Mencintai dan Memuliakan Habib Merupakan I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah

Dalam i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi hukumnya sunnah. Kesunnahan mencintai dan memuliakan keluarga Nabi disebabkan mengikuti jejak Nabi yang begitu mencintai keluarganya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

“Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Segala sesuatu ada asasnya, dan asas islam adalah mencintai Rasulullah dan ahli baitnya.”

Ahlul Bait adalah keturunan suci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam yang memiliki ikatan nasab, mereka adalah keturunan Fathimah sampai hari kiamat. Demikian yang dijelaskan Imam Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab.

Keluarga Nabi yang memiliki keilmuan dan akhlaq yang baik biasanya diberi gelar oleh umat Islam dengan julukan Habib atau sayyid. Gelar itu sebagai bentuk penghormatan sebab disamping mereka memiliki garis keturunan (nasab) yang bersambung hingga Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, juga disebabkan karena mereka mumpuni dalam keilmuan agama. Secara nasab para habib (habaib) itu jelas sangatlah mulia dan terhormat, maka merendahkan dan menghina mereka menyebabnya terlukanya Nabi sebagai buyutnya.

Namun begitu, meskipun habaib memilikimkemuliaan, mereka tetap saja manusia biasa yang memiliki berbagai kelebihan dan tentu saja kekurangan. Berbeda dari para Nabi dan Rasul yang dijamin ma’shum oleh Allah. Jadi, menghormati dan memuliakan hukumnya wajib dan memujanya hukumnya haram.

Mencintai Ahlul Bait merupakan akhlaq para Salafus Shalih. Para sahabat begitu mencintai keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat rasa cinta yang mendalam dalam jiwa mereka, begitu cintanya kepada keluarga Nabi hingga mengalahkan kecintaannya pada keluarganya sendiri. Sebagaimana kecintaan sahabat Abu Bakar yang terekam dalam sebuah riwayat hadits berikut;

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ فِي هَذَا الْمَالِ وَاللَّهِ لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي

“maka Abu Bakar berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak diwarisi, harta yang kami tinggalkan menjadi sedekah, keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini.” Maka demi Allah, kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku cintai untuk aku jalin hubungan dengannya daripada kerabatku sendiri.” (Hadits Bukhari Nomor 3730)

Bebgitu besar kecintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada keluarganya, sehingga setara dengan beratnya Al-Qur’an. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu: Pertama, Al-Qur ‘an yang berisi petunjuk dan cahaya. Oleh karena itu, laksanakanlah isi Al Qur’an dan peganglah. Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Al Qur’an. Kedua, keluargaku. Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (Hadits Muslim Nomor 4425)

Mereka Ahlul Bait Nabi layak dicintai dan dimuliakan, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menyucikan mereka dari dosa-dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Surat Al-Ahzab Ayat 33)

Syekh Ibrahim Al-Baijuri rahimahullah perihal Surat As-Syura ayat 23 di mana Allah memerintahkan umat Islam untuk mencintai kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

عن ابن عباس أنه لما نزل قوله تعالى قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى قالوا يا رسول الله من هؤلاء الذين أمرنا الله بمودتهم قال علي وفاطمة وابناهما والعترة وهم العشيرة وقيل الذرية كذا يستفاد من شرح الفاسي على الدلائل

Artinya, “Dari Ibnu Abbas bahwa ketika  turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Surat As-Syura ayat 23, ‘Katakanlah hai Muhammad, ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta pada kerabat.’’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka yang Allah perintahkan kami untuk mencintainya ya rasul?’ Rasulullah menjawab, ‘Ali, Fathimah, kedua anak mereka, dan keturunannya. Mereka adalah keluarga besar.’ Ada ulama yang mengatakan, mereka adalah cucu keturunan keduanya.’ Demikian penjelasan sebagai dikutip dari Syarhul Fasi alad Dala’il, (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 70).

Ahlul Bait Mendapat Do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

قَالَتْ عَائِشَةُ خَرَجَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِىٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جَاءَ عَلِىٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) – (رواه مسلم)

“Aisyah berkata: Suatu pagi Rasulullah Saw keluar dengan membawa selimut yang berukir terbuat dari bulu hitam, lalu Hasan bin Ali datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Lalu Husain bin Ali datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Lalu Fatimah datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Lalu Ali datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Rasulullah kemudian membaca ayat: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (al-Ahzab: 33)” (HR Muslim).

