Sejarah Awal Terjadinya Konspirasi Wahabi dengan Zionis Yahudi dan Kapitalis Nasrani

Membahas bid’ah tidak sesederhana membahas tentang sesuatu yang baru dalam ajaran Islam, yang dianggap bukan bagian Sunnah Nabi, sehingga layak disematkan gelar sesat bagi pelakunya. Sebaliknya, pembahasan bid’ah begitu rumit, pelik dan kompeks. Semangat awal yang terkandung bisa jadi  pemurnian dalam hal aqidah dan ibadah, namun di balik itu semua, sangat mungkin ada konspirasi buruk dari mereka yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Membahas bid’ah sama halnya membahas konspirasi dari banyak kepentingan yang berbeda-beda, namun berada dalam satu gerbong, dengan satu tujuan utama mereka: memporak-porandakan kekuatan dan kemuliaan agama Islam. Walaupun sulit dan mustahil menuangkan tulisan ringkas untuk menggambarkan secara utuh konsep bid’ah dan konspirasi yang melingkupi kelahirannya, namun buku ini berusaha untuk  membahasa point-point pokoknya saja, sehingga dapat diperoleh gambaran umum terkait kedudukan doktrin bid’ah, baik secara pengertian, proses kelahirannya, dan dampak bagi kewibawaan agama Islam, agar umat Islam lebih bijaksana dalam menyikapinya.

Membahas bid’ah tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir di kampung Uyainah, Najed, lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang pada tahun (1115-1206 H. /1701-1793 M). Walaupun kosa kata bid’ah memang terdapat dalam banyak Hadits, namun pencetus pertama kali bid’ah sebagai sebuah konsep dan doktrin keagamaan adalah Muhammad bin Abdul Wahab. Membahas Muhammad bin Abdul Wahab juga tidak bisa dilepaskan dari pembahasan sejarah pendirian kerajaan Saudi Arabia pertama oleh Muhammad bin Saud Alu Muqrin (meninggal pada 1765 M. ), dia juga dikenal dengan Ibnu Saud. Ini berawal dari kegelisahan Muhammad bin Abdul Wahab, di mana dia beranggapan bahwa kaum muslimin telah terjerumus pada kesyirikan dan kekafiran. Abdul Wahab berpandangan bahwa soal Ibadah tidak dapat dipisahkan dengan tauhid, di mana satu-satunya dzat yang patut disembah adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Namun sayangnya, niat baik dari Abdul Wahab ternyata tidak disertai dengan fakta sejarah yang baik pula. Konsep atau manhaj ajarannya dianggap telah menyelisihi ijma’ jumhur ulama. Selain itu, fakta sejarah membuktikan, cara dakwah yang dia digunakan begitu kelam, sehingga dia menerima banyak penolakan. Upaya dia untuk memurnikan agama menurut pandangannya sendiri ternyata malah menjerumuskan dia pada manhaj menyerupakan (mujassimah/membendakan) dzat Allah dengan makhluqnya, terjebak pada mudah menuduh sesat, bid’ah, kurafat, tahayyul, syirik, dan kafir kepada pihak lain yang bukan golongannya. Manhaj takfiri yang dikembangkan oleh Abdul Wahab dianggap sangat tidak berdasar dan berdampak buruk pada keutuhan umat Islam karena tuduhan tersebut tidak hanya disematkan kepada orang kafir saja, namun juga mereka sematkan kepada sesama muslim, dan juga mereka berlakukan terhadap perkara-perkara agama yang bersifat furuiyah.

Letak kejanggalan manhaj takfiri Salafi adalah bermula dari doktrin bid’ah yang berdampak pada pengkafiran pihak lain secara serampangan. Mereka berteori bahwa semua yang tidak ada di zaman Nabi adalah bid’ah. Ketika disoal tentang kebid’ahan seperti alat-alat elektronik untuk berdakwah karena tidak ada di zaman Nabi, mereka menyangkal bahwa alat-alat elektronik bukan bid’ah karena dianggap urusan dunia. Mereka mengatakan, yang disebut bid’ah bila terkait perkara agama dan ibadah. Sampai pada logika ini, kaum Salafi ternyata juga terjebak pada pembagian bid’ah, di mana katanya bid’ah tidak dapat dibagi. Namun kenyataannya, mereka sendiri tidak konsisten karena melakukan sesuatu di mana Nabi sendiri tidak pernah melakukan, seperti membagi bid’ah menjadi dua, yakni bid’ah perkara dunia dan bid’ah perkara agama (ibadah). Anehnya, ketika mereka seenaknya melakukan pembagian kategori bid’ah, mereka menolak mati-matian pihak lain, seperti ulama sekaliber Imam Syafi’i, yang melakukan pembagian bid’ah menjadi dua: bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayi’ah (buruk).

Baiklah kalau begitu, kita coba untuk menerima logika yang dikembangkan oleh Salafi ini, bahwa bid’ah yang sesat itu bila terkait dengan ibadah yang tidak pernah dilakukan Nabi. Sehingga apa pun ibadahnya, baik ibadah mahdah maupun ibadah sunnah mutlaq yang tidak pernah dilakukan Nabi, maka tergolong bid’ah sesat, dolalah, dan pelakunya wajib masuk neraka, karena kebid’ahan kedudukannya setara dengan kekafiran. Kalau begitu, dampak dari logika Salafi akan menyebabkan terlalu banyak ulama mu’tabarah yang layak dihukumi sesat dan kafir, seperti kafirnya Imam Ahmad karena telah menciptakan ibadah shalat 300 rakaat. Abu Hurairah juga masuk neraka karena menciptakan ibadah dzikir khusus 1000 kali sebelum tidur, Utsman masuk neraka karena menambah jumlah adzan saat shalat Jum’at, Bilal juga masuk neraka karena menciptakan ibadah shalat sunnah wudlu. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan semua dalam buku ini tentang para ulama dan sahabat yang menciptakan ibadah-ibadah yang tidak ada pada zaman Nabi. Bilamana logika Salafi terus diikuti, tentu akan berdampak pada pengakafiran semua ulama mu’tabarah, karena mayoritas mereka menciptakan ibadah-ibadah yang tidak ada di zaman Nabi dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi.  Imam Bukhari pun layak dihukumi paling masuk neraka, karena telah membukukan Hadits, di samping beliau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi, beliau juga melawan perintah Nabi, di mana Nabi sangat melarang menulis dan membukukan Hadits-Hadits Nabi. Sebagaimana sabda Nabi,

لاَ تَكْتُبُوْا عَنِّى شَيْئًا إِلاَّ الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّى غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian menulis sesuatu (Hadits) dari saya kecuali al-Qur’an. Barang siapa yang menulis dari saya selain al-Qur’an, maka hapuslah” (HR Ahmad No 11362, Muslim No 3004, Abu Ya’la No 1209, ad-Darimi No 450 dan Ibnu Hibban No 6254)

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Janganlah kalian menulis (Hadits) dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus, dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku-Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata: dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka. ” (HR. Muslim No. 5326)

Maka dapat dibayangkan dampak buruk dari logika Salafi ketika para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar yang membukukan al-Qur’an, serta Imam Bukhari harus masuk neraka ketika, beliau di samping melakukan perkara yang tidak pernah dilakukan Nabi, beliau juga telah melawan perintah Nabi, di mana Nabi sangat melarang menuliskan Hadits di atas kertas apalagi membukukannya.

Kejanggalan lain dari logika Salafi adalah golongan ini memiliki manhaj (konsep) al-wala’ wa al-bara’ (cinta dan benci), bila seorang muslim hendak mencintai agamanya, maka harus satu paket dengan rasa kebencian terhadap hal-hal thaghut dan kekafiran. Bila seorang muslim hendak mentauhidkan Allah, harus satu paket dengan rasa benci terhadap hal-hal yang bersifat syirik sekaligus harus membenci kepada mereka atau siapa pun yang dianggapnya telah terlibat dengan kesyirikan, dan kebid’ahan. Namun sayangnnya, kesyirikan yang dimaksud, kriterianya tidak jela,s atau lebih tepatnya kesyirikan yang hanya menurut anggapan dari versi mereka saja. Dengan begitu, bila seseorang mengaku telah bertauhid, namun tanpa rasa kebencian dalam hatinya, maka tauhidnya dianggap batal. Di sinilah kejanggalannya, kebencian dijadikan sebagai bagian dari syariat agama Islam. Makanya, tidak heran, bila diperhatikan, seorang Salafi ketika merasa semakin bertauhid maka mereka cenderung fanatik dengan meningkat rasa kebencian dan permusuhannya kepada apa pun dan siapa pun yang telah dilabeli syirik oleh mereka. Bila hendak meningkatkan keimanannya, mereka juga harus mencari dan menentukan musuh, memusuhi mereka yang tidak se-manhaj dengan golongannya. Padahal, sangat jelas, syariat Islam sangat mengharamkan membenci dan memusuhi, bahkan sangat menganjurkan umatnya untuk saling mencintai. Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan Hadits dari az-Zubair bin al-Awwam, beliau bersabda:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.

“Kalian telah terjangkiti penyakit umat sebelum kalian, yaitu dengki dan angkara murka yang dapat mencukur (memusnahkan). Aku tidak katakan mencukur rambut, tetap dapat mencukur (memusnahkan) agama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk ke dalam surga hingga kalain beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku beritahu cara menumbuhkan hal itu? Yaitu sebarkan salam (kedaiaman) di antara kalian.” (HR. Tirmidzi No. 2510, Ahmad No. I/167 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 260)

Upaya Abdul Wahab memurnikan tauhid umat Islam, yang dianggap telah terjerumus pada kesyirikan, dan mengembalikan ajaran umat Islam kepada al-Qur’an dan Sunnah, mendapat penolakan yang luar biasa dari berbagai kalangan di jazirah Arab. Bentuk penolakan umat saat itu terhadap dakwah Abdul Wahab adalah dia terusir berkali-kali dari berbagai wilayah di semenanjung Arab. Belakangan, Abdul Wahab harus tertolak dari keluarga besarnya, yang berhaluan Sunni. Dan juga harus terusir dari kampung halamannya sendiri, Uyainah, karena Abdul Wahab dengan paham takfirinya dianggap telah memecah belah umat Islam yang telah rukun saat itu. Di sinilah titik awal tertanamnya dendam kesumat dan rasa sakit hati Abdul Wahab terhadap bangsa Arab pada umumnya dan penduduk Uyainah pada khususnya. Rasa sakit hati dan kekecewaan yang pada akhirnya menghantarkan dia membangun konspirasi dengan kekuasaan klan Saud. Upaya dia membangun konspirasi dengan kekuasaan sangat masuk akal, sebab gerakan pemurnian tauhid menurut versinya sendiri lewat dakwah dan tarbiyah, dirasa tidak efektif hasilnya. Harapan Abdul Wahab atas konspirasi tersebut adalah manhaj takfirinya dapat dikembangkan bila dipaksakan kepada umat menggunakan kekuatan kekuasaan.

Di lain sisi, Mr. Hempher, yang sengaja mempertemukan Muhammad bin Abdul Wahab dengan Muhammad bin Saud sebagai imam Dir’iyyah yang memiliki ambisi besar menjadi penguasa di tanah Arab, merasa memiliki peluang untuk memanfaatkan legitimasi fatwa-fatwa ekstrem Muhammad bin Abdul Wahab untuk merebut tanah Arab dari kekuasaan khilafah Islamiyah Turki.

Mr. Hempher, agen rahasia yang ditugaskan oleh konspirasi Inggris Raya dan Yahudi, memanfaatkan rasa sakit hati Muhammad bin Abdul Wahab dan ambisi Muhammad bin Saud, untuk merongrong kekuasaan Ottoman yang dianggap sebagai penghalang bagi banyak kepentingan Barat (Zionis Israel dan Imperialis Barat), dengan membangun aliansi atau konspirasi pada tahun 1744. Berkat hasutan Mr. Hempher dan sokongan Inggris terhadap dua Muhammad tersebut, pada akhirnya tebentuklah kekuatan perang pada tahun 1774 untuk memulai ekspansi kekuasaan dengan merebut beberapa wilayah Arab hingga ke Damaskus. Kerajaan Saudi pertama, dengan ibu kotanya di Dir’iyyah dan berdiri pada tahun 1744, bermula dari aliansi dua Muhammad tersebut dan dibubarkan secara paksa oleh khilafah Islam Turki pada tahun 1818 M, yang ditandai dengan eksekusi imam terakhir kerajaan Saudi pertama Abdullah bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud beserta sebagian besar klan Saud oleh khilafah Islam Turki. Kerajaan Saudi kedua, dengan Riyadh sebagi ibu kotanya, dibangkitkan kembali oleh Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Saud pada tahun 1824, berkat dukungan kolonial Inggris, lagi-lagi dapat dibubarkan kembali oleh khilafah Islam Turki pada 1891. Klan Saudi diasingkan ke Kuwait pada tahun 1893. Pada tahun 1902, Abdul Aziz, klan Saud yang tersisa dari anak Abdurrahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Muhammad bi Saud, berhasil melakukan pemberontakan kepada khilafah Islam Turki, dengan ditandai terbunuhnya pemimpin Bani Rasyid sebagai penguasa perwakilan khilafah Islam Turki dan menduduki Riyadh. Peristiwa ini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Arab Saudi ketiga pada 1932 hingga sekarang.

Yang perlu dipahami oleh umat Islam tentang tujuan Inggris Raya yang membonceng kepentingan Yahudi adalah juga karena dendam dan sakit hati bangsa Yahudi dan Nasrani kepada Islam. Allah berfirman;

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 120)

Sepanjang sejarah lahirnya agama Islam, konspirasi demi konspirasi terus dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani. Konspirasi Yahudi dan Nashrani adalah perwujudan dendam mereka kepada umat Islam. Banyak sebab kenapa Yahudi dan Nasrani begitu menyimpan bara dendam kepada umat Islam, di antaranya;

Kebencian bangsa Yahudi terhadap Islam disebabkan bergantinya dominasi kelahiran para Nabi dari keturunan Yahudi kepada bangsa Arab, dengan diutusnya Muhammad sebagai Nabi penutup. Allah berfirman,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 89)

Di sisi lain, Yahudi hendak balas dendam kepada umat Islam, karena merasa tanah kelahirannya, Palestina, yang telah dijanjikan Allah kepada bangsa Yahudi, direbut kaum Muslimin, ketika kaum Muslimin dapat mengalahkan Byzantium dalam pertempuran Yarmuk pada tahun 636 Masehi. Saat itu, untuk yang kesekian kalinya, bangsa Yahudi mengalami tercerai berai (berdiaspora) ke penjuru belahan bumi tanpa sebuah negara, Allah berfirman,

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. (Surat Al-Ma’idah Ayat 26)

Walaupun mereka seringkali terusir, namun keyakinan mereka tetap bahwa Palestina pasti akan dapat direbut kembali, karena tanah Palestina memang telah dijanjikan Allah bagi bangsa Yahudi. Allah berfirman,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah dijanjikan Allah bagimu (Israel), dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. al-Ma’idah: 21)

Atas keyakinan tersebut, dan berkat lobi yang sangat panjang federasi Yahudi di seluruh dunia, dapat meyakinkan Imperialisme Barat yang dikomandani Inggris, untuk dapat mendukung Yahudi merebut kembali tanah airnya, Palestina. Maka, pada tanggal 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Britania Raya (Inggris), Arthur James Balfour, mendeklarasikan Piagam Balfour yang disetujui pada rapat kabinet Inggris pada tanggal 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis buat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina. Sekali lagi umat Islam pada umumnya dan bangsa-bangsa Arab pada khususnya mengalami penghianatan oleh persekongkolan zionis Israel, imperialis Barat dan klan Saud, yang dilegitimasi oleh fatwa-fatwa keagamaan; bid’ah, sesat, syirik, kurafat, dan takfiri dari Abdul Wahab, sebagai pembenaran di hadapan umat, agar tujuan konspirasi tersebut lebih leluasa dalam pencapaiannya.

Walaupun sebetulnya bangsa Nasrani tidak pernah senang dan rukun dengan bangsa Yahudi, dikarenakan di manapun Yahudi menetap, di sana pasti akan terjadi keonaran. Namun berkat kompensasi Yahudi, melalui penemuan senjata modern berbahan aseton oleh kimiawan Yahudi Dr. Chaim Weizmann, yang dipersembahkan kepada imperialis Inggris, maka menjadi kuatlah militer Inggris, yang berdampak pada kemenangan Inggris dan sekutu pada perang dunia pertama, sehingga menyebabkan runtuhnya khilafah Islam. Hal ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,

۞ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 82)

Dari deklarasi tersebut diambil beberapa langkah strategis untuk mendukung tujuan mereka, diantaranya;

  1. Langkah pertama melemahkan kedudukan khilafah Islam Turki di hadapan umat muslim sedunia dengan cara memisahkan (merebut) dua kota suci umat Islam (Mekkah dan Madinah) agar Imperialis Barat lebih mudah untuk menghancurkan dominasi khilafah Islam yang sah, Utsmaniyah, di penjuru dunia.
  2. Untuk mewujudkan niat tersebut dianggap perlu mencari mitra ambisius (penguasa Arab lokal) yang siap mendukung berdirinya Israel Raya dengan kompensasi akan diberikan kekuasaan di Hijaz bila bersedia melakukan perongrongan dan pemberontakan kepada Khilafah Islam Turki. Penawaran ini kemudian disambut dengan terbuka oleh kolaborasi dua kekuatan militer dan keagamaan: Abdul Aziz Ibu Saud sebagai kekuatan militer dan Abdul Wahab sebagai penyokong fatwa keagamaannya.

Deklarasi tersebut akhirnya membuahkan hasil, ketika pada tanggal 11 Desember 1917, Inggris di bawah pimpinan Jedral Edward Allenby, berhasil menduduki Palestina. Di sisi lain, di tengah berkecamuknya perang dunia ke-I, Pada tanggal 26 Desember 1915, Ibn Saud menyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibn Saud atas Nejd, Hasa, Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung di dalam keempat wilayah utama ini. Apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibn Saud. Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material bagi Ibn Saud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang £20. 000 begitu traktat ditandatangani. Selain itu, Ibn Saud menerima subsidi bulanan £5. 000 dan bantuan senjata yang akan dikirim secara teratur sampai tahun 1924.

Dokumen di atas menjelaskan: Sebagai imbalan bantuan dan pengakuan Inggris akan kekuasaannya, Ibn Saud menyatakan tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya. Ibn Saud juga tidak akan menyerang atau campur tangan di Kuwait, Bahrain, Qatar dan Oman – yang berada di bawah proteksi Inggris. Ibn Saud juga berjanji mendukung penuh berdirinya negara Yahudi di Palestina yang dibidani Inggris. Dan kerajaan Saudi berjanji akan berada pada barisan terdepan untuk menggembosi negara-negara Islam yang mencoba menghalang-halangi kepentingan Barat dan Yahudi di tanah Palestina. Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris di dalam politik Ibn Saud.

Atas dukungan penuh Inggris Raya, maka sedikit demi sedikit wilayah Hijaz dapat direbutnya, dan puncaknya adalah pada tahun 1924, dua tanah suci umat Islam sedunia yakni Mekkah dan Madinah, dapat direbut dari daulah khilafah Islam Turki. Dan pada tahun itu juga, khilafah Islamiyah Ottoman yang beribu kota di Turki, runtuh tidak tersisa berkat konspirasi kekuatan politik global yang memanfaatkan keekstreman doktrin bid’ah dan takfiri yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri firqah Salafi yang kemudian lebih dikenal dengan Wahabi.

Dalam bukunya Shafahat min Tarikh al-Jazirah halaman 240-248, DR. Muhammad Awadh al-Khathib memaparkan bukti-bukti konkret tentang terlalu tampaknya pembelaan Salafi dalam berbagai kasus terkait dengan kepentingan Inggris dan Yahudi kala itu. Salah satu indikasinya adalah, ketika dilangsungkan Kongres Dunia Islam pada 1926, para ulama dan utusan dari negara-negara dunia Islam mengusulkan untuk membersihkan kawasan Timur Tengah-seperti Palestina, Syiria, Irak, dan semenanjung Jazirah Arab-dari pengaruh asing, namun ulama Salafi menolak usulan negara-negara dunia Islam tersebut.

Perhatikan saja bagaimana fatwa keagamaan dari ulama-ulama Salafi seperti Albani digunakan untuk mendukung kepentingan imperialis Barat dan zionis Israel di Palestina. Dia mengeluarkan fatwa yang isinya mengharuskan warga muslim Palestina agar keluar dari negeri mereka dan mengosongkan tanah Palestina untuk orang-orang Yahudi. Dalam hal ini Albani mengatakan:

إِنَّ عَلَى الْفِلَسْطِيْنِيِّيْنَ أَنْ يُغَادِرُوْا بِلَادَهُمْ وَيَخْرُجُوْنَ إلَى بِلَادٍ أُخْرَى، وَإِنَّ كُلَّ مَنْ بَقِيَ فِى فِلَسْطِيْنَ مِنْهُمْ كَافِرٌ. (فتاوى الألبان جمع عكاشة عبد المنان، ص/18)

“Warga Muslim Palestina harus meninggalkan negerinya ke negeri lain, semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir.” (Fatawa al-Albani halaman 18)

Bukan suatu yang aneh, jika kaum Salafi dengan kerajaan Saudi Arabia sebagai kekuatan utamanya, selama ini bungkam seribu bahasa dengan keberadaan Yahudi di Palestina dengan segala kejahatan yang mereka lakukan terhadap umat Islam di negeri yang terampas dan terjajah itu. Faktanya, Ibnu Saud sudah terikat dan tersandra oleh traktat yang telah dibuatnya, sehingga tidak akan berani melawan konspirasi Inggris dan Yahudi di Palestina. Mereka juga sadar bahwa kerajaan Saudi merupakan negara bonus dari Barat karena jasa Saudi yang ikut membantu Barat meruntuhkan khilafah Islam Turki. Sejak awal, Salafi sudah mengamini ”penggadaian” negeri Palestina kepada Inggris, untuk kemudia diberikan kepada orang-orang Yahudi.

Dalam Muktamar al-Aqir tahun 1341 H di distrik Ahsaa, telah ditandatangani perjanjian resmi antara Salafi dengan pemerintah Inggris. Tertulis dalam kesepakatan itu, kalimat-kalimat yang ditorehkan oleh pemimpin Salafi:

“Aku berikrar dan mengakui seribu kali kepada Sir Percy Cox, wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keinginan Inggris sampai hari kiamat.” (Shafahat min Tarikh al-Jazirah)

Surat perjanjian itu ditandatangani oleh Raja Abdul Aziz. Selain itu, utusan Salafi juga datang menghadiri “Muktamar tentang tempat hijrah bangsa Yahudi ke Palestina”. Dalam muktamar itu, penasihat Salafi, Syaikh Abdullah Philippi (kolonel Jhon Philippi)—seorang orientalis penasihat kerajaan Saudi, yang juga bertugas sebagai guru politik bagi Raja Faishal ibnu Abdul Aziz sejak berusia 12 tahun—mengusulkan untuk memberikan Palestina kepada bangsa Yahudi dengan imbalan kemerdekaan bagi seluruh negara-negara Arab dari kekuasaan khilafah Islam Turki dan penjajahan bangsa Barat. Dalam muktamar tersebut, Salafi menyetujui kesepakatan rencana itu. Ini adalah pengakuan Jhon Philipi sendiri dalam bukunya “40 ‘Am fi Jazirah al-Arab”. Dengan runtuhnya khilafah Turki, Muhammad bin Saud merasa dendam klan Saudi telah terbayarkan.

Selain kepentingan Yahudi, juga ada kepentingan Nasrani (baca imperialis Barat) untuk balas dendam atas kekalahannya dalam Perang Salib terhadap umat Islam, sehingga untuk kesekian kalinya Palestina terlepas dari kekuasaan mereka. Kaum Nasrani merasa selama Daulah Islamiyah Turki mendominasi dunia, maka bangsa Barat merasa kepentingannya banyak terhambat, seperti kaum Nasrani kesulitan untuk berziarah ke tempat-tempat suci di Palestina. Di samping itu, selama dunia masih di bawah dominasi khilafah Islam, bangsa barat (Nasrani dan Yahudi) merasa terkucilkan, tidak berkembang, dan berada dalam masa kegelapan, karena terus menerus berada dalam tekanan Khilafah Islamiyah Turki.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka dijalinlah kerjasama dan konspirasi untuk meruntuhkan daulah Islamiyah, dengan menghancurkan dominasi daulah Islamiyah di seluruh dunia. Menggunakan teori masa kegelapan Eropa, ketika doktrin-doktrin Injili gereja Katolik mendominasi bangsa Eropa, maka saat itu Eropa benar-benar berada dalam keterpurukan dan mengalami keterbelakangan dalam segala sendi kehidupan. Menyadari akan hal itu (kefektifan doktrin sempit agama dipadukan dengan kekuasaan yang otoriter akan mampu membungkam kreatifitas umat), maka untuk membungkam umat, ditiru dan diadopsilah doktrin-doktrin Injili dan diterapkan kepada umat Islam. Konspirasi Barat melalui Mr. Hempher untuk menghasut dua Muhammad terebut terbukti mampu menciptakan masa kegelapan di dunia Islam hingga saat ini, dengan menumbuhkan doktrin-doktrin sempit keagamaan, seperti bid’ah, sesat, musyrik, kurafat, dan takfiri kepada umat. Doktrin-doktrin sempit keagamaan yang dikembangkan Abdul Wahab dan disokong penuh oleh kekuasaan kerajaan Saudi tersebut memang disengaja agar daya kritis, kreatif, dan inovatif dari umat Islam lemah atau bahkan hilang sama sekali. Bilamana umat Islam telah terjangkiti penyakit ketakutan dan bahkan terjebak saling menyesatkan, mensyirikkan, dan mengkafirkan, maka saat itulah dunia barat akan sangat leluasa untuk mengeksploitasi sumber daya alam milik umat Islam lewat dominasi imperialismenya, dan Yahudi juga dengan mudah merebut kembali Palestina sebagai tanah yang diyakini telah dijanjikan oleh Allah.

Sampai di sini ternyata umat Islam belum juga menyadari bahwa apa yang dialami umat Islam saat ini (kegelapan dan keterpurukan), merupakan hasil konspirasi jahat tersebut. Berkat doktrin-doktrin sempit agama; bid’ah, syirik, kurafat, sesat, dan takfiri, umat Islam sekarang benar-benar berada dalam masa kegelapan, sebagaimana masa kegelapan yang pernah menyelimuti bangsa barat karena doktrin-doktrin injili yang ditanamkan oleh dewan gereja saat itu.

Konspirasi demi konspirasi untuk memecah belah Islam dari dalam memang telah diisyaratkan oleh Nabi dalam sabdanya,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Nyaris bangsa-bangsa (kafir) memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk. ” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn. ” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati. ” (HR. Abu Daud No. 3745)

Setidaknya, ada tiga tahap untuk akhirnya umat Islam akan mengalami keterbelakangan, sebab telah menjadi pribadi yang ekstrem, sehingga berujung pada sikap radikal , serta pada akhirnya akan terjerumus dalam keterpurukan dalam segala sendi kehidupan yang memang diharapkan oleh konspirasi dunia Barat.

Menyelewengkan manhaj agama Islam

Sebetulnya tidaklah terlalu aneh bilamana doktrin bid’ah banyak ditolak oleh umat Islam, dikarenakan memang doktrin bid’ah ini bertentangan dengan fitrah manusia dan fitrah agama Islam. Hakikat agama Islam diturunkan untuk memudahkan umatnya agar dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun sayangnya hal ini tidak berlaku bagi Abdul Wahab karena mereka dalam beragama menggunakan manhaj dzahiri, di mana semua pesoalan harus dikembalikan pada dzahirnya teks-teks agama dan tidak mengakui sama sekali kedudukan akal. Bila kedudukan akal sudah ditolak, maka tidak heran bagi pengikut manhaj ini, akan mudah terbentuk sikap ekstrem. Keekstreman inilah yang memang dikehendaki oleh bangsa Barat, agar mereka dapat mudah (lewat imperiaismenya) menguasai sumber daya alam yang dimiliki oleh umat Islam.

Walaupun sebetulnya secara nalar sehat paham ini tidak laku dan sulit diterima, namun gerakan ini cepat merebak, bak virus di tengah-tengah kaum muslimin, dikarenakan dukungan kekuatan militer Barat, yang mem-back up penuh kekuasaan Saudi. Kerajaan Saudi dengan finansial yang luar biasa terus memberikan sokongan pada gerakan ini. Dukungan finansial dari negara petro dolar tersebut tidak segan-segan diberikan kepada pihak-pihak yang siap menjadi corong dan agen paham ini; Mulai pemberian beasiswa penuh bagi mahasiswa-mahasiswa muslim di seluruh dunia untuk didoktrin dan dicetak sebagai kader-kader Salafi di universitas-univesitas Saudi. Pembangunan masjid, insentif dana operasionl bagi para mubaligh, organisasi, lembaga pendidikan, seperti LIPIA Jakarta, penyiaran TV berbalut dakwah seperti RodjaTV, penerbitan buku yang diedarkan secara gratis di mana sering kita jumpai di Mekkah saat musim haji, memperbanyak pembuatan situs, portal, dan media sosial dengan konten manhaj atau doktrin Salafi.

Tujuan propaganda manhaj Salafi tersebut adalah; Pertama, untuk menghasut umat Islam agar bersimpati terhadap negara Saudi, sehingga ini akan berdampak pada semakin kokohnya kekuasaan klan Saud di kawasan Hijaz. Kedua, bila kekuasaan Saudi kokoh dengan manhaj Salafinya di kawasan Hijaz, maka akan berdampak pada wibawa dan nilai tawar terhadap negara-negara Islam lainnya di seluruh dunia. Ketiga, bila semua negara-negara Islam atau negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di seluruh dunia segan dan mungkin bahkan takluk terhadap Saudi, maka kepentingan jahat Barat di dunia Islam akan terus leluasa, karena meminjam tangan kerajaan Saudi pasti akan mudah menggembosi dan menghantam negara-negara Islam yang mencoba untuk kritis, bangkit, menghalangi, dan melawan kepentingan Barat. Bila hal ini terus terjadi, maka saat itulah energi dunia Islam akan terus disedot oleh Barat.

Untuk menemukan bukti dari fakta ini, tidaklah terlalu sulit, bagaimana negara Syuriah, Iraq, Yaman, Mesir, Libiya, dan yang terakhir adalah Qatar menjadi negara yang porak poranda disebabkan dibombardir oleh dunia Barat melalui tangan dingin negara Saudi, dikarenakan negara-negara tersebut mencoba lepas dari dominasi Barat, untuk bangkit menjadi negara yang merdeka seutuhnya. Kerajaan Saudi seringkali menggunakan senjata pengurangan atau bahkan pencabutan kuota haji, dan pemutusan hubungan diplomatik, serta melakukan embargo terhadap negara yang dianggap mengancam kedaulatan Saudi dan mengganggu kepentingan Barat di kawasan Arab. Negara-negara yang berlawanan dengan kepentingan kerajaan Saudi dan dunia Barat di kawasan Arab dihancurkan secara diam-diam maupun secara terang-terangan.

Selama imperialis Barat masih bersyahwat untuk mendominasi dan mengeksploitasi energi dunia, selama ada oknum umara yang ambisius menanamkan ketakutan umat Islam demi kekuasaan, dan selama manhaj Salafi dengan doktrin bid’ah, sesat, tahaul, kurafat, syirik, dan mengkafir-kafirkan pihak lain sesukanya terus hidup, maka mental umat Islam akan terus kerdil dan agama Islam tidak akan pernah maju dan disegani oleh umat lain. Bagaimana mungkin Islam akan berkemajuan bilamana mereka sudah terjebak dalam doktrin semua hal yang sifatnya baru adalah sesat dengan dalih tidak ada pada zaman Nabi dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Ketika mental konservatif sudah menjangkiti mental, bagaimana mungkin dari kalangan umat Islam akan muncul inovasi dan karya-karya fenomenal yang mampu bersaing dengan penemuan-penemuan dari kalangan umat lain bila sedikit-sedikit dibilang bid’ah. Karya film bid’ah, musik haram, seni ukir musyrik, menggambar dan membuat animasi haram, ini bid’ah dan itu bid’ah. Sungguh logika salafi ini sesat dan menyesatkan, di mana akan menyebabkan umat Islam terkungkung, terbelakang, dan pada akhirnya terjajah oleh bangsa lain.

Sebetulnya doktrin-doktrin yang dianut kaum Salafi dasarnya masih sangat dzanni dan syubhat, serta tergolong perkara yang masih sangat bisa diperdebatkan. Perhatikan saja, ustadz-ustadz Salafi selalu mencekoki umat Islam dengan ajaran-ajaran yang menakutkan dan mengerikan, seperti tema-tema akan datangnya dajjal, tanda-tanda kiamat, fenomena-fenomena siklus alam yang dikait-kaitkan dengan adzab Allah dan sejenisnya. Dengan meyakinkan, mereka seakan-akan seperti seorang peramal, yang seakan-akan lebih tahu dibandingkan Allah sendiri.

Para muballigh Salafi nyaris tidak pernah menyampaikan ajaran Islam yang memotivasi umat untuk berkemajuan, teknologi, kreasi dan inovasi, sebagai sarana syi’ar Islam, kemanusiaan, toleransi sesama manusia, saling menyayangi dan menghormati, dan peduli akan lingkungan hidup. Padahal, ajaran Islam, selain menyangkut masalah hubungan dengan Allah, juga ada ajaran tentang menjalin hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungan hidupnya.

Bukannya tema-tema seperti Dajjal dan tanda-tanda kiamat tersebut tidak penting, akan tetapi tema-tema tersebut sangatlah absurd dan sangat ghaib bagi manusia. Selain itu, terkait tema apakah kiamat masih jauh atau sudah dekat, bukanlah kewenangan umat manusia, karena pengetahuan manusia sangat terbatas akan hal itu. Bagaimana mungkin manusia yang dhaif merasa lebih mengetahui dibanding Allah tentang perkara-perkara ghaib tersebut. Sebagai seorang ulama dan ahli ilmu, selayaknya, di samping berupaya penguatan akidah dan keimanan umat, juga tidak kalah pentingnya adalah penguatan peranan mereka sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Maksud manusia diciptakan sebagai khalifah Allah adalah bagaimana manusia memaksimalkan peran mereka sebagai makhluk sosial yang didorong untuk memperbanyak amal shalih (kebaikan), berkarya, berkreasi, berinovasi, yang dapat bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan sebagai bekal amal jariah kelak ketika sudah kembali ke akhirat.

Lalu bagaimana mungkin dari umat Islam akan banyak lahir ilmuan dan karya yang dapat dibanggakan dan bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. Bagaimana mungkin umat Islam dapat bersaing dengan umat dan bangsa lain. Bagaimana mungkin umat Islam dapat disegani bangsa lain tanpa karya dan inovasi. Dan bagaimana mungkin umat Islam terlepas dari penjajahan militer, penejajahan ekonomi, penjajahan pemikiran, dan penjajahan lainnya dari bangsa Yahudi dan Nasrani bilamana mental umat Islam penakut, kerdil, dan emosional sebab telah dicekoki doktrin-doktrin Salafi yang penuh kegelapan.

Bagaimana tidak kerdil, bila umat Islam energinya habis dan terkuras hanya berkutat pada perdebatan ini bid’ah dan itu bid’ah, ini sesat, kamu kafir, thagut, yang ujung-ujungnya bersikap ekstrem dan bertindak radikal. Inilah sebetulnya kekeliruan, kesalahan, dan bahaya doktrin bid’ah, takfiri, sesat menyesatkan, yang berdampak buruk bagi mental umat Islam, di mana sebetulnya sangat bertentangan dengan fitrah agama Islam dan fitrah manusia itu sendiri.

Sungguh menggelikan dampak dari doktrin Salafi, ketika bangsa lain sudah berbicara tentang senjata nuklir, mereka masih berkutat dengan memanah, ketika bangsa lain sudah berbicara tetang pakaian anti peluru, kaum Salafi masih berkutat dengan pakaian cadar, di mana dapat dipastikan tidak ada satupun dalil qathi yang mendukungnya, ketika bangsa lain sudah berbicara tentang transplantasi organ manusia, kaum Salafi masih berkutat dengan jenggot, di mana hal itu merupakan persoalan hormonal, ketika umat lain sudah berbicara tentang kendaraan ruang angkasa, kaum salafi masih berkutat dengan berkuda dan beronta, ketika orang Barat sudah berbicara tentang makanan alternatif yang dapat dijadikan bahan makanan, ketika umat manusia berpindah ke planet lain, kaum Salafi masih berkutat dengan keutamaan Habbatussauda dan kurma, dan ketika bangsa lain sudah berbicara tentang pengobatan menggunakan sinar laser, kaum Salafi masih berkutat dengan pengobatan bekam, dengan dalih bahwa itulah Sunnah Nabi.

Pengikut fanatik Salafi pasti sekuat tenaga akan menyangkal fakta ini, disebabkan mereka berdalih bahwa mereka sedang menegakkan Sunnah Nabi, memurnikan akidah, dan ibadah umat Islam. Ketika mereka mengklaim sedang menegakkan Sunnah, namun faktanya cara yang mereka gunakan adalah pemaksaan dan kekerasan. Padahal sangat jelas bahwa cara tersebut sangat bertentangan dengan Sunnah agama, di mana tidak ada paksaan dalam agama, karena agama adalah perkara hidayah. Sebagaimana banyak disebutkan dalam firman dan sabda Nabi bahwa barangsiapa dalam menyampaikan agama dengan cara pemaksaan dan kekerasan niscaya mereka telah terperosok dalam kekufuran, disebabkan mereka telah menyerobot hak prerogatif Allah sebagai Tuhan. Nabi bersabda,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ يُقَالُ لَهُ عَمَّارٌ قَالَ أَدْرَبْنَا عَامًا ثُمَّ قَفَلْنَا وَفِينَا شَيْخٌ مِنْ خَثْعَمٍ فَذُكِرَ الْحَجَّاجُ فَوَقَعَ فِيهِ وَشَتَمَهُ فَقُلْتُ لَهُ لِمَ تَسُبُّهُ وَهُوَ يُقَاتِلُ أَهْلَ الْعِرَاقِ فِي طَاعَةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ إِنَّهُ هُوَ الَّذِي أَكْفَرَهُمْ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَمْسُ فِتَنٍ فَقَدْ مَضَتْ أَرْبَعٌ وَبَقِيَتْ وَاحِدَةٌ وَهِيَ الصَّيْلَمُ وَهِيَ فِيكُمْ يَا أَهْلَ الشَّامِ فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ حَجَرًا فَكُنْهُ وَلَا تَكُنْ مَعَ وَاحِدٍ مِنْ الْفَرِيقَيْنِ أَلَا فَاتَّخِذْ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ وَلَا تَكُنْ وَقَدْ حَدَّثَنَا بِهِ حَمَّادٌ قَبْلَ ذَا قُلْتُ أَأَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ أَفَلَا كُنْتَ أَعْلَمْتَنِي أَنَّكَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أُسَائِلَكَ

“Telah menceritakan kepada kami [‘Affan], telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah], telah mengabarkan kepada kami [Daud bin Abu Hind] dari seorang lelaki penduduk Syam yang biasa dipanggil dengan [Ammar] dia berkata; selama setahun, kami terbiasa tak ada masalah kemudian kami merasa gersang, sedangkan di antara kami ada seorang [syeikh] dari Khats’am, ketika disebut nama al-Hajjaj, serta merta dia mencelanya, maka aku bertanya kepadanya; “Kenapa kamu mencelanya, padahal dia memerangi orang-orang Irak dalam rangka taat kepada Amirul Mukminin?. ” Syaikh itu menjawab; “Sungguh dialah yang telah mengkafirkan mereka, lalu dia berkata; “Aku mendengar Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Akan terjadi lima fitnah pada umat ini, yang empat telah terjadi dan yang tersisa satu lagi yaitu Ash Shailam (perpecahan yang hebat), dan akan terjadi pada kalian wahai penduduk Syam, jika kamu menjumpainya, sementara dirimu dapat menjadi batu, lebih baik menjadi batu dan janganlah kamu bergabung dengan salah satu dari dua golongan, ketahuilah ambilah nafkahmu di bumi. ” Hammad berkata; “Janganlah kamu menjadi. ” Dan telah menceritakan kepada kami Hammad sebelum ini, aku berkata; “Apakah kamu mendengarnya dari Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam?. ” dia menjawab; “ya. ” Aku berkata; “Semoga Allah merahmatimu, kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu pernah melihat Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sehingga aku bisa bertanya banyak hal kepadamu. ” (HR. Ahmad Nomor 19775)

Bersikap ekstrem

Manhaj Salafi jelas sangat merugikan agama Islam dan berdampak buruk bagi izzatul Islam wal muslimin. Keburukan itu dapat dilihat dari beberapa indikator perilaku ekstrem berikut ini,

Pertama, Mudah mengkafirkan. Dari 73 Golongan Umat Islam, Hanya Salafi penganut paham takfiri. Sebetulnya dalam Islam hanya dikenal istilah “kafir” bukan “takfir” (mengkafirkan). Kafir dan takfir merupakan perkara yang sangat berbeda. Kafir sebuah istilah yang memang diperkenankan syariat untuk dipakai sebagai pembeda dari mereka yang telah nyata mengikrarkan diri tidak beriman atau tidak meyakini Allah sebagai tuhan. Sedangkan takfir adalah sebuah istilah yang tidak disyariatkan, namun dipakai oleh sebagaian kaum muslimin untuk menjustifikasi pihak lain yang tidak sepaham, dan yang tidak mau menerima pemahaman kelompok mereka. Kafir merupakan istilah bagi mereka yang mengikrarkan diri untuk tidak menganut Islam, sedangkan mengkafirkan adalah sikap orang Islam yang mengkafirkan pihak lain yang belum tentu mereka kafir, sehingga takfir akan mengenai siapa saja, bahkan orang Islam yang pahamnya dianggap tidak sama. Memang dalam Islam ada perintah mentauhidkan Allah, namun bukan berarti ketika kita mentauhidkan diri atas Allah, lalu kita boleh mengkafirkan pihak lain secara serampangan. Apalagi mengkafirkan umat Islam yang masih jelas-jelas mau bersyahadat. Sedangkan hal itu bertentangan dengan banyak dalil, di antaranya,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut. ” (HR. Muslim No. 91)

Paham takfiri lebih bahaya dibanding paham ekstrem lainnya, dan mungkin lebih berbahaya dari orang kafir itu sendiri. Karena dalam faham takfir, tidak ada toleransi, tidak ada sikap menghormaati, tidak ada penghargaan atas perbedaan, dan mengingkari bahwa perbedaan itu merupakan fitrah yang diciptakan Allah. Bila sudah tidak ada penghargaan atas fitrah perbedaan, maka akan terjebak pada penghukuman, dan bila sudah menghukumi maka mereka akan beranggapan semua darah dari mereka yang bukan golongannya halal untuk dialirkan di muka bumi. Perhatikan saja fatwa-fatwa ulama Salafi yang seenaknya mengkafirkan dan mewajibkan masuk neraka kepada orang tua Nabi. Mereka berakidah aneh, karena beranggapan hanya Umat yang beragam Islam saja yang berhak masuk surga, lalu pertanyanannya bagaimana dengan umat lain seperti umatnya Nabi Adam, umatnya Nabi Musa, umatnya Nabi Isa, dan para Nabi sebelum Muhammad apa juga Masuk neraka karena agamanya tidak Islam, padahal mereka juga beriman kepada Allah. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 62)

Berdasarkan firman di atas, Allah memasukkan umat manusia ke dalam surganya dengan menggunakan dua cara; Pertama, dua syarat harus terpenuhi khusus bagi umatnya Nabi Muhammad, yakni syarat keimanan (tauhid) dan keislaman (amaliah syar’iyah), sedangkan umat lain (sebelum Nabi Muhammad) dimasukkan surga menggunakan jalur keimanan saja, seperti yang diberlakukan kepada umat Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad.

Bagaimana begitu mudahnya kaum Salafi menuduh kafir dan vonis neraka atas kedua orang tua Nabi. Padahal paham jumhur ulama yang dianut oleh golongan Sunni meyakini bahwa sebelum turunnya Islam, manusia shaleh juga dapat masuk surga melalui cara iman seperti Nabi-Nabi sebelumnya beserta umatnya. Di samping itu, orang tua Nabi jelas-jelas bernama ABDULLAH yang bermakna hamba Allah. Orang tua Nabi terbukti dari namanya saja ABDULLAH, berarti masih termasuk hamba yang beriman kepada Allah, karena beliau mengikuti keimanan Nabi Ibrahim yang notabene moyangnya Nabi Muhammad, dan juga moyang orang tuanya Nabi juga. Namun anehnya, oleh Salafi, orang tua Nabi tetap dihukumi kafir dan wajib masuk neraka. Inilah manhaj Salafi yang begitu lancang dan tak memiliki sopan santun kepada Nabi beserta keluarganya. Dan inilah bahanyanya paham takfiri, jangankan kita sebagai umat Nabi di akhir zaman, orang tua Nabi pun tidak selamat dari tuduhan kafir kaum Salafi Takfiri. Bahkan, lebih bahaya lagi, paham takfir merupakan paham inkarussunnah, yang mengingkari ketetapan Allah, di mana Dia sebagai Tuhan telah mentakdirkan manusia diciptakan berbeda dan harus saling menghargai dan menghormati. Paham takfir itu bukan hanya melawan manusia, bahkan telah melawan Allah, Firman Allah,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS: Yunus: 99)

Padahal yang berhak memaksa hamba mendapat hidayah hanya Allah,

قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ

“Katakanlah: “Sesungguhnya (berhak memberikan) petunjuk ialah (hanya) Allah.” (QS. Ali Imran: 73)

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. al-Qasas: 56)

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan dalam beragama (Islam); (QS. al-Baqarah[2]: 256)

Kita diwajibkan menghargai perbedaan karena itu sudah ketetapan Allah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْد اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (saling menghargai dan menghormati). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu.” (QS. al-Hujurat: 13)

حَدَّثَنِي يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, kemudian beliau menjawab: al-Hanifiyyah al-Samhah (agama lurus yang penuh toleransi). (HR. Ahmad Nomor 2003. kitab min musnad bani hasyim bab bidayah sanad Abdullah ibn ‘Abbas)

Kita tidak perlu risau dengan kekafiran orang lain, karena Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada masing-masing pelakunya kelak di akhiratnya. Urusan kita bukan kekafiran orang lain, karena urusan kita hanya menyampaikan dakwah, bila kita mengkafirkan orang lain apalagi belum jelas kekafirannya, maka hal itu sama halnya kita telah menyerobot wewenang Allah. Prinsip dasar dakwah adalah yang penting risalah agama sudah disampaikan, terkait hidayah itu kewenagan Allah. Jangan mudah mengkafirkan pihak lain karena kita sendiri belum tentu selamat dari kekafiran. Allah berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl: 125)

Inilah bahaya laten paham takfiri yang menjadi manhaj Salafi. Banyak orang awam terkecoh dengan paham ini, dikarenakan dalam amaliah keseharian dan simbol-simbol mereka menampakkan kesan sangat religius dan terkesan paling Sunnah, sehingga banyak orang awam terkesima. Namun yang tidak disadari oleh kaum awam adalah, di balik sikap relegius tersebut tersimpan sikap ekstrem, merasa dirinya paling Sunnah dan suci, serta memandang pihak lain paling sesat dan layak dibenci. Dalam doktrin mereka, bila ingin menyempurnakan iman dan tauhid, maka harus dihadirkan dan ditanamkan perasaan benci dalam hati kepada pihak-pihak yang dianggap telah sesat.

Padahal konsep dakwah dalam Islam adalah mengajak bukan mengejek, dan merangkul bukan memukul. Islam itu agama ramah bukan agama marah, dan pembenci bukanlah Islam, karena Islam adalah pemaaf. Sebagaimana firman Allah,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 134)

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Surat Asy-Syura Ayat 43)

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Surat Asy-Syura Ayat 43)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Surat Al-A’raf Ayat 199)

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Dan jika kamu memberikan balasan (kepada penista agama Islam/kaum Qurasy yang membunuh Hamzah dalam perang Uhud), maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. ” (QS an-Nahl: 126)

Di sinilah kearifan berlaku dan inilah manhaj agama Islam yang benar, jangan merasa paling Islam hanya dengan memaksakan satu atau dua dalil tanpa mempertimbangkan dalil yang lainnya. Namun, sebaliknya, puncak keimanan tertinggi bagi mereka yang ber-manhaj Salafi adalah bila sudah mampu mengkafirkan atau membenci orang-orang yang dianggap mereka musyrik, bid’ah, sesat, kafir, dan munafikun. Dampak dari doktrin ini adalah, mereka akan senantiasa mudah mengkafirkan pihak lain sesuai kriteria yang mereka buat sendiri. Islam sangat mengharamkan umatnya untuk mudah mengkafirkan dan mudah menuduh pihak lain kafir,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut. ” (HR. Muslim No. 91)

Kedua, Membunuh dengan alasan jihad. Bila di dalam jiwa seorang Salafi sudah tertanam doktrin takfiri, maka itulah pintu masuk untuk mudah membunuh mereka yang dianggap sesat dengan alasan jihad. Jihad itu memang perkara wajib yang sangat mulia, begitu mulianya ia setara dengan keimanan. Namun di semua kitab, bab jihad (khusus untuk makna perang) diletakkan pada bab-bab terakhir, itu artinya kewajiban jihad bukan yang utama, namun kewajiban yang sangat terakhir, bila pintu wusyawarah (dialog) menghadapi musuh sudah buntu semua. Jihad baru dihukumi wajib bila sudah melalui tahap (telah terpenuhi syarat) musyawarah sebelumnya. Jihad tanpa melalui dialog hukumnya tidak sah. Ibarat wajibnya shalat harus melalui kewajiban wudlu, bila shalat tidak didahului wudlu, maka shalatnya tidak sah. Pengertian tersebut sangat sesuai dengan firman Allah,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah (1) kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan (2) bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (3) Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (untuk berjihad karena pintu musyawarah telah tertutup-penj), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran[3]: 159)

Jelas sekali dalam ayat tersebut, ada tiga tahapan dalam menjalankan interaksi sosial antar manusia, untuk menyelesaikan konfliknya atau dalam hal menyampaikan kebenaran agama kepada orang kafir;

1) Tahap Pertama: Wajib lemah lembut (gunakan perasaan), dan memperbanyak amal shalih, bila tidak mempan maka,

2) Tahap Kedua: Menggunakan musyawarah, dialog, atau diplomasi, dan bila tidak mempan juga baru menginjak ke,

3) Tahap Terakhir: Menggunakan kekuatan jihad (ketegasan) atas dasar tawakkal kepada Allah.

Dalil di atas juga berlaku terhadap persoalan Amar Ma’ruf Nahi Munkar; Ada dua frasa dalam kalimat “1. Amar Ma’ruf, 2. Nahi munkar” itu menandakan bahwa mencegah kemunkaran dalam syariat Islam itu prioritas kedua, karena prioritas utama adalah perintah kebaikan. Bila berkali-kali perintah kebaikan tidak membuahkan hasil, bahkan potensi kemunkaran ada, maka wajib dicegah. Namun dalam menjalankan pencegahan wajib berlaku adil dengan menghindari kekerasan, kebencian, permusuhan, dan apalagi pengrusakan. Jangan jadi provokator dalam Islam, sabda Nabi,

خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ

“Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba yang senantiasa mengingat Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba (dan mudah mengkafirkan), suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, serta mereka yang suka berbuat zhalim, mencerai-beraikan manusia dan selalu menimbulkan kesusahan. ” (HR. Ahmad Nomor 17312)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Ma’idah: 8)

Ketiga, membenarkan tindakan bunuh diri dengan niat Jihad. Bila bersyari’at tidak tertib atau prosedural, maka otomatis bersyariatnya batal. Namun, sayangnya, bagi kaum Salafi, doktrin bid’ah, musyrik, kurafat, sesat, dan mengkafirkan malah dijadikan syariat utama dan pertama. Sehingga tidak aneh bila pribadi-pribadi Salafi semakin terbelenggu oleh doktrin takfiri, maka mereka akan mudah untuk melakukan tindakan radikal dan mungkin bahkan teror seperti bom bunuh diri.

Padahal sudah jelas bahwa tindakan bunuh diri hukumnya haram dalam Islam. Ini sudah menjadi konsensus atau kesepakatan semua ulama Islam seluruh dunia dari masa ke masa. Keharaman tersebut bersifat mutlak atau absolut, dengan artian, entah bagaimanapun caranya atau apapun niatnya. Entah motif putus asa atau motif semangat jihad sekalipun. Allah berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوْا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu (bunuh diri); sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisa[4]: 29)

Di antara doktrin yang tertanam di otak jihadis konyol adalah merasa diri paling suci. Allah berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm: 32)

Bahkan orang yang mati karena bunuh diri hukumnya bukan hanya haram, namun telah masuk status “kafir”. Kesimpulan ini didapat dari ancaman Allah kepada para pelaku bunuh diri dengan dimasukkan ke dalam neraka jahannam kekal selama-lamanya. Lalu kedudukan apa yang membedakan antara hukum bunuh diri dengan hukum kekafiran dari sebuah tindakan yang ancamannya adalah neraka selama-lamanya? Hal itu sangat sesui dangan sabda Nabi:

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa (bunuh diri) menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung sehingga membunuh dirinya, maka di dalam neraka Jahannam dia (juga) menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa meminum racun sehingga membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya. Dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam. Dia tinggal di dalam neraka Jahannam selama-selamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi (bom bunuh diri), maka besinya akan berada di tangannya. Di dalam neraka Jahannam ia akan menikam (meleledakkan) perutnya. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya (disebabkan telah kafir)”. (HR. Bukhari, no. 5778. Muslim, no. 109. Lafadz milik Bukhari)

Lalu bagaimana terkait fenomena sekarang ini, di mana semakin banyak pelaku bom bunuh diri dengah motivasi jihad agar mendapatkan pahala surga? Jawabannya adalah hal ini juga tidak terkecuali telah masuk dalam kategori “kafir”.

Lalu apa bedanya antara; Pertama, Mati syahid karena berjihad di jalan Allah yang telah dijanjikan surga dengan, kedua, Mati bunuh diri walau berniat jihad di jalan Allah namun dipastikan tetap masuk neraka abadi. Perbedaannya adalah bila pada kasus “pertama” dia ketika bermaksud menegakkan agama Allah melawan musuh tidak meniatkan dirinya mati walaupun akhirnya mati. Sedangkan pada kasus yang “kedua” sebelum musuhnya benar-benar ada kepastian mati, dia sudah niat untuk menghilangkan nyawanya sendiri.

Memang Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap jiwa mujahidin yang melayang saat memperjuangkan kewibaan agama Islam di muka bumi, atau melawan mereka yang menghalang-halangi setiap pribadi mukmin menjalankan keyakinannya, itulah konsep mati “syahid” yang jauh beda dengan konsep mati bunuh diri.

Inilah yang namanya “jihad konyol”, mereka menganggap apa yang dilakukan adalah suci dan pasti masuk surga. Persangkaan inilah yang sebetulnya telah mendahului kehendak Tuhan. Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm: 32)

Nabi bersabda,

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim)

Kriteria kebaikan bukan diukur pada heroisme tindakan, namun timbulnya dampak kebaikan yang dapat dirasakan oleh kemanusiaan dan kehidupan. Lalu bagaimana bisa dikatakan kebaikan bila sebuah tindakan kenyataannya malah menimbulkan kemudharatan, kerusakan, dan ketakutan? Faktanya, sikap ekstrem dengan mudah membid’ahkan, mensyirikkan, menyesatkan, dan menteror bukan semakin mendekatkan umat pada tauhid malah akan semakin menjauhkannya kepada keimanan, karena tauhid letaknnya hanya dalam hati, dan hati mudah takluk dengan cara dakwah bil hikmah. Allah berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl[16]: 125)

Tidaklah heran kenapa umat Islam akhirnya seringkali mengalami kekalahan dalam segala lini kehidupan, ini karena umat Islam mudah emosional sebab sudah tertanam sikap ekstrem di dalam jiwanya. Mereka beragama lebih menggunakan nafsunya, kaku, kolot, temperamental, mudah emosional, radikal, dan tidak rasional;

إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah dan tidak ada seorang pun yang bersikap keras/kaku (mudah emosional) terhadap agama melainkan dia akan (mudah) terkalahkan. ” (HR. Nasa’i No. 4948)

Padahal sudah jelas sekali agama sangat melarang umatnya untuk bersikap mudah mengklaim dirinya paling benar dan mudah menuduh pihak lain sesat, yang menyebabkan terjadinya umat Islam terpecah belah. Nabi bersabda,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ أَبِي الْحُسَيْنِ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ

“Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Ibnu Abul Husain] dari [Syahr bin Hausyab] dari [Abdurrahman bin Ghanm] dan sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba yang senantiasa mengingat Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba, suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, serta mereka yang suka berbuat zhalim, mencerai-beraikan manusia dan selalu menimbulkan kesusahan. ” (HR. Ahmad Nomor 17312)

Pahamilah bahwa hakikatnya manhaj agama Islam bukanlah sikap ekstrem, dan radikal, namun sikap lemah lembut baik kepada kawan maupun kepada lawan. Firman Allah Ta’ala:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron[3]: 159)

Firman Allah Ta’ala:

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl [16]: 125)

Abu Musa al-Asy’ari berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

“Kebiasaan Rasulullah jika mengutus seseorang dari para sahabatnya di dalam sebagian keperluan beliau, beliau bersabda: “Sampaikan berita gembira dan janganlah membuat (orang) lari (menjauhi agama), mudahkanlah dan janganlah membuat susah!” (HR. Muslim no. 1732)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya lemah-lembut tidak berada pada sesuatu kecuali pasti menjadikannya indah, dan tidaklah lemah-lembut dihilangkan dari sesuatu kecuali pasti menjadikannya buruk.” (HR. Muslim No. 2594)

اذْهَبَآ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha [20]: 43-44)

Dan Firman Allah Ta’ala:

وَلاَ تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (QS. al-‘Ankabut [29]: 46)

Dan masih banyak lagi ayat dan Hadits yang didustakan oleh golongan Islam radikal, di mana Islam mesyariatkan umatnya untuk bersikap santun. Maka berlemah-lembutlah dalam berda’wah, karena hati manusia lebih akan mudah condong kepada orang yang bersikap lemah-lembut kepadanya. Oleh karena itulah, di antara kewajiban da’i atau mubaligh adalah memilih sikap dan kalimat yang lembut dan tidak kasar, agar dakwah sampai kepada manusia. Jangan sampai manusia lari dari agama, padahal dakwah belum sampai kepada mereka. Namun demikian, bukan berarti seorang da’i selalu bersikap lemah-lembut dalam segala keadaan. Bahkan pada keadaan-keadaan tertentu dia dituntut untuk bersikap tegas dan keras. Sikap lemah-lembut dan keras diletakkan pada tempatnya masing-masing, dan itulah hikmah yang perlu pahami dan dilakukan saat berdakwah.

Munculnya doktrin bid’ah dan takfiri Salafi merupakan fitnah terbesar dan terburuk sepanjang