Penjelasan Hadits Riwayat Bukhari Nomor 4621.

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

“dari Abu Hurairah berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia bertanya, “Siapakah orang yang paling berhak dengan kebaktianku?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Kemudian Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dijawab: “Kemudian bapakmu!” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 4621)

Tema Artikel yang Senada:

Kisah Sahabat Bertanya Kepada Nabi Tentang Siapa yang Paling Berhak Mendapatkan Bhakti Seorang Anak.

Kisah Seorang Laki-laki Bertanya Kepada Nabi Tentang Siapa yang Paling Berhak Mendapatkan Bhakti Seorang Anak.

Kisah Seorang Laki-laki Bertanya Kepada Nabi Tentang Siapa yang Paling Berhak Ditemani Seorang Anak.

Seseorang yang Paling Berhak Mendapatkan Bhakti Seorang Anak.

Seseorang yang Paling Berhak Ditemani Seorang Anak.

Ibu Adalah Orang yang Paling Berhak Mendapatkan Bhakti Seorang Anak.

Derajat Ibu lebih Tinggi Dibanding Ayah.

Ibu Adalah Orang yang Paling Berhak Ditemani Seorang Anak.

Derajat Ibu Tiga Kali di Atas Ayah Bagi Bhakti Seorang Anak.

Ketika Nabi Mengatakan Ibumu, Ibumu, Ibumu, Lalu Ayahmu.

Redaksi Hadits Utuh:

Hadits Riwayat Bukhari Nomor 4621

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ جَمِيلِ بْنِ طَرِيفٍ الثَّقَفِيُّ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَفِي حَدِيثِ قُتَيْبَةَ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِي وَلَمْ يَذْكُرْ النَّاسَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif Ats Tsaqafi(1) dan Zuhair bin Harb(2) keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Jarir(3) dari ‘Umarah bin Al Qa’qa'(4) dari Abu Zur’ah(5) dari Abu Hurairah(6) berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia bertanya, “Siapakah orang yang paling berhak dengan kebaktianku?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Kemudian Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dijawab: “Kemudian bapakmu!” sedangkan di dalam Hadits Qutaibah disebutkan; ‘Siapakah yang paling berhak dengan kebaktianku? -tanpa menyebutkan kalimat; ‘An Nas.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 4621)

Hadits-hadits Semakna:

Hadits Riwayat Bukhari Nomor 5514

Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 4473

Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 1819

Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 2697

Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 3648

Hadits Riwayat Ahmad Nomor 7994

Hadits Riwayat Ahmad Nomor 19175

Hadits Riwayat Ahmad Nomor 19193

Hadits Riwayat Ahmad Nomor 19583

Perawi:

(1) Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif bin ‘Abdullah , Ats Tsaqafiy Al Baghlaniy, Abu Raja’, Tabi’ul Atba’ kalangan tua, wafat tahun 240 H, hidup di Himsh.

(2) Zuhair bin Harb bin Syaddad, Al Harasyiy An Nasa’iy, Abu Khaitsamah, Tabi’ul Atba’ kalangan tua, wafat tahun 234 H, hidup di Baghdad, wafat di Baghdad.

(3) Jarir bin ‘Abdul Hamid bin Qarth, Abu ‘Abdullah , Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan, wafat tahun 188 H, hidup di Kufah.

(4) Umarah bin Al Qa’qa’ bin Syubrumah, Adl Dlabbiy, Tabi’in (tdk jumpa Shahabat), hidup di Kufah.

(5) Abu Zur’ah bin ‘Amru bin Jarir bin ‘Abdullah , Al Bajaliy , Abu Zur’ah, Tabi’in kalangan pertengahan, hidup di Kufah.

(6) Abdur Rahman bin Shakhr, Ad Dawsiy Al Yamaniy, Abu Hurairah, Shahabat, wafat tahun 57 H, hidup di Madinah, wafat di Madinah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dihimpun oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke