Nabi Pernah Marah Disebabkan Karena Diprotes Kebijakan Pembagian Harta Rampasannya.

Menurut Robert T. Zackery dari Mayo Clinic, Rocheter Amerika Serikat—- sebagaimana ditulis Koran Tempo, 2 September 2006—- Marah adalah perasaan tidak senang yang normal dan emosi yang sehat, seperti halnya perasaan lain yang dimiliki setiap orang.

Artinya, lanjut Zackery, marah bukanlah suatu hal yang negatif. “Dengan marah, Anda bisa memotivasi orang mendengarkan apa yang hendak Anda sampaikan dan mencegah orang semena-mena. Yang jadi masalah hanyalah bagaimana Anda mengatasi kemarahan itu,”paparnya.

Jadi, terkait dengan hal ini tidaklah penting sebuah kemarahan, karena yang lebih penting adalah bagaimana cara menyalurkan sebuah kemarahan agar tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian. Serta kemarahan yang diungkapkan tetap menimbulkan kemaslahatan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Di samping itu, dipaksakan untuk menahan amarah dapat membahayakan mental dan kesehatan jiwa. Namun terlalu marah juga dapat merugikan pihak lain.

Walaupun rasa marah seringkali dipandang negatif, namun ternyata ada sisi positif dari kemarahan yang dilakukan oleh seseorang. Salah satu fungsi marah adalah sebuah upaya meluangkan atau mengungkapkan perasaan dan tekanan sehingga perasaan akan lebih lega setelah menyalurkan kemarahan.

Dengan begitu, rasa marah adalah manusiawi, dan hal itu sering dilakukan oleh setiap manusia, tidak terkecuali dengan para Nabi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah marah disebabkan karena diprotes kebijakan pembagian harta rampasannya. Kejadian itu terekam dalam sebuah riwayat hadits berikut;

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ فَتْحِ مَكَّةَ قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَنَائِمَ بَيْنَ قُرَيْشٍ فَغَضِبَتْ الْأَنْصَارُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالدُّنْيَا وَتَذْهَبُونَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا بَلَى قَالَ لَوْ سَلَكَ النَّاسُ وَادِيًا أَوْ شِعْبًا لَسَلَكْتُ وَادِيَ الْأَنْصَارِ أَوْ شِعْبَهُمْ

“dari [Anas] katanya, ketika terjadi penaklukan Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagi hanya untuk Quraisy. Maka kabilah merasa marah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera mengkritisi: “Tidakkah kalian ridha jika orang-orang pergi membawa dunia sementara kalian pergi membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? ‘Baik, ‘ Jawab Anshar. Nabi meneruskan: “Kalaulah orang-orang mengarungi sebuah lembah atau lereng gunung, niscaya aku mengarungi lembah Anshar atau lereng gunung mereka.” (Hadits Bukhari Nomor 3987)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke