Pengertian dan Hakikat Marah

Marah ( اَلْغَضَبُ ) menurut bahasa mempunyai beberapa makna, di antaranya, kemarahan (اَلسُّخْطُ), tidak meridhai sesuatu (عَدَمُ الرِّضَى بِالشَّيْءِ), menggigit sesuatu (اَلْعَضُّ عَلَى الشَّيْءِ), kemuraman (اَلْعَبُوْسُ), buruk dalam bergaul dan berakhlak (اَلْكِدْرُ فِي الْمُعَاشِرَةِ وَالْخُلُقِ),

Sedangkan marah (اَلْغَضَبُ)menurut istilah yaitu perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh di dalam dada, dan yang paling besar dari marah adalah اَلْغَيْظُ, hingga mereka berkata dalam definisinya: “Kemarahan yang teramat sangat.” (Al-Ihyaa’ [III/247] karya al-Ghazali dan at-Ta’riifaat [no. 162] karya ar-Jurjani)

Marah adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh manusia yang tidak akan pernah bisa untuk dihilangkan dari perasaannya, karena hal tersebut adalah salah satu fitrah atau tabi’at dalam diri manusia. Jadi dalam hal ini kita diperintahkan untuk bisa menahan, mengendalikan atau menjaga amarah kita sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist di bawah ini,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

“bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Berilah aku wasiat?” beliau bersabda: “Janganlah kamu marah.” Laki-laki itu mengulangi kata-katanya, beliau tetap bersabda: “Janganlah kamu marah.” (Hadits Bukhari Nomor 5651)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Manusia tidak dilarang marah, namun yang dimaksud adalah meluapkan rasa marah tanda dikendalikan. Apalagi kemarahan tersebut ditambah dengan kebencian dan caci maki. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Janganlah kalian saling marah, saling hasad, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal seorang muslim menjauhi (mendiamkan) saudaranya lebih dari tiga malam.” (Hadits Abu Daud Nomor 4264)

Marah merupakan tindakan buruk walau dibenarkan, namun lebih buruk lagi bila kita bertindak yang memancing orang lain menjadi marah. Sebab, bila membuat seseorang marah, sama halnya membuat Tuhanmu marah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersaba,

لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ

“Apabila kamu membuat mereka (manusia) marah, maka berarti kamu juga telah membuat Tuhanmu marah.” (Hadits Muslim Nomor 4559)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke