Salah Penafsiran Memburu Keutamaan Shalat di Awal Waktu

Sudah diketahui bersama bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang sangat mustajabah. Dimana dalam waktu tersebut bagi yang memanjatkan doa akan mudah dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad 3/155)

Dari Anas bin Malik pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad; shahih)

Sudah sangat jelas bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang penuh keberkahan (kebaikan). Sudah sepantasnya seorang muslim menyibukkan diri untuk banyak beribadah sunnah; Shalat rawatib, berdo’a, berdzikir, bermunajat, membaca Al-Qur’an dan bershalawat. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 875)

Dengan begitu memanfaatkan waktu mustajabah tersebut dengan doa-doa dalam bentuk lirik-lirik syair sudah menjadi kebiasaan para sahabat yang dibenarkan oleh Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ, فَادْعُوْا. رواه أبو يعلى

“Do’a yang dibaca antara adzan dan iqamat itu mustajab (dikabulkan oleh Allah). Maka berdo’alah kamu sekalian”. (HR. Abu Ya’la)

Namun begitu, terkadang pada sebagian masjid atau mushalla para pengelolanya mengabaikan perkara ini dengan tidak memberikan jeda antara adzan dan iqamah. Dengan berbagai alasan, sebagian karena tidak mengetahui waktu mustajabah tersebut dan sebagian beralasan mengejar shalat berjamaah di awal waktu. Sehingga ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan dilangsungkan dengan kumandang iqamah. Sehingga para jamaah tidak memiliki waktu untuk memanfaatkan waktu ini dengan mengamalkan fadhilah amaliyah yang diajarkan Nabi.

Tidak heran manakala kita menyaksikan di kalangan umat Islam di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia yang berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, pada waktu-waktu tersebut kita banyak mendengarkan melalui pengeras-pengeras suara di masjid-masjid atau mushola-mushola lantunan dzikir-dzikir yang bermuatan doa-doa dipanjatkan.

Lantunan dzikir-dzikir yang bermuatan doa tersebut biasanya kita kenal dengan istilah puji-pujian. Dengan maksud mereka memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat sebagai pahala ibadah, sekaligus mengabulkan segala hajat. Sebab pujian merupakan tingkatan doa yang paling tinggi kedudukannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عن جَابِر بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallahu dan doa yang paling utama adalah Al-hamdu Lillah.” (HR. Tirmidzi no. 3305, Ibnu Majah no. 3790, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Sedangkan doa-doa yang dibaca dengan cara dilagukan dalam bentuk syair-syair dengan suara keras di dalam masjid hukumnya boleh dan ada tuntunan sunnahnya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hasan bin Tsabit berikut;

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِى الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَجِبْ عَنِّى اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ. قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. رواه أبو دادو والنسائي

“Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata bahwa Umar bin Khaththab pernah berjalan melewati Hassan yang sedang melantunkan sya’ir di Masjid. Lalu Umar menegurnya dengan pandangan mata. Tetapi Hassan berkata; “Dulu saya pernah melantunkan syair di Masjid ini, yang ketika itu ada seseorang yang lebih mulia daripadamu yaitu (Rasulullah).” Kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya, Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Ruhul Kudus” Abu Hurairah menjawab; “Ya, Saya pernah mendengarnya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Dengan begitu memanfaatkan waktu mustajabah tersebut dengan doa-doa dalam bentuk lirik-lirik syair sudah menjadi kebiasaan para sahabat yang dibenarkan oleh Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ, فَادْعُوْا. رواه أبو يعلى

“Do’a yang dibaca antara adzan dan iqamat itu mustajab (dikabulkan oleh Allah). Maka berdo’alah kamu sekalian”. (HR. Abu Ya’la)

Bahkan Syaikh Amin al-Kurdi di dalam Tanwirul Qulub menegaskan bahwa hukum puji-pujian setelah adzan hukumnya sunnah,

وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا, وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ, وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ.

“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah adzan (puji-pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat”

Sudah sangat terang bahwa pujian yang bermuatan dzikir, doa, dan shalawat setelah adzan adalah suatu amaliah yang sangat jelas dalilnya.

Agar kita sebagai umat Islam dapat mengamalkan fadhilah amaliyah tersebut tentunya harus mengetahui jarak waktu antara adzan dan iqamah sesuai yang diajarkan Nabi.

Berdasarkan hadits, tolak ukur jarak waktu antara adzan hingga iqamah adalah seseorang tidak tergesa gesa dalam menunaikan hajatnya dan juga tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan makannya. Dari ‘Ubay bin Ka’ab, Jabir bin ‘Abdillah, Abu Hurairah dan Salman al-Farisi, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

اجعلْ بين أذانِك وإقامتِك نفَسًا ، قدرَ ما يقضي المعتصِرُ حاجتَه في مهَلٍ ، وقدْرَ ما يُفرِغُ الآكِلُ من طعامِه في مهَلٍ

“Jadikan (waktu) antara adzan dan iqamahmu, sesuai dengan orang yang tidak tergesa gesa dalam menunaikan hajatnya dan orang yang tidak tergesa gesa dalam menyelesaikan makannya.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi)

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa jarak waktu antara adzan dan iqamah kurang lebih sekitar 10-15 menit. Diasumsikan dari aktifitas makan seseorang secara normal membutuhkan waktu selama itu.

Jadi, alangkah baiknya bagi pengelola masjid atau mushallah memanfaatkan waktu 10-15 menit tersebut dengan puji-pujian yang berisikan dzikir, doa, dan shalawat sehingga para jamaah memiliki kesempatan untuk mengamalkan berbagai macam ibadah seperti shalat sunnah rawatib, shalat tahiyatul masjid, membaca Al-Qur’an, dan doa-doa yang penuh mustajabah.

Janganlah disebabkan hanya memburu satu keutamaan shalat di awal waktu malah menyebabkan terabaikannya amalan-amalan lain yang juga memiliki banyak keutamaan yang sangat dianjurkan oleh Nabi sendiri.

Artikel senada;

Jarak Waktu Antara Adzan dan Iqamah Berdasarkan Hadits

Tolak Ukur Lama Waktu Antara Adzan dan Iqamah Berdasarkan Hadits

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke