Perintah Menghormati dan Memuliakan Sahabat Nabi

Sebagai seorang muslim bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah tentunya harus memahami salah satu sikap dalam memandang pertikaian antar sahabat Nabi. Pandangan kaum sunni mengambil sikap tawasuth terhadap perbedaan dan pertentangan yang terjadi di kalangan para sahabat Nabi, yakni sikap pertengahan, tidak memandang remeh, tidak pula bersikap ekstrim.

Golongan Ahlussunnah wal Jamaah atau lebih dikenal dengan golongan Sunni, memiliki sikap mencintai semua sahabat dan menghindari diri untuk mengkafirkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengalami pertikaian. Sebab Ahlussunnah berpandangan bahwa para sahabat memiliki keutamaan.

Ahlussunnah wal jamaah mencintai Nabi dan keluarganya (Ahlul bait). Ahlussunnah wal jamaah juga mencintai para sahabat apapun kondisinya, sebab para sahabat merupakan manusia-manusia terbaik, mereka merupakan para mujtahid.

Mereka adalah penerus risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara mereka ada yang memiliki keutamaan berupa dijamin masuk ke dalam surga. Ahlussunnah juga menahan diri dari pembicaraan buruk terhadap para sahabat. Para sahabat Nabi adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Nabi, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Para sahabat Nabi adalah manusia terbaik, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-Baqarah Ayat 141)

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Allah membalas jerih payah para sahabat dengan kedudukan mulia di akhiratnya kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Kedudukan istimewa yang dimiliki para sahabat Nabi dikarenakan merekalah yang membantu dan mendukung perjuangan Nabi menyebarkan risalah ilahi di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Fath Ayat 29)

Sahabat muhajirin dinilai istimewa sebabmereka rela meninggalkan harta dan kedudukannya di Mekkah mengharap ridha Allah. Dan sahabat Anshar dinilai itimewa karena ikhlas membantu dan menampung Nabi saat pertama kali datang ke Madinah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” (Surat Al-Hasyr Ayat 8-9)

Kesetiaan para sahabat kepada Nabi dalam memperjuangkan tegaknya keimanan manusia di muka bumi mendapat balasan kedudukan mulia dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Surat Al-Fath Ayat 18)

Merekalah yang akan terjaga kemuliaannya. Sebab Allah sendiri yang akan menjaganya. Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Surat At-Tahrim Ayat 8)

Hormati dan muliakan para sahabat, sebab mereka ibarat bintang-bintang yang senantiasa memancarkan cahaya indah di malam hari. Cahaya pengganti dan penerus cahaya Nabi setelah Nabi tiada. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

“Bintang-bintang ini merupakan stabilisator langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penenteram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah penenteram umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka.” (Hadits Muslim Nomor 4596)

Karena begitu mulia kedudukan para sahabat Nabi. Maka janganlah sekali-kali kita menghina, mencela, dan mencaci maki mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan para sahabatku.’ (Hadits Muslim Nomor 4610)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

« إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِيْ فَأَمْسِكُوْا »

“Apabila disebut sahabatku maka diamlah.” (Al-Hadits)

Bila kita mencela sahabat yang sangat dicintai Nabi, niscaya kita akan mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من سب أصحابي فعليه لعنة الله و الملائكة و الناس أجمعين

“Barangsiapa mencela para sahabatku maka baginya laknat Allah, laknat para Malaikat, dan laknat manusia semuanya”. (Al-Hadits)

Dengan tidak menghina, mencela, dan mencaci maki para sahabat Nabi niscaya kita akan diakui sebagai umat Nabi. Dengan mencintai sahabat Nabi, niscaya akan mendapatkan cinta Nabi. Dan barang siapa yang telah mendapatkan cinta Nabi, insyallah akan mendapatkan syafaat dari Nabi kelak di akhirat. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke