Rasm Utsmani dan Sejaran Mushaf Utsmani

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, cara membaca dan penulisan lafadz-lafadz al-Qur’an mempunyai ilmu tersendiri, ilmu tentang cara membaca al-Qur’an disebut ilmu qira’at.

Dari sebagian orang Islam daerah Syam dan Irak ada perbedaan dalam bacaan al-Qur’an. Hal ini yang melatar belakangi terbentuknya mushaf utsmani, di kota Madinah pun ada perbedaan sampai diantara mereka saling menyalahkan satu sama lainnya dan membenarkan bacaan mereka masing-masing.

Hal itu terjadi karena memang pada mulanya Nabi saw. Membolehkan orang-orang islam membaca al-Qur’an dengan dialek mereka masing-masing, yang mana dialek itu yang kita kenal dengan tujuh huruf.

Dari peristiwa itu maka shahabat Utsman bin Affan sebagai khalifah perlu membuat suatu kebijakan dan memutuskan untuk membuat satu dialek saja agar diantara orang-orang islam tidak ada perdebatan dalan bacaan al-Qur’an lalu kemudian shahabat Utsman menyuruh beberapa shahabat untuk mengumpulkan mushaf-mushaf al-Qur’an dan menyusunnya berdasarkan kesepakatan bersama.

Definisi Rasm Utsmani

Kata Rasm artinya bekas atau peninggalan, kata lain sama yang sama artinya adalah al-khottu, al-kitabatu, az-zabaru, asy–syaqoru, ar-roqmu, dan ar-rosymu. Semua berarti tulisan, kaitanya dengan arti dasar tersebut bahwa seorang penulis yang telah menggoreskan penanya, maka ia akan meninggalkan bekas pada tulisannya itu.

Dalam kitab Manahil al-‘Irfan Fi ‘Ulum al-Qur’an disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Rasm al-Qur’an atau al-Mushaf adalah:

رَسْمُ المصحفِ يُرَادُ به الوَضْعُ الذِى ارتَضَاه عُثمَان رضِى الله عَنْهُ فى كِتَابَةِ كَلِمَاتِ القُرانِ وحُرُوْفِ

Rasm Mushaf yang dimaksud disini adalah kaidah yang disepakati oleh Utsman RA dalam penulisan kalimat-kalimat al-Qur’an dan hurufnya”

Cakupan dalam Rasm Utsmani

  1. Kaidah-kaidah Rasm Utsmani
  • Penghapusan (al-Hadzf), seperti penghapusan huruf-huruf sebagai berikut:
  1. Huruf alif yang terdapat pada ya’ nida’ (ya’ seruan) sebagaimana yang tercantum dalam bunyi ayat يااْيها الناس, huruf alif yang terdapat pada ha at-tanbih (peringatan) sebagaimana tercantum dalam bunyi ayat هانتم هؤلاء, huruf alif yang terdapat نا apabila diikuti oleh suatu dhamir, seperti انجينكم dan واتينه, huruf alif terdapat setiap bentuk jama’ shahih, baik untuk jama’ mudzakkar atau jama’ muannats seperti المسلمات serta huruf alif yang terdapat pada setiap bentuk jama’ yang menyerupai wazan mafaa’ilu dan yang serupa dengannya, seperti مساجد.
  2. Huruf ya yang terdapat pada setiap lafazh al-manqush yang bertanwin, baik dalam keadaan rafa’ maupun jarr, seperti ungkapan غيرباغ ولاعاد dan huruf yadalam ungkapan seruan, seperti ungkapan: يعباد فاتّقون kecuali dalam ungkapanقل ياعبادي الذين اسرفوا.
  3. Huruf wawu apabila terjadi bersamaan dengan huruf wawu yang lain, seperti lafazh لايستون.
  • Penambahan (az-ziyadah), sebagaimana penambahan huruf-huruf berikut ini:
  1. Penambahan huruf alif di akhir isim yang dijama’kan atau dalam hukum yang serupa dengannya, seperti dalam lafadz الظنونا dan huruf alif yang terletak antara huruf jim dan huruf ya dalam lafadz وجئ dalam surah az-Zumar, sedangkan di dalam suratnya tertulis وجايء Penambahan huruf ya, sebagaimana lafadz با يبكم لمفثون.
  2. Penambahan huruf wawu, sebagaimana lafadz اولئك.
  • Aturan hamzah yang terdiri atas beberapa macam, yaitu berikut ini:
  1. Al-Hamzah al-Sakinah yang aslinya ditulis di atas huruf yang sesuai dengan harakat sebelumnya, baik di awal, tengah, maupun akhir, اقرأ kecuali dalam kata-kata tertentu, seperti فادارءثم maka kedua kata tersebut hurufnya dihilangkan dan hamzah ditulis menyendiri.
  2. Al-Hamzah al-Mutaharrikah apabila berada di awal kata atau digabungkan dengan huruf tambahan, hamzah tersebut ditulis dengan alif secara pasti (mutlak, baik dalam keadaan fatah, dammah maupun kasrah, seperti kata اولوا. اذا, أيوب kecuali di tempat-tempat tertentu seperti قل أئنكم لثكفرون di dalam surah Fushshilat.
  • Ketakutan (at-tahwil), dan Kekejian (tafdhi).
  1. Setiap alif yang merupakan refleksi (munqalabah) huruf al-ya’u ditulis dengan huruf al-ya’, seperti kata يثوفيكم dalam isim atau fi’il yang bersambung dengan dhamir atau tidak, yang tetap sukun atau tidak, seperti ياحسرثي, ياأسفي علي يوسف kecuali seperti kata ,هداني.
  2. Nun taukid khafif ditulis dengan huruf alif, begitupula nun dalam kata (اذا) sedangkan ungkapa وكأين من نبي, maka ditulis dengan nun.
  3. Ha’ at-Ta’nis ditulis dengan huruf ta yang berbeda dengan huruf aslinya di beberapa tempat di dalam al-Qur’an, seperti kata رحمة dalam surah al-Baqarah, al-Maidah, dan lain-lain.
  • Aturan pemisahan (al-fashl) dan penyambungan (al-washl). Di dalam tulisan, Aturan al-Badal (penggantian) yang terdiri atas beberapa macam aturan, yaitu:
  1. Gambar alif ditulis dengan wawu untuk menyatakan keagungan (al-tafkhim), terkadang sebagian lafadz ditulis secara bersambung dan terkadang ditulis secara terpisah, dan sebagian lagi ditulis dalam satu keadaan tertentu.
  2. Penyambungan kata ان dengan fathah hamzahnya disambungkan (washl) dengan لا, bila jatuh sesudahnya seperti lafadz ألاثقولوا dalam surah al-A’raf. Dari kaidah ini dikecualikan sepuluh tempat, antara lain kata أن لاثعبدوا dalam surah Huud dan surah Yasin, kata وان لاثعلواعلي الله dalam surah al-Dukhan.
  3. Penyambungan kata مما, kecuali di dalam ungkapan من ماملكث أيمانكم dalam surah al-Nisa dan al-Ruum, ungkapan من مارزقناكم dalam surah al-Munafiqun, penyambungan kata ممن secara mutlak.
  4. Penyambungan kata عما, kecuali di dalam عن مانهواعنه.
  5. Penyambungan kata عمن kecuali di dalam firman-Nya ويصرفه عن من يشاء. dalam surah an-Nur, dan firman-Nya عن من تولي dalam surah an-Najm.
  6. Penyambungan kata كلما kecuali dalam firman-Nya كل ماردواالي الفتنة dan firman-Nya من كل ماسألتموه.
  7. Penyambungan kata أمن, kecuali dalam firman-Nya أمن يكون عليهم وكيلا dalam surah an-Nisa, penyambungan kata اما dengan harakat kasrah pada huruf hamzahdan syiddah, kecuali dalam ungkapan ومانرينك dalam surah ar-Ra’du.
  8. Penyambungan kata أنما dengan harakat fatah pada huruf hamzah secara mutlak.
  9. Dan lafaz-lafaz lainnya yang sewaktu-waktu ditulis secara bersambung dan sewaktu-sewaktu terpisah, seperti kata أنما, kata أن لم dengan harakat dan kasrah.
  • Lafadz-lafadz yang memiliki dua bacaan maka ditulis menurut salah satunya, seperti lafaz وماهم بسكري dan yang sejenisnya. Semuanya dibaca dengan menetapkan alif, atau dengan menghilangkannya. Demikian pula, kata-kata yang ditulis dengan ta’ maftuhah, yaitu ثمرة من أكمامها dalam surah Fushshilat.
  1. Proses Perbaikan Rasm Utsmani

Pada Mushaf Utsmani tidak menggunakan tanda baca titik atau pun harakat. Hal ini karena latar belakang dan karakter bacaan orang-orang Arab yang murni, sehingga mereka tidak memerlukan harakat atau pemberian titik.

Ketika Bahasa Arab mulai mengalami kerusakan akibat bercampurnya Bahasa Arab dengan non Arab maka pada penguasa pada saat itu memandang akan penting adanya format penulisan mushaf dengan memberi syakal harakat titik dan yang lainnya agar dapat membantu pembacaan yang benar. Para ulama’ berbeda pendapat tentang usaha pertama yang dicurahkan untuk hal itu, banyak ulama’ yang berpendapat bahwa orang yang pertama melkukan hal itu adalah Abul Aswad ad-Du’ali, peletak utama dasar-dasar kaidah Bahasa Arab. As Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Itqan bahwa Abul Aswad Ad-Du’ali adalah orang pertama yang melakukan usaha perbaikan rasm Utsmani atas perintah Abdul Malik bin Marwan, bukan atas perintah Ziyad. Ketika banyak orang telah membaca mushaf Utsman selama lebih dari empat puluh tahun hingga masa kekhalifahan Abdul Malik. Tetapi masih juga banyak orang yang membuat kesalahan dan kesalah itu merajalela di Irak, maka penguasa memikirkan pembuatan tentang pembuatan tanda baca, titik dan syakal.

  1. Pendapat Ulama Terkait Rasm Utsmani
  • Sebagian dari ulama’ berpendapat bahwa Rasm Utsmani di dalam Al-Qur’an ini bersifat tauqify yang wajib dipakai dalam penulisan al-Qur’an dan harus sungguh-sungguh disucikan. Mereka menisbatkan tauqify dalam penulisan al-Qur`an kepada Nabi. Mereka menyebutkan, Nabi pernah mengatakan kepada Muawiyah, salah seorang penulis wahyu, “ Goreskan tinta, tegakkan huruf ya, bedakan sin, jangan kamu miringkan mim, baguskan tuliskan lafal Allah, panjangkan Ar Rahman, baguskan Ar Rahim, dan letakkanlah penamu pada telinga kirimu, karena yang demikian akan lebih dapat mengingatkan kamu “. Ibnu Mubarok dari Syaikh Abdul Aziz ad Dabbagh, bahwa dia berkata kepadanya, “ Para sahabat dan orang lain tidak campur tangan seujung rambut pun dalam penulisan al Qur`an karena penulisan al Qur`an adalah tauqifi, ketentuan dari Nabi. Dialah yang memerintahkan kepada mereka untuk menuliskannya dalam bentuk seperti yang dikenal sekarang, dengan menambahkan alif atau menguranginya karena ada rahasia-rahasia yang tidak terjangkau oleh akal. Ituah sebab satu rahasia Allah yang diberikan kepada kitab-Nya yang mulia, yang tidak Dia berikan kepada kitab-kitab samawi lainnya. Sebagaimana susunan al Qur`an adalah mukjizat, maka penulisannya pun mukjizat. Bagi mereka rasm Utsmani menjadi petunjuk terhadap beberapa makna yang tersembunyi dan halus, sepereti penambahan “ya” dalam penulisan kata “aydin” yang terdapat dalam firmanNya, “Dan langit itu Kami bangun dengan tangan Kami “. (Adz-Dzariyat: 47).
  • Banyak ulama’ berpendapat bahwa Rasm Utsamni buknalah tauqify dari Nabi, tetpai hanya meprupakan satu cara penulisan yang disetujui Utsman dan diterima umat dengan baik. Sehingga menjadi suatu keharusan dan tidak boleh dilanggar.
  • Segolongan orang berpendapat bahwa Rasm Utsmani itu hanyalah sebuah istilah, tata cara dan tidak ada salahnya jika menyalahi bila orang mepergunakan satu rasm tertentu untuk imla’ dan rasm itu tersiar luas di antara mereka. Abu Bakar al-Baqilani mengatakan dalam kitannya al-intishar “tak ada yang diwajibkan oleh Allah mengenai (cara atau bentuk) Penulisan mushaf. oleh karena itu para penulis al-Qur’an dan mushaf tidak diwajibkan menggunakan rasm tertentu yang diwajibkan kepada mereka sehingga tidak boleh menggukan cara yang lain.

Sejarah Mushaf Utsmani

Ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. kepada para sahabat sangat sistematis. Ada banyak sahabat yang menghafal al-Qur’an diantaranya Abdulaah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Kemudian ada juga yang menulisnya pada beberapa kulit kayu, batu, kulit binatang dan pecahan tulang-tulang binatang. Tulisan itu masih terpisah satu dengan yang lainnya masih belum terkumpul menjadi satu mushaf. Hanya penertiban ayat-ayatnya saja. Periode ini dinamakan pengumpulan pertama, maksud pengumpulan disini adalah sistem hafalan dan penulisan.

Pada saat setelah Nabi Muhammad saw. wafat kepemimpinan dipindah alihkan kepada sahabat Abu Bakar al-Shiddiq sebagai pemimpin kaum muslimin sampai pada tahun 634 M. ketika itu kaum muslimin sedang berat-beratnya menghadapi perang besar yang menggugurkan banyak penghafal al-Qur’an. Melihat kejadian itu sahabat Umar bin Khattab merasa khawatir akan kemusnahan al-Qur’an, untuk itu beliau langsung menghadap Abu Bakar dan menceritakan kekhawatirannya itu dan mengusulkan agar al-Qur’an segera dibukukan. Mendengar usulan itu Abu Bakar menolak karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. tetapi sahabat Umar terus menjelaskan bahwa hal itu baik. Akhirnya Abu Bakar meminta petunjuk dengan beristikharah dan disitu Allah swt. membukakan hati untuk menerima usulan dari sahabat Umar tadi.

Kemudian Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan al-Qur’an. Sebelumnya sempat menolak perintah Abu Bakar akan tetapi setelah diyakinkan akhirnya Zaid bin Tsabit menerima perintah itu. Kemudian Zaid mengumpulkan mushaf-mushaf ayat-ayat al-Qur’an dari para penghafal al-Qur’an. Setelah terkumpul lalu diberikan kepada Abu Bakar sampai akhir hayatnya. Selanjutnya mushaf-mushaf itu pada Umar bin Khattab sampai beliau meninggal dan diteruskan pada khalifah Utsman bin Affan.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pada masa khalifah Utsman banyak perbedaan bacaan al-Qur’an sehingga menimbulkan konflik antar orang mukmin. Berawal dari Hudhaifah ibn al-Yaman mendengar orang membaca al-Qur’an yang satu dengan yang lainnya berbeda. Melihat hal itu ia langsung menghadap Utsman dan menceritakan apa yang ia dengar. Kemudian Utsman istikharah dan mengutus utusan ke Khafsah untuk meminjamkan mushaf yang ia baca unutk menyalinnya dan kemudian akan dikembalikan lagi.

Pekerjaan membukukan al-Qur’an merupakan pekerjaan yang besar. Untuk itu Utsman menyiapkan orang-orang yang ahli dalam bidang al-Qur’an untuk pembukuan al-Qur’an. Beliau memerintahkan sahabat Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Saad bin al-Ash dan sahabat Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam. Dalam pembukuan al-Qur’an khalifah Utsman menyatukan bacaan yang berbeda yang sebelumnya menggunakan tujuh bacaan menjadi satu bacaan yaitu dialek Qiraisy. Ada yang berpendapat juga tidak hanya dialek Quraisy saja tetapi ada dialek-dialek dari suku-suku lain.

Kesimpulan

Dari rumusan masalah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa rasm artinya bekas atau peninggalan, kata lain sama yang sama artinya adalah al-khottu, al-kitabatu, az-zabaru, asy–syaqoru, ar-roqmu, dan ar-rosymu. Semua berarti tulisan, kaitanya dengan arti dasar tersebut bahwa seorang penulis yang telah menggoreskan penanya, maka ia akan meninggalkan bekas pada tulisannya itu.

Mengenai cakupan rasm yaitu dengan adanya pembuangan alif, ya’, waw, salah satu dari dua lam, nun. Kemudian dengan penambahan alif, ya’, waw serta penambahan hamzah. Pada mushaf utsmani tidak menggunakan tanda baca titik atau pun harakat. Hal ini karena latar belakang dan karakter bacaan orang-orang Arab yang murni, sehingga mereka tidak memerlukan harakat atau pemberian titik.

Ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. kepada para sahabat sangat sistematis. Ada banyak sahabat yang menghafal al-Qur’an diantaranya Abdulaah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Kemudian ada juga yang menulisnya pada beberapa kulit kayu, batu, kulit binatang dan pecahan tulang-tulang binatang. Tulisan itu masih terpisah satu dengan yang lainnya masih belum terkumpul menjadi satu mushaf. Hanya penertiban ayat-ayatnya saja. Periode ini dinamakan pengumpulan pertama, maksud pengumpulan disini adalah sistem hafalan dan penulisan. (dedikayunk.wordpress.com)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh Ustadz Dedi Kayunk

DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Qatthan, Manna’ Khalil. Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Mansyurat al-Hadits al-‘Asr al-Hadits.
  • Az-Zarqani, Muhammad Abdul ‘Azim.. Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz I. Kairo: Darul Kutub al-‘Ilmi.
  • Gusmian, Islah.1999. Pedoman Umum Penulisan dan Mushaf al-Qur’an dengan Rasm Usmani. Jakarta: Puslitbang.
  • Tahanil Fawaid. Sejarah Terbentuknya Mushaf Utsmani. Yogyakarta: Skripsi, 2014.
  • Tim Kajian Keislaman Nurul Ilmi. 2012, Buku Induk Terlengkap Agama Islam. Yogyakarta: Citra Risalah.

Bagikan Artikel Ini Ke