Di antara bentuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membacakan shalawat kepada keluarga Nabi. Perintah shalawat kepada Nabi bukan hanya berhenti pada pribadi Nabi saja, namun kesunnahan shalawat kepada Nabi ternyata satu paket dengan keluarga dan para sahabatnya. Sebab bila shalawat hanya kepada Nabi itu dianggap sebagai shalawat yang buntung. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ka’ab bin ‘Ajarah: Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلأَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا صَلُّواعَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا (الأحزاب : ٥٦ )

“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya membaca shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian membaca shalawat disertai salam kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Kemudia para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah shalawat al-batra’ itu?”, Kemudian Nabi menjawab sebagaimana dalam riwayat hadits berikut;

لاَ تَصِلُوْا عَلَيَّ الصَّلاَةَ اْلبَتْرَاءَ فَقَالُوْا وَمَا الصَّلاَةُ اْلبَتْرَاءُ قَالَ تَقُوْلُوْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَتَمْسُكُوْنَ بَلْ قُوْلُوْا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ  — الحديث

“Janganlah kalian bershalawat untukku dengan shalawat al-batra’ (terputus/tanggung/buntung)”. Para sahabat bertanya, “Apakah shalawat al-batra’ itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. menjawab, “Yaitu kalian mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad (ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad) lalu kalian diam, tetapi ucapkanlah allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad (ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi mengajarkan kepada umatnya agar tidak menjadi manusia yang pelit dalam bershalawat, yakni hanya cukup shalawat kepada pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja dengan meninggalkan keluarga dan para sahabat beliau. Sebaliknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan pada umatnya untuk menyempurnakan bacaan shalawat dengan dengan menambah shalawat kepada keluarga dan para sahabatnya, yakni dengan mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Ini disebabkan bahwa Nabi merupakan bagian yang utuh dengan ahlul baitnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ إِنَّهُمْ مِنيِّ وَأناَ مِنْهُمْ فَاجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَمَغْفِرَتَكَ وَرِضْوَانَكَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ — الحديث

(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya mereka (keluarga nabi) adalah bagian dari diriku dan diriku juga bagian dari mereka, maka jadikanlah keberkahan, rahmat, ampunan serta keridhaan-Mu untukku dan mereka (keluargaku)”. (Al-Hadis)

Didukung dengan riwayat berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَوْفَى قَالَ كَانَ  النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلَانٍ فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أوْفَى (رواه البخاري، ١٤٠٢ )

“Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika diberi sedekah oleh suatu kaum, beliau berdoa “Ya Allah mudah-mudahan Engkau mencurahkan shalawat kepada keluarganya”. Dan ketika ayahku memberikan sedekah kepada Rasulullah, beliau juga berdoa “Ya Allah mudah-mudahan Engkau memberikan shalawatMu kepada keluarga Abi Aufa”. (HR. Bukhari Nomor 1402)

Salah satu bentuk mencintai keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan tidak mencaci maki mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لَا تَسُبُّوْا أصْحَابِي لَا تَسُبُّوْا أصْحَابِي فَوَ الّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أنَّ أحَدَكُمْ أنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أدْرَكَ مُدَّ أحَدِهِمْ وَلَا تَصِيْفَه.ُ رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).

Dengan mencintai keluarga Nabi maka sama halnya kita mengikuti teladan Nabi. Dengan mengikuti teladan Nabi niscaya kita akan mudah mendapatkan syafaat Nabi. Sebuah hadits diriwayatkan oleh Iman Hakim

فلو أن رجلا صفن بين الركن والمقام فصلى صام ثم لقى الله وهو مبغض لأهل بيت محمد دخل النار حديث حسن صحيح على شرط مسلم

“Seandainya seorang beribadah diantara rukun dan maqam (di depan Ka’bah) kemudian dia bertemu Allah Subhanahu Wata’ala dalam keadaan dia benci pada keluarga Muhammad, niscaya dia akan masuk neraka.”

Berdasarkan keterangan keterangan di atas sudah sangat jelas bahwa hukumnya mencintai Ahlul Bait adalah wajib. Tuduhan dari sebagian kaum muslimin terutama dari golongan Wahabi bahwa mencintai Ahlul Bait adalah Syiah itu jelas propaganda Yahudi untuk menjauhkan umat Islam dari mencintai Rasulullah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke