Ramadhan Bulan Kesabaran

Berpuasa pada bulan suci Ramadhan merupakan bulan dalam melaksanakan ibadah puasa yang sangat tepat untuk melatih sebuah kesabaran. Karena Allah ‘azza wajalla telah menjanjikan pahala yang begitu besar bagi orang-orang yang melaksanakannya.

Sebagaimana Hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1945)

Begitu besar rahmat Allah yang diberikan kepada kita semua yang melaksanakannya. Sehingga dijelaskan dari Hadist tersebut, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melipatgandakan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan yang sama. Terkecuali amalan berpuasa, Allah memberikan pahala berpuasa dengan pahala yang tak terhitung batasannya. Oleh karena itu, begitu beruntungnya orang-orang yang mengamalkannya.

Terkait ganjaran bagi orang-orang yang bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Surat Az-Zumar Ayat 10)

Adapun bulan Ramadhan adalah bulannya bersabar. Yang mana telah disebutkan dalam sebuah riwayat Ahmad. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (Hadits Ahmad Nomor 17571)

Menurut Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, sabar dibagi menjadi tiga macam; yaitu;

  1. Sabar dalam ketaatan, yakni menahan kesusahan dan kesukaran dalam mengerjakan amal ibadah.
  2. Sabar dari kemaksiatan, yaitu menahan diri dari mengerjakan kemasiatan, kemungkaran dan kedurhakaan.
  3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan, yaitu tabah, tidak mengeluh serta tidak berputus asa atas musibah dan berbagai penderitaan yang menimpanya.

Tanda seseorang dikatakan sabar adalah tidak mengeluh atas sesuatu yang menimpanya, ikhlas dan ridha dalam menjalankankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Itulah yang disebut dengan shabrun jamil (sabar yang indah). Sabar ketika dinina pribadinya yang akan memunculkan ghadlab (marah)nya, sabar ketika dikaruniai harta melimpah dengan mendistribusikan harta tersebut kepada yang hak, sabar dalam kemiskinan adalah tidak mengeluh serta menahan diri dari meminta-minta, sabar dalam dakwah adalah tetap berpegang teguh dan istiqamah dalam menyampaikan kebenaran Islam tanpa harus menggadaikan dirinya dengan jabatan, harta dan popularitas, sabar dalam musibah adalah tidak mengungkapkan keluh-kesahnya serta ridha terhadap apa yang telah menimpanya.

Berbagai macam bentuk sabar tersebut tampaknya terkandung dalam hikmah puasa. Oleh karena itu, bulan Ramadhan disebut dengan bulan kesabaran. Di sana dibutuhkan aktifitas batin atau ruhiyah yang kuat untuk menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa atau dapat merusak pahalanya. Kita dituntut untuk menahan diri dari memandang yang tidak halal, menahan diri dari ucapan yang dusta, kotor dan dapat menyakitkan orang lain, menahan diri dari melangkahkan kaki kepada tempat-tempat maksiat, menahan diri dari aktifitas yang tidak bermanfaat, menahan diri dari perasaan hasud, dengki, su’udhon, ujub dan sombong.

Wujud ketaatan tentunya juga terletak pada amalan berpuasa, menjauhi apa-apa yang diharamkan juga merupakan suatu kandungan di dalamnya. Usaha seseorang dalam bersabar sekalipun itu hal yang membuat rasa sakit, seperti menahan diri dari perasaan lapar dan haus beserta lemahnya badan, merupakan ladang pahala yang tak terhingga. Maka dari situlah mengapa pahala amalan berpuasa tak terbatas sebagaimana pahala orang-orang yang bersabar.

Mudah-mudahan kita semua mendapatkan kemanfa’atan, berkah, beserta ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga kita tergolong orang-orang yang insyaAllah mampu bersabar dalam menjalankan sebuah amal ibadah dan kebaikan. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke