Saat Hendak Bangkit dari Sujud tidak Disunnahkan Mengangkat Tangan

Saat bangkit dari sujud yang disertai dengan bacaan takbir intiqal, tanpa mengangkat tangan. Sebagaimana dalam hadits Muthorrif bin Abdullah rahimahullah, ia berkata,

وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ وَيَصْنَعُهُ إِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ وَلاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِى شَىْءٍ مِنْ صَلاَتِهِ وَهُوَ قَاعِدٌ

“Jika beliau ingin ruku’ dan bangkit dari ruku’ (beliau mengangkat tangan). Namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya saat duduk.” (HR. Abu Daud Nomor 761, Ibnu Majah Nomor 864 dan Tirmidzi Nomor 3423)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika hendak sujud atau hendak bangkit dari sujud Nabi tidak mengangkat tidak mengangkat kedua tangannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangan saat shalat pada beberapa tempat. Yaitu, pada waktu takbiratul ihram, pada waktu akan ruku`, pada waktu bangkit dari ruku`, dan pada waktu berdiri dari raka’at kedua. Sebagaimana yang telah digambarkan dalam sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhuma. Ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya.” (Hadits Riwayat Bukhâri Nomor 735, dan Muslim Nomor 390)

Selain mengangkat tangan yang telah disebutkan dalam hadits di atas, adalah mengangkat tangan setelah bangkit dari tasyahhud awal juga diakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam atsar berikut,

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Nâfi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allâhu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari raka’at kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hadits Riwayat Bukhâri Nomor 739)

Dalam riwayat lain disunnahkan juga mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun dari ruku’. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Malik bin Al Huwairits radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya,

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ

“Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam sholat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya hingga setentang kedua telinganya.” (Hadits Riwayat Nasa’i Nomor 672 dan Ahmad Nomor 493)

Ada satu tempat lagi mengangkat tangan yang dicontohkan oleh Nabi untuk kita lakukan. Yaitu mengangkat tangan pada waktu setelah takbir bangkit dari raka’at ketiga menuju keempat. Sebagaimana ditunjukkan pada hadits berikut,

وَكاَنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ هَذَا التَّكْبِيْرِ أَحْيَانًا

“Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir ini.” (Hadits Riwayat Bukhâri dan Abu Dawud)

Madzhab Hanafi berpandangan bahwa mengangkat tangan saat takbiratul ihram hukumnya sunnah. Bagi laki-laki mengangkat tangan hingga sejajar dengan ujung telinga, dan jari-jarinya terbuka. Sedangkan bagi perempuan mengangkat tangan hingga pundaknya saja.

Madzhab Syafi’i berpandangan bahwa mengangkat tangan hukumnya sunnah ketika takbiratul ihram, ruku’, selesai ruku’ dan ketika bangun dari tasyahud awal rakaat kedua saat akan memulai rakaat ketiga. Posisi tangan hingga ujung-ujung jari lebih tinggi dari telinga. Sedangkan jempol jarinya mendekat pada kedua telinganya.

Madzhab Maliki berpandangan bahwa mengangkat tangan saat takbiratul Ihram hukumnya sunnah, dan dihukumi makruh mengangkat kedua tangan saat ruku’ atau takbir memulai rakaat berikutnya. Kedua tangan direnggangkan, telapak tangannya mengarah pada bumi atau ke bawah.

Madzhab Hanbali berpandangan bahwa laki-laki maupun perempuan disunnahkan mengangkat tangan hingga pundak ketika takbiratul ihram, ruku’ dan setelah ruku’.

Dengan begitu sudah sangat jelas bahwa memang ada beberapa tempat dimana kita disunnahkan mengankat kedua tangan. Namu tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa kita disunnahkan mengangkat tangan saat hendak sujud atau saat henda bangkit dari sujud.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke