Nabi Muhammad Ma’shum Atau Terjaga dari Melakukan Perbuatan Dosa

Salah satu i’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah adalah meyakini dan mensifati bahwa Muhammad bin Abdullah adalah ma’shum , yakni terjaga dari melakukan perbuatan dosa. Menurut i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah, sifat ma’shûm melekat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terjaga dari kesalahan, terjaga dari dosa-dosa besar, dan terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan agama.

Sedangkan melakukan dosa-dosa kecil, atau lupa, atau keliru, maka para Nabi terkadang mengalaminya, namun Allâh Ta’ala segera mengingatkannya, meluruskannya, dan membersihkannya. Allâh memaafkan kekhilafan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta menerima taubatnya, karena karunia dan rahmat dari-Nya, dan Allâh Maha Pengampun, Pengasih, dan penyayang.

Sebagaimana telah terekam dalam beberapa ayat riwayat baik Al-Qur’an maupun Hadits bahwa para Nabi juga tidak luput dari teguran Allah manakala mengalami kealpaan dan ketergelinciran. Seperti dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah ditegur sebab pernah bermuka masam kepada seorang tamu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut;

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰز أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ. أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (Surat ‘Abasa Ayat 1-4)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah ditegur karena bersumpah tidak akan mimum madu hanya karena ingin disenangi istri-istrinya yang kurang berkenan mulut Nabi bau sebab minum madu. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mensyariatkan keharaman madu. Dalam sebuah ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(Surat At-Tahrim Ayat 1)

Dalam sebuah kesempatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditegur Allah Subhanahu wa Ta’ala sebab pernah hendak menyabotase pemberian kepada non-Muslim. Dengan sabotase tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berharap kaum kafir akan mau masuk Islam sebab terhimpit merasa butuh pertolongan umat Islam. Tindakan ini dirasa tidak adil bagi seorang utusan Allah dikarenakan membantu sesama yang membutuhkan adalah suatu syariat agama bagi setiap orang yang mampu, apapun agama, suku, budaya, bahkan bangsa sekalipun. Syekh Thahir bin Asyur hafidzhahullahu menceritakan demikian;

رُوِيَ أَنَّهُ كَانَ لأسماء ابْنة أَبِي بَكْرٍ أُمٌّ كَافِرَةٌ وَجَدٌّ كَافِرٌ فَأَرَادَتْ أَسْمَاءُ- عَامَ عُمْرَةِ الْقَضِيَّةِ- أَنْ تُوَاسِيَهُمَا بِمَالٍ، وَأَنَّهُ أَرَادَ بَعْضُ الْأَنْصَارِ الصَّدَقَةَ عَلَى قَرَابَتِهِمْ وَأَصْهَارِهِمْ فِي بَنِي النَّضِيرِ وَقُرَيْظَةَ، فَنَهَى النَّبِيءُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمِينَ عَنِ الصَّدَقَةِ عَلَى الْكُفَّارِ، إِلْجَاءً لِأُولَئِكَ الْكُفَّارِ عَلَى الدُّخُولِ فِي الْإِسْلَامِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: لَيْسَ عَلَيْكَ هُداهُمْ الْآيَاتِ، أَيْ هُدَى الْكُفَّارِ إِلَى الْإِسْلَامِ، أَيْ فَرَخِّصْ لِلْمُسْلِمِينَ الصَّدَقَةَ على أُولَئِكَ الْكَفَرَة.

Diriwayatkan bahwa Asma putri sahabat Abu Bakar itu mempunyai ibu yang non-Muslim dan kakeknya juga demikian. Asma itu hendak berbuat baik kepada keduanya dengan memberikan sedikit hartanya saat peristiwa ‘Umratulqadha tahun 7 hijriah. Selain itu, sebagian sahabat ansar juga ingin bersedekah untuk kerabat dan mertua mereka yang berasal dari Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraizhah. Namun, Nabi melarang sedekah untuk non-Muslim. Hal itu dilakukan karena berharap agar non-Muslim itu mau masuk Islam. Kemudian Nabi ditegur dengan surah Al-Baqarah ayat 272;

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Surat Al-Baqarah Ayat 272)

Dan masih banyak riwayat yang merekam teguran langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kealpaan-kealpaan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun begitu, kealpaan-kealpaan tersebut tidak mengurangi sifat kema’shuman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan kealpaan Nabi langsung ditegur dan diluruskan sehingga tidak sampai menjadi cacat terhadap agama Islam sebagai ajaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Inilah kenapa yang perlu diingat bahwa Ahlussunnah wal Jamaah menetapkan sifat ma’shûm ini hanya untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Nabi lainnya dan bukan untuk manusia selainnya. Karena manusia selain Nabi sangat banyak berbuat kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.” (HR. Ibnu Mâjah)

Namun begitu terdapat perbedaan pandangan terkait dengan kema’shuman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah dijelaskan:

‎وَالأَْنْبِيَاءُ مَحْفُوظُونَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ مِنَ الذُّنُوبِ الظَّاهِرَةِ كَالْكَذِبِ وَنَحْوِهِ، وَالذُّنُوبِ الْبَاطِنَةِ، كَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ. ‎أَمَّا عِصْمَتُهُمْ قَبْل النُّبُوَّةِ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا، فَمَنَعَهَا قَوْمٌ، وَجَوَّزَهَا آخَرُونَ، وَالصَّحِيحُ تَنْزِيهُهُمْ مِنْ كُل عَيْبٍ؛

Adapun kema’shuman sebelum kenabian maka terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama; ada sebagian yang menolaknya dan ada pula yang membolehkannya. Yang benar itu adalah mereka (maksudnya para Nabi sebelum menjadi Nabi) itu dibersihkan dari semua aib/cela. Setelah diangkat menjadi Nabi, Para Nabi itu terjaga dari dosa yang lahiriah seperti berbohong dan sejenisnya, maupun dosa batiniah seperti dengki, sombong, riya’, dan lainnya.” (Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah)

Sebab kema’sumannya  sejak mudanya para penduduk Mekkah memberikan gelar kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Al-Amin, manusia terpercaya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke