Menunggu Shalat Jamaah Akan Mendapat Pahala Setara dengan Pahala Shalat

Setiap amal kebaikan yang dilakukan seorang hamba pasti akan dicatat dan dibalas pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan hanya itu, proses menuju kebaikan juga diperhitungkan sebagai kebaikan itu sendiri oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dimana proses-proses kebaikan itu juga akan dibalas pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menunggu dilaksanakannya jamaah setelah adzan dikumandangkan merupakan amalan yang sangat mudah dilakukan, namun memiliki pahala yang sangat besar. Sebab Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri menyebutkan bahwa waktu antara adzan dan iqamah ini merupakan waktu paling mustajab untuk berdoa. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan dalam sabdanya,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa yang dipanjatkan diantara adzan dan iqomah tidak akan pernah ditolak, karena itu berdoalah.” (HR. Ahmad)

Abdurrauf Muhammad Al Munawwir mengatakan bahwa setiap waktu yang berlalu tanpa diikuti dengan memenuhi hak, kewajiban, hal-hal penting tanpa diisi pula dengan syukur pada Allah dengan kebaikan dan ilmu, maka orang tersebut telah mendurhakai hari dan menzalimi diri sendiri.

Dengan begitu setiap langkah kita menuju ke masjid atau keadaan seseorang yang sedang menunggu dilaksanakannya shalat jamaah juga dianggap sebuah kebaikan yang dibalas pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu keutamaan menunggu shalat jamaah adalah akan mendapat pahala setara dengan pahala shalat.

Selama proses menunggu jamaah shalat, maka senantiasa akan mendapat pahala shalat. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ ، لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ

“Salah seorang di antara kalian dianggap terus menerus di dalam shalat selama ia menunggu shalat di mana shalat tersebut menahannya untuk pulang. Tidak ada yang menahannya untuk pulang ke keluarganya kecuali shalat.” (Muslim, no. 649)

Berdasarkan hadits tersebut sangat jelas bahwa menunggu waktu shalat berjamaah di masjid itu dihitung seperti orang yang sedang shalat. Dalam riwayat lain disebutkan,

“Sungguh malaikat akan mendoakan seorang dari kalian selama ia berada di tempat shalatnya: “Ya Allah, ampuni dia, ya Allah, sayangi dia.” Seseorang senantiasa (dianggap) berada dalam shalat bila shalatlah yang menahannya (tetap di masjid). Tidak ada yang menghalanginya pulang ke rumah kecuali (menunggu) shalat (berikutnya).” (HR. Al-Bukhari)

Sungguh menunggu shalat merupakan sebuah keutamaan. Sebab, orang yang menunggu shalat, pahalanya seperti orang yang shalat. Apalagi pada saat menunggu shalat diisi dengan ibadah yang bermanfaat seperti shalat rawatib, doa, shalat sunnah, dzikir, mendengarkan majelis ilmu dan nasihat, dan membaca Al-Qur’an.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan bagi hambanya untuk mendapatkan pahala. Sebab, hanya dengan duduk di masjid menunggu waktu shalat sudah dihitung seperti shalat. Sungguh disayang bilamana kita tidak memanfaatkan keutamaan amalan ini.

Begitu mudahnya mendapat kebaikan dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh akan menjadi hamba yang merugi bila tidak memanfaatkan kesempatan ini.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke