanpa  membanggakan diri.” (HR.Imam Ahmad)

Hadits yang sama namun dari riwayat yang berbeda disebutkan,

حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى وَأَبُو إِسْحَقَ الْهَرَوِيُّ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاتِمٍ قَالَا حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَنْبَأَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ الْأَرْضُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلَا فَخْرَ وَلِوَاءُ الْحَمْدِ بِيَدِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ

“Telah menceritakan kepada kami Mujahid bin Musa dan Abu Ishaq Al Harawi Ibrahim bin Abdullah bin Hatim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Ali bin Zaid bin Jud’an dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya adalah pemuka (Sayyid) anak Adam dan tidak sombong. Aku adalah orang yang pertama kali di bukakan bumi (dibangkitkan) pada hari Kiamat, dan tidak sombong. Aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan di mintai syafa’at dan tidak sombong. Bendera pujian ada di tanganku pada hari Kiamat dan tidak sombong.” (Hadits Sunan Ibnu Majah Nomor 4298, Tirmidziy Nomor 3614 5/548, dan Ahmad Nomor 3/2)

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjuluki dirinya sebagai pemimpin seluruh alam (makhluq),

-ﺍﻧﺎ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

“Aku adalah pemimpin alam”

Imam Baihaqi juga meriwayakan sebuah hadits,

-ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ; ﻗﻮﻣﻮﺍ ﺍﻟﻰ ﺳﻴﺪﻛﻢ

Pada hadits ini Khottobi berkomentar tidak apa-apa mengatakan Sayyid untuk memuliakan seseorang, akan tetapi makruh jika dikatakan pada orang tercela. Sementara dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dalam catatan kaki halaman 4 nomor 2, dikatakan bahwa: “Memutlakkan kata Sayyid pada selain Allah itu boleh”. Dalam kitab Roddul Mukhtar diterangkan: “Disunnahkan mengucapkan Sayyid karena Ziyadah Ikhbar Waqi’ itu menunjukkan tata krama dan itu lebih baik dari meninggalkannya”.

Baca juga; Hukum Menambah Dzikir dan Doa Buatan Sendiri dalam Shalat

Dengan demikian penggunaan dan penambahan kata Sayyid pada seseorang yang dianggap agung dalam agama Islam sudah biasa dan dicontohkan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri untuk menghormati hambanya yang memiliki kedudukan yang agung juga tidak segan-segan memanggilnya dengan Sayyid. Sebagaimana yang terlihat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan (pemimpin), menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (Surat Ali ‘Imran Ayat 39)

Namun golongan yang tetap menolak menggunakan kata Sayyidi dalam sebagian amalan kaum muslimin biasanya mendasarkan pada dua argumen berikut;

Argumen pertama;

لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”

Bantahan, Adapun hadits yang mengatakan “Jangan kau men-sayyid-kan aku dalam shalat“, Hadits ini adalah Hadits yang tidak sah matan dan sanadnya, adapun matannya gugur menurut Ahli Hadits, sementara matannya lafadz ﺗﺴﻴﺪﻧﻲ itu tidak benar secara nahwu (tata bahasa) karena yang benar lafadznya ﺗﺴﻮﺩﻭﻧﻲ ﻻ sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah paling fasihnya orang orang Arab.

Sementara dalam Kitab “Maqosid Hasanah” halaman 463 dikatakan: “Hadits ini merupakan Hadits Maudlu’ (palsu), itu tanggapan Al-Hafidzb As-Sakhowi bahwa hadits ini tidak ada asal usulnya dan salah dalam lafadznya.”

Argumen kedua;

ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ

“Sesungguhnya pemimpin hanyalah Allah”

Bantahan, Sementara Hadits yang kedua sebagaimana yang dibantah dalam kitab “Zadul Labib” karya Sayyidi Syeikh Muhammad Ba’atiyah juz 1 halaman 9: “Adapun Hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud dan Ahmad dari Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ yang dimaksud Siyadah di sini adalah Siyadah secara mutlak, maka pahamilah dan diteliti betul”.

Jika masih dipertanyakan mengapa dalam Shalawat Ibrahimiyah pada Tahiyyat ditambah Sayyidina dan pada Tasyahhud tidak ada Sayyidina? Penjelasannya adalah: Mengatakan Sayyidina ini bertujuan memuliakan beliau. Dan perlu diingat memuliakan dan tatakrama itu lebih baik dari pada mengikuti perintah seperti Sayyidina Ali yang enggan menghapus kalimat “Rasulullah” dan berkata:

“Aku tak akan menghapusmu selamanya”. Pada saat itu Rasulullah tidak menyalahkan Sayyidina Ali. Begitu juga Hadits Dlohhak dari Ibnu Abbas, bahwa dulu orang menyebut “Ya Muhammad”, “Ya Abal Qosim”, lalu Allah melarang demi memuliakan beliau.

Sementara jika yang dipermasalahkan dari ayat (سيد الله الصمد ; اي بمعنى), maka jawabannya adalah dari Kitab “Ibanatul Ahkam” juz 1 halaman 346: “Bahwa kalimat Sayyid itu memiliki dua makna: Yang pertama tiada satupun yang mengungguli, dialah yang dituju manusia dalam segala hajat dan keinginan mereka. Sementara makna kedua yaitu yang tidak memiliki pencernaan yang mana ia tidak makan dan tidak minum”.

Sementara dalam Syahadat, Ulama dalam memberikan penghormatan beragam dan jika tidak ada kata Sayyid-nya pastilah ada kata pujian lain pada kata sebelum dan sesudahnya. Itu terbukti setelah kata Muhammad dalam Syahadat ada kata pemuliaannya yaitu gelar “Utusan Allah”, disanding dengan lafadz Allah yang sekaligus pencipta alam semesta. Bukankah Allah tidak akan menyandingkan namanya kecuali dengan kekasihnya? Dalam Kaidah Fiqih sangat mashur sekali:

“مراعة الأدب خير من الإتباع”.

“Menjaga tatakrama lebih utama dari ittiba’ (melaksanakan perintah)”.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Oleh: M Nasirul Haq, Mahasiswa Fakultas Syariah, Imam Shafie College Hadhramaut Yaman.

Bagikan Artikel Ini Ke