Menjalankan Syariat Agama Sebagai Wujud Keimanan Seseorang.

Berbahagialah mereka yang telah mendapat hidayah iman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan beruntunglah bagi mereka yang meninggal dalam keadaan beriman. Sebab, sebesar apapun dosa dan kesalahan seseorang, selama masih terdapat keimanan dalam hati, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surganya.

Di dalam Al-Quran dan Hadits terdapat sekian banyak isyarat yang menunjukkan janji Allah kepada para hambaNya yang beriman akan dimasukkan ke dalam surgaNya, dan akan kekal di dalamnya. Di anataranya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 25)

Sungguh beruntung bagi mereka yang memiliki iman dalam hati. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Surat At-Taubah Ayat 72)

Bertakwalah untuk mengekspresikan keimanan kita. Sebab Allah akan membalas dengan kenikmatan urga bagi mereka yang bertakwa. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ. فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (Surat At-Tur Ayat 17-20)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ. وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. (Surat Az-Zumar Ayat 73-74)

Selain takwa adalah amal shalih sebagai wujud keimanan. Amal shalih merupakan konsekwensi dan pembuktian bahwa iman seseorang masih lestari dalam hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا. خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (Surat Al-Kahf Ayat 107-108)

Masuk surga bukan hanya bermodalkan keimanan tanpa ditunjang oleh perbuatan-perbuatan baik atau amal shalih. Sebab perbuatan shalih itu sebagai bukti masih adanya keimanan dalam hati. Dengan kata lain amal sholih adalah konsekuensi dan tanda kejujuran iman seorang hamba. Tanpa adanya amal shalih mustahil adanya iman dalam hati. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا. أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;” (Surat Al-Kahf Ayat 30-31)

Ikutilah sunnah nabi dan hindarilah menentang ajaran Nabi. Sebab, dengan menolak untuk mengamalkan ajaran Nabi akan dijauhkan dari surganya Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan.” (Hadits Bukhari Nomor 6737)

Berdasarkan kabar dari Al-Qur’an maupun hadits mengatakan bahwa setiap umat yang beriman pasti dijamin masuk surga. Dan selama apapun hamba Allah Tabaraka Wa Ta’ala yang berada dalam neraka sebab dibersihkan dosa-dosanya, selama terdapat keimanan sekecil bijipun tetap akan dikeluarkan dari neraka dan kemudian dimasukkan ke surga kekal di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ

“Tidak akan pula masuk neraka, yaitu seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya sebesar biji dzarrah.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1922)

Namun begitu, janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut diutamakan bagi hamba beriman yang tetap dalam ketakwaan, giat dalam beramal shalih, dan senantiasa dalam ketaatan mengikuti jejak Nabinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ : « مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى »

“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent).”. (HR. Al-Bukhari no.6851, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Selalu bersikap taat, tunduk, dan senantiasa mengamalkan syariat yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bagian terpenting sebagai syarat keimanan seseorang. Sebab iman itu sendiri memiliki pengertian membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal shalih.

Ketaatana seorang mukmin dalam menjalankan syariat agama akan lebih mudah menghantarkan seorang hamba ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

« مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ »

“Barangsiapa mentaatiku, ia pasti masuk Surga.”

Taati dan ikutilah jalan syariat agama agar terhindar dari siksa api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Surat An-Nisa’ Ayat 115)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman;

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Surat At-Taubah Ayat 100)

Itulah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umatnya yang senantiasa menetapkan keimanan dalam hatinya hingga akhir hayatnya. Dengan demikian, jangan sekali-kali kita memasukkan keyakinan-keyakinan dalam hati yang dapat merusak, mengurangi, atau bahkan menghilangkan keimanan dalam hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati dengan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia pasti masuk neraka”. Dan aku (‘Abdullah) berkata, dariku sendiri: “Dan barangsiapa yang mati tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga”. (Hadits Bukhari Nomor 1162)

Hindari berbuat maksiat atau dosa besar, sebab hal itu dapat merusak keimanan seseorang. Apalagi kesyirikan, kekufuran, dan kemurtadan akan dapat menghilangkan keimanan dalam hati.

Namun begitu, sebesar apapun dosa seseorang, selama masih percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perkara ghaib lainnya maka mereka tetap dihukumi sebagai seorang yang beriman. Haram hukumnya menghukumi seorang yang berdosa besar sebagai orang yang kafir. Sedangkan terkait keadaan orang yang berdosa bersar di akhiratnya berada di bawah kehendak Allah, atau terserah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki mengampuni dosanya, maka dia terbebas dari siksa api Neraka dan berhak masuk surga. Namun jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berkehendak mengampuninya kecuali melalui penyiksaan di neraka, maka dia disiksa sesuai dosanya. Namun setelah menjalani masa siksanya, dia akan tetap dimasukkan ke dalam surga selama meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ وَهْوَ لَا يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk neraka.” Sedangkan aku berkata; ‘Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk surga.’ (Hadits Bukhari Nomor 4137)

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ قَوْلِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya (di dunia) kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH, niscaya ia akan masuk surga”.” (Hadits Tirmidzi Nomor 899)

Taatilah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulnya, serta mohonlah ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya akan diselamtkan dari siksa api neraka. Dan semoga kelak kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke