Pengertian Pemberontakan

Pemberontakan, makar, atau bughot dalam bahasa Arab berasal dari akar kata bagha, yang berarti “melampaui batas”. Dian Dwi Ok Putra, dalam tesisnya “Hukum Bagi Pelaku Tindak Pidana Bughat” (UIN Riau) menuliskan bahwa dalam pengertian fikih, bughat adalah gerombolan (pemberontak) yang menentang kekuasaan negeri dengan kekerasan senjata, baik karena salah pengertian ataupun bukan. Tindakan ini dilakukan untuk menghalang-halangi, atau keluar dari imam yang sah tanpa alasan yang benar. Sama halnya apakah dia itu melaksanakan larangan atau meninggalakan suruhan dari imam yang sah.

Imam Syafi’I dan Imam Abu Hanifah berbeda pendapat dalam pemberian hukuman bagi tindak pidana Bughat. Menurut Imam Syafi’I hukuman bagi pelaku tindak pidana Bughat adalah diperangi namun memeranginya harus dengan cara cara yang baik dengan tetap menjaga hak-hak mereka jika kelompok Bughat seorang Muslim, namun jika mereka seorang kafir tanpa ada ampun. Sementara menurut Imam Abu Hanifah pelaksanaan hukuman bagi tindak pidana Bughat juga diperangi jika telah tampak persiapan mereka untuk melakukan bughat dan harus diperangi sampai persatuan mereka bercerai berai.

Perbedaan Memberontak dengan Mengkritik

Berbeda dengan memberontak adalah mengkritik. Kritik bertujuan untuk mengingatkan pemerintah yang dianggap melenceng dari ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau mengingkari amanah rakyat. Kritik merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 104)

Banyak cara untuk merubah keburukan menjadi kebaikan. Setidaknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tiga cara mengkritik pemeritah. Apabila seseorang memiliki kekuatan, maka ia harus bisa mengubah keadaan dengan pengaruh kedudukannya. Bila hanya mampu dengan lisan, maka perbaikan harus dilakukan dengan lisan. Bila hanya mampu dengan doa, maka perbaikan mungkin dilakukan dengan doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran dan ia mampu merubah dengan tangannya, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu hendaklah dengan lisan, apabila tidak mampu hendaklah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4003)

Kewajiban rakyat kepada penguasa adalah taat, namun sekiranya ada perbuatan buruk dari penguasa tetap harus dikritik, namun tidak sampai memberontaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﻋَﻦْ ﻋَﻮْﻑِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚِ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :ﺃﹶﻻَﻣَﻦْ ﻭَﻟِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺍﻝٍ، ﻓَﺮَﺁﻩُ ﻳَﺄﹾﺗِﻲ ﺷَﻴْـﺌًﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔِ ﺍﷲِ، ﻓَﻠْـﻴَﻜْﺮَﻩ ﺍﻟّﺬِﻱ ﻳَﺄﹾﺗِﻲ ﻣِﻦْ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔِ ﺍﷲِ، ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﺰِﻉَ ﻳَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔٍ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﴾

Dari Auf bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang wali (pemimpin-penguasa) dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi janganlah (hal ini menyebabkan) melepaskan ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Syarat-syarat Pemberontakan

Tidak setiap gerakan yang dilakukan sekelompok masyarakat bisa dianggap pemberontak dan layak diperangi. Sebab pemerintahan juga perlu penyeimbang dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada. Bisa jadi kelompok penyeimbang pemerintah tersebut adalah oposisi, LSM, atau organisa-organisasi lainnya. Agar penguasa tidak mudah memerangi kegiatan dari kelompok masyarakat yang ada, tentunya harus dietahui kriteria-kriteria sebuah kelompok layak disebut sebagai pemberontak yang bisa dibasmi.

Menurut Khatib Syarbini dalam kitab al-Iqna’ fi Halli Alfazh Abi Syuja’ bisa disebut bughat manakala telah memenuhi tiga syarat: pertama, mereka yang memberontak memiliki kekuatan. Kekuatan ini menyatukan senjata, logistik, massa, wacana, dan sejenisnya. Kedua, mereka keluar dari ketaatan terhadap penguasa yang sah. Ketiga, mereka menggunakan penafsiran atau ta’wal yang batil. Maksudnya, dalam memerangi imam dan penguasa yang sah mereka menggunakan penafsiran tertentu untuk membenarkannya.

Hukum Pemberontakan

Memberontak kepada pemerintahan yang sah walaupun dzalim dan walaupun pemerintahan tersebut hasil dari cara yang buruk namun pada akhirnya mendapat dukungan atau legitimasi rakyat hukumnya adalah haram. Hukum keharaman tersebut berdasarkan banyak nash dalam Al-Qur’an danHadits, dan dan juga berdasarkan Ijma para Ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda: “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas (memberontak) dari ketaatan kepada mereka.” (Hadits Muslim Nomor 3447)

Diperkuat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda;

 ﻋَﻦْ ﺇِﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮﻗَﺎﻝ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲ ﻣَﻦْ ﺣَﻤِﻞَ ﻋَﻠَﻴْـﻨَﺎ ﺍﻟﺴِّﻼَﺡَ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨّﺎ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﴾

“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Barangsiapa yang mengacungkan senjata (memberontak) kepada kami maka dia bukan golongan kami (pengikut Muhammad).” (Hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan berkata: “Termasuk pokok akidah Ahlus Sunnah adalah diharamkannya memberontak kepada pemimpin kaum muslimin meskipun mereka melakukan perbuatan dosa –yang tidak sampai kepada kekufuran–, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mentaati mereka selain dalam perkara maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekufuran yang nyata. Berbeda halnya dengan kelompok sempalan Mu’tazilah yang mewajibkan untuk memberontak kepada para pemimpin apabila mereka melakukan suatu dosa besar walaupun belum sampai pada tingkat kekufuran, bahkan mereka menganggap hal tersebut termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Padahal sebenarnya perbuatan mereka inilah yang merupakan kemungkaran terbesar, karena berdampak kerugian dan bahaya yang besar berupa kekacauan (di dalam negeri), rusaknya perkara (urusan kaum muslimin), terpecah belahnya persatuan dan berkuasanya musuh (terhadap kaum muslimin).” (Min Ushul ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 21-22)

Al-Imam Ath-Thahawi t berkata: “Kita (Ahlus Sunnah) berpandangan tidak boleh memberontak kepada para imam dan pemimpin kita, walaupun mereka berbuat jahat. Kita tidak boleh mendoakan kejelekan atas mereka dan tidak boleh menarik tangan dari sumpah setia untuk menaati mereka. Bahkan kita memandang taat kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara wajib, selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat. Dan kita mendoakan mereka dengan kebaikan dan memintakan perlindungan untuk mereka dari segala yang tidak baik.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah)

Al-Imam Ali bin Madini rahimahullah berkata,

ومن خرج علي امام من ائمة المسلمين وقد اجتمع عليه الناس فأقروا له بالخلافة بأي وجه كانت برضا كانت أو بغلبة فهو شاق هذا الخارج عليه العصا وخالف الآثار عن رسول الله صلى الله عليه و سلم فإن مات الخارج عليه مات ميتة جاهلية

“Brangsiapa yang memberontak kepada salah seorang pemimpin kaum muslimin, padahal manusia telah berkumpul (mendapat legitimasi rakyat) di bawah kepemimpinannya, mereka pun mengakui kepemimpinannya, dengan cara apa saja ia mendapati kepemimpinan itu, apakah dengan kerelaan atau dengan paksa, maka orang yang memberontak itu telah merusak persatuan kaum muslimin dan menyelisihi hadits-hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, jika pemberontak ini mati maka matinya jahiliyah.” [Syarhul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah lil Laalikaai, 1/168]

Bahkan pendiri manhaj Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab berkata,

“Aku memandang wajibnya mendengar dan mentaati para pemimpin kaum muslimin, apakah itu pemimpin yang baik maupun jahat, selama mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan. Dan siapa yang memimpin khilafah dan manusia bersatu dalam kepemimpinannya, mereka ridho kepadanya, meskipun dia mengalahkan mereka dengan pedang hingga menjadi pemimpin, maka wajib taat kepadanya dan haram memisahkan diri (memberontak) kepadanya.” [Syarhu Risalah Ila Ahlil Qosim, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 157]

Hukuman Bagi Pemberontak

Hukum menghadapi para pemberontak adalah dengan memerangi dan membasmi mereka hingga lemah kekuatannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut;

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Surat Al-Hujurat Ayat 9)

Diperkuat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda;

 ﻋَﻦْ ﺇِﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮﻗَﺎﻝ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲ ﻣَﻦْ ﺣَﻤِﻞَ ﻋَﻠَﻴْـﻨَﺎ ﺍﻟﺴِّﻼَﺡَ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨّﺎ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﴾

“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami maka dia bukan golongan kami (pengikut Muhammad).” (Hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim)

Dalam hadits lain juga diriwayatkan;

“Barang siapa yang datang kepadamu, dan persoalanmu berada di tangan seorang yang menghendaki ingkar kepadamu atau memisahkan dari jama’ah (pemerintah), maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Sikap Terbaik Rakyat dan Kaum Muslimin Menghadapi Penguasa yang Dzalim

Selalu Taat kepada Penguasa Meskipun Dzalim

Sebuah bangsa tidak akan tegak tanpa penguasa, dan sebuah kekuasaan atau kepemimpinan tidak akan tegak tanpa ketaatan atau loyalitas dari rakyatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin. Kewajiban mentaati penguasa walaupun tidak berhukum dengan hukum Allah, namun selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai hukum Allah. Banyak sekali dalil yang menunjukkan kewajiban umat Islam taat kepada penguasa, pemimpin, dan pemerintah. Diantaranya adalah sebuah riwayat Hadits berikut,

ﻋَﻦْ ﺃﹶﻧَﺲٍ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﺍِﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﺃﹶﻃِﻴْﻌُﻮﺍ، ﻭَﺇِﻥْ ﺍِﺳْـﺘَﻌْﻤَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋَﺒْﺪٌ ﺣَﺒَﺸِﻲ، ﻛَﺄﹶﻥّ ﺭَﺃﹾﺳَﻪُ ﺯَﺑِﻴْـﺒَﺔٌ، ﻣَﺎ ﺃﹶﻗَﺎﻡَ ﻓِﻴْﻜُﻢْ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﷲِ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ﴾

“Dari Anas radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Mendengar dan taatlah kalian walaupun yang memimpin kalian adalah bekas budak dari Habasyah yang kepalanya seperti kismis, selama dia menegakkan Kitabullah di antara kalian.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya)

Pada hadits di atas jelas sekali bahwa ketaatan tidak memandang ras, suku, dan budaya, apakah dia dari ningrat ataupun budak. Dari keturunan Nabi ataupun tidak. Dari kulit putih atau kulit hitam. Taat kepada penguasa sama halnya dengan taat kepada Allah. Dan maksiat kepada pemimpin juga sama dengan bermaksiat kepada Allah. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

ﻋَﻦْ ﺃﹶﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﻣَﻦْ ﺃﹶﻃَﺎﻋَﻨِﻲ ﻓَﻘَﺪْ ﺃﹶﻃَﺎﻉَ ﺍﷲﹶ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍْﻷَﻣِﻴْﺮَ ﻓَﻘَﺪْ ﺃﹶﻃَﺎﻋَﻨِﻲ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺺِ ﺍْﻷَﻣِﻴْﺮَ ﻓَﻘَﺪْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻲ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ﴾

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mentaati aku maka dia telah mentaati Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amir/pemimpin maka ia telah mentaatiku, barangsiapa yang bermaksiat kepada amir/pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketaatan rakyat pada penguasa tidak terbatas, baik terkait dengan kebijakan yang disukai maupun kebijakan yang tidak disukai. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟﺴّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄّﺎﻋَﺔُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃﹶﺣَﺐّ ﺃﹶﻭْ ﻛَﺮِﻩَ، ﺇِﻻّ ﺃﹶﻥْ ﻳُﺆْﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﻼَ ﺳَﻤِﻊَ ﻭَﻻَ ﻃَﺎﻋَﺔَ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ﴾

“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wajib bagi seorang Muslim untuk taat dalam hal-hal yang dia sukai ataupun yang ia benci kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Walaupun seorang pemimpin bersifat jahat, maka rakyat tetap wajib mentaatinya. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

ﻋَﻦْ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْـﻴَﻤَﺎﻥِ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃﹶﻋِﻤّﺔٌ، ﻻَ ﻳَﻬْـﺘَﺪُﻭْﻥَ ﺑِﻬُﺪَﻳّﻲ ﻭَﻻَ ﻳَﺴْـﺘَﻨُّﻮْﻥَ ﺑِﺴُﻨّﺘِﻲ ﻭَﺳَﻴَﻘُﻮﻡُ ﻓِﻴْﻜُﻢْ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻗُﻠُﻮﺏُ ﺍﻟﺸّـﻴَﺎﻃِﻴْﻦَ ﻓِﻲ ﺟِﺜْﻤَﺎﻥِ ﺇِﻧْﺲٍ، ﻗُﻠْﺖُ : ﻛَﻴْﻒَ ﺃﹶﺻْـﻨَﻊُ ﺇِﻥْ ﺃﹶﺩْﺭَﻛْﺖُ ﺫَﻟِﻚَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﺴْﻤَﻊُ ﻭَﺗُﻄِﻊُ ﻟِﻸَﻣِﻴْﺮِ، ﻭَﺇِﻥْ ﺿَﺮَﺏَ ﻇَﻬْﺮَﻙَ ﻭَﺃﹶﺧَﺬَ ﻣَﺎﻟَﻚَ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ﴾

“Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati syaithan dalam jasad manusia.” Maka aku berkata : “Ya Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Berkata beliau : “Hendaklah engkau mendengar dan taat pada amirmu walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Bahkan seorang penguasa yang dzalim sekalipun tetap wajib ditaati. Dan tidak perlu khawatir akan terjainya kemaksiatan dan kemungkaran yang terjadi di sebuah negeri. Sebab kemaksiatan dan kemungkaran yang terjadi di sebuah negeri sudah cukup akan ditanggung sepenuhnya oleh para penguasa kelak di akhirat. Wail bin Hujr radhiyallahu’anhu berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجُلٌ سَأَلَهُ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَمْنَعُونَا حَقَّنَا وَيَسْأَلُونَا حَقَّهُم فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

“Aku mendengar ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Dengar dan taati (pemimpin kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

Dan walaupun seorang pemimpin tersebut curang dan licik serta ahli kemungkaran. Nabi tetap mewajibkan taat. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَة وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu)

Dengan ketaatan rakyat kepada penguasa akan menyebabkan masuk surga. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﺎﺩَﺓَ ﺑْﻦِ ﺍﻟﺼّﺎﻣِﺖِ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﻣَﻦْ ﻋَﺒَﺪَ ﺍﷲﹶ ﻻَ ﻳُﺸْﺮِﻙُ ﺑِﻪِ ﺷَﻴْـﺌًﺎ، ﻭَﺃﹶﻗَﺎﻡَ ﺍﻟﺼّﻼَﺓَ، ﻭَﺁﺗَﻰ ﺍﻟﺰّﻛَﺎﺓَ، ﻭَﺳَﻤِﻊَ ﻭَﺃﹶﻃَﺎﻉَ، ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨّﺔَ ﻣِﻦْ ﺃﹶﻱِّ ﺍْﻷَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟﺜّﻤَﺎﻧِﻴَﺔِ ﺷَﺎﺀَ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ﴾

“Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada amirnya, pent.) maka akan masuk Surga dari pintu mana saja yang ia inginkan dari delapan pintu Surga.” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan At Tabrani)

Sejahat apapun, sedzalim apapun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk tetap mendengar dan taat terhadap penguasa. Hadits-hadits yang telah lalu menerangkan bagaimana sikap kita terhadap penguasa yang dikenal kejelekannya. Mereka tidak melaksanakan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga tidak mengamalkan sunnah-sunnah Rasul dan ini adalah permasalahan yang jelas. Dan ada juga beberapa riwayat yang menguatkan hal ini:

ﻋَﻦْ ﻋَﺪِﻱ ﺑْﻦِ ﺣَﺎﺗِﻢِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﺍِﺗّﻘُﻮﺍ ﺍﷲﹶ، ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ، ﻭَﺃﹶﻃِﻴْﻌُﻮْﺍ ﴿ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻼﻝ ﴾  ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﻦَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ، ﻻَ ﻧَﺴْﺄﹶﻟُﻚَ ﻋَﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔٍ ﺍﻟﺘّﻘَﻲ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻣَﻦْ ﻓَﻌَﻞَ ﻭَﻓَﻌَﻞَ) ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﺸَﺮّ

“Dari Adi bin Hatim radliyallahu ‘anhu berkata, kami berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak bertanya padamu tentang sikap terhadap penguasa-penguasa yang bertakwa/baik. Akan tetapi penguasa yang melakukan ini dan itu (disebutkan kejelekan­kejelekan).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bertakwalah kalian kepada Allah, mendengar dan taatlah kalian.” (HR. Ibnu Abi Ashim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang penguasa untuk menegakkan kebijakannya secara tegas agar ditaati oleh rakyatnya. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

ﻋَﻦْ ﺍِﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻝَ : ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﷲِ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺃﹶﻭْﺻِﻨِﻲ. ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﺳْﻤَﻊْ ﻭَﺃﹶﻃِﻊْ، ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌَﻼَﻧِﻴَﺔِ ﻭَﺇِﻳّﺎﻙَ ﻭَﺍﻟﺴِﺮِّ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻼﻝ﴾

“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, datang seorang laki-­laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata: “Berilah aku nasihat!” Maka beliau bersabda : “Mendengar dan taatlah kalian. Hendaklah kalian terang-terangan dan jauhilah oleh kalian mengatur urusan umat secara sirr (karena ini adalah tugas penguasa, ­pent.).” (HR. Ibnu Abi Ashim)

Lebih tegas lagi Allah memerintahkan kaum muslimin mentaati para penguasa. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 59)

Prinsip ketaatan terhadap penguasa yang sah merupakan salah satu hal penting dalam kepemimpinan. Ketaatan di sini bisa bermakna tidak keluar untuk mengangkat senjata, meskipun tidak sesuai dengan aspirasinya. Prinsip ketaatan ini untuk menjaga kelangsungan sistem sosial agar tidak terjadi anarki. Kalau ingin melakukan perbaikan, dalam bahasa Imam al-Ghazali disebutkan, untuk membangun sebuah bangunan, tidak perlu merobohkan sebuah kota.

Selama penguasa masih shalat dan tidak ada bukti yang nyata sama sekali tentang kekufurannya, maka haram hukumnya memberontak pemerintahan yang sah. Para ulama juga telah bersepakat akan kewajiban mentaati para penguasa. Diantaranya;

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata,

ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة

“Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zhalim. Kami tidak mendoakan kejelekan bagi mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” [Matan Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah]

Ulama besar Syafi’iyah, An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق وأما الوجه المذكور في كتب الفقه لبعض أصحابنا أنه ينعزل وحكى عن المعتزلة أيضا فغلط من قائله مخالف للإجماع قال العلماء وسبب عدم انعزاله وتحريم الخروج عليه ما يترتب على ذلك من الفتن واراقة الدماء وفساد ذات البين فتكون المفسدة في عزله أكثر منها في بقائه قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل

“Dan telah sepakat Ahlus Sunnah bahwa tidak boleh seorang penguasa dilengserkan karena kefasikan (dosa besar) yang ia lakukan. Adapun pendapat yang disebutkan pada kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh sebagian sahabat kami (Syafi’iyah) bahwa penguasa yang fasik harus dilengserkan dan pendapat ini juga dinukil dari kaum Mu’tazilah, maka telah salah besar, orang yang berpendapat demikian menyelisihi ijma’. Dan ulama menjelaskan, sebab tidak bolehnya penguasa zalim dilengserkan dan haramnya memberontak kepadanya karena akibat dari hal itu akan muncul berbagai macam fitnah (kekacauan), ditumpahkannya darah dan rusaknya hubungan, sehingga kerusakan dalam pencopotan penguasa zalim lebih banyak disbanding tetapnya ia sebagai penguasa. Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: Ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak sah bagi orang kafir, dan jika seorang pemimpin menjadi kafir harus dicopot.” [Syarh Muslim, 12/229]

AI-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء

“Dan telah sepakat fuqoha atas wajibnya taat kepada penguasa yang sedang berkuasa dan berjihad bersamanya, dan (mereka juga sepakat) bahwa taat kepadanya lebih baik disbanding memberontak, sebab dengan itu darah terpelihara dan membuat nyaman kebanyakan orang.” [Fathul Bari, 13/7]

Batasan Taat Pada Penguasa Dzalim

Namun begitu, ada beberapa batasan dalam mentaati penguasa. Yakni, kaum muslimin tidak boleh taat kalau berkaitan dengan perintah kemaksiatan. Ini sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ »

“Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Dalam riwayat hadits lain juga disebutkan;

ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟﺴّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄّﺎﻋَﺔُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃﹶﺣَﺐّ ﺃﹶﻭْ ﻛَﺮِﻩَ، ﺇِﻻّ ﺃﹶﻥْ ﻳُﺆْﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﻼَ ﺳَﻤِﻊَ ﻭَﻻَ ﻃَﺎﻋَﺔَ ﴿ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ﴾

“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wajib bagi seorang Muslim untuk taat dalam hal-hal yang dia sukai ataupun yang ia benci kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan tidak ada ketaatan bila terkait dengan kekufuran yang nyata. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقُلْنَا حَدِّثْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“dari [Junadah bin Abu Umayyah] dia berkata, “Kami pernah menjenguk [‘Ubadah bin Shamit] yang sedang sakit, kami lalu berkata, “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanggil kami, lantas kami membai’at beliau. Dan di antara yang kami ambil janji adalah, berbai’at untuk selalu taat (kepada pemerintah-pen) dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau terpaksa, mementingkan kepentingannya dari pada kepentingan diri sendiri, dan tidak memberontak pemerintahan yang berwenang.” Beliau bersabda: “Kecuali jika kalian melihat ia telah melakukan kekufuran yang jelas, dan kalian memiliki hujjah di sisi Allah.” (Hadits Muslim Nomor 3427)

Tidak Melaknat, Mengutuk, Mencaci, dan Mencela Penguasa Walaupun Fasiq, Jahat, dan Dzalim

Melaknat dan mengutuk hakikatnya adalah mendoakan keburukan kepada orang lain. Sedangkan hukumnya adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma para Ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Mendoakan keburukan kepada makhluq hidup atau benda mati, kepada orang lain atau diri sendiri, pada siapa pun atau apa pun dari kaum muslimin agar tertimpa suatu bencana dan berharap mendapat celaka sangat dilarang sekalipun mereka telah bersikap dzalim kepada kita. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah (laknatlah) untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'” (Hadits Muslim Nomor 4704)

Begitu juga melaknat penguasa yang dzalim hukumnya haram. Haram hukumnya membenci dan mencaci penguasa meskipun mereka dzalim. Sebaliknya, umat muslim wajib mencintai dan mendoakan para pemimpin agar senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah dan berlaku adil kepada rakyatnya. Allah hanya mengizinkan umat Islam membenci perbuatan buruk dari para pemimpin, namun tidak boleh sampai memberontak kepada para pemimpin.

Sungguh buruk sikap seorang muslim manakala mudah mencela para penguasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang para penguasa oleh ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu:

قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ –فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا

“Kami katakan, “Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang taat kepada orang yang bertakwa, akan tetapi tentang orang yang melakukan demikian dan demikian”—ia menyebutkan kejelekan-kejelekan. Maka Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bertakwalah kepada Allah, dengarkan dan taati (penguasa itu).” (HR. Ibnu Abu ‘Ashim, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 124)

Selalu Mendoakan Hidayah dan yang Terbaik Bagi Penguasa

Bilamana dengan nyata para pemimpin telah berbuat kedzaliman kepada kaum muslimin, membalas laknat dengan mendoakan berharap para pemimpin agar tertimpa suatu bencana atau musibah sangat tidak dianjurkan. Hindari melaknat sebisa mungkin agar tidak berbalik keburukannya menimpa kita. Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak mendoakan keburukan bagi orang lain. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

“Thufail bin ‘Amru datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan (melaksanakan perintah), maka do’akanlah supaya mereka binasa.” Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendo’akan (melaknat) kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda: ‘Ya Allah, berilah petunjuk (hidayah) kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’ (Hadits Bukhari Nomor 5918)

Dalam situasi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali tidak membalas dan mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang mendzaliminya. Sungguh mulia akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka yang mendzaliminya tetap didoakan yang terbaik. Sebagaimana terekam dalam sebuah hadits berikut;

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril q , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR. Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)

Sungguh teladan yang sangat mulia ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya, beliau malah mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Walaupun orang lain telah berbuat jahat dan dzalim kepada kita, namun tidak selayaknya kita membalas dengan keburukan yang sama, sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Doa terbaik menghadapi orang lain yang jahat dan dzalim adalah mengharap hidayah dari Allah semoga pelaku kejahatan dan kedzaliman segera tobat dan menyadarinya.

Bersabar Menghadapi Penguasa Dzalim

Sekalipun penguasa sangat dzalim kepada kaum muslimin, membalas laknat dengan mendoakan berharap penguasa agar tertimpa suatu bencana atau musibah sangat tidak dianjurkan. Hindari melaknat sebisa mungkin agar keburukannya tidak menimpa semua penduduk negeri. Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak mendoakan keburukan bagi orang lain. Dalam sebuah riwayat disebutkan;

قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

“Thufail bin ‘Amru datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan (melaksanakan perintah), maka do’akanlah supaya mereka binasa.” Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendo’akan (melaknat) kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda: ‘Ya Allah, berilah petunjuk (hidayah) kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’ (Hadits Bukhari Nomor 5918)

Dalam sebuah riwayat lain juga disebutkan;

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah (laknatlah) untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'” (Hadits Muslim Nomor 4704)

Nabi menolak doa keburukan sebab hakikat berdoa adalah memohon kebaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi seseorang yang memiliki keutamaan iman dalam Islam, seharusnya tidak akan mendoakan keburukan pada penguasa karena itu bukan akhlaq Nabi dan setiap manusia bisa saja berbuat salah. Bila kita mudah mendoakan baik pada orang lain, niscaya kita akan banyak didoakan baik pula. Bila kita mudah memaafkan, niscaya kita akan mudah dimaafkan bila khilaf berbuat salah.

Jangan mengamalkan agama berdasarkan nafsu, sebab agama yang kita anut akan kerasukan iblis. Amalkan agama berdasarkan nurani dan kelembutan hati, niscaya jiwa kita akan dirasuki oleh para malaikat.

Akan lebih baik, lebih mulia, dan lebih besar pahalanya manakala kita memilih untuk bersabar, memberi maaf, dan mendoakannya mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji kepada orang yang lebih memilih untuk berbaik hati dan berbaik budi;

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Surat Asy-Syura Ayat 43)

Sungguh, lapang dada dan bersabar adalah lebih baik dan utama, bukankah lebih menyenangkan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala ubah penguasa dzalim tersebut menjadi orang yang ta’at berkat kesabaran kita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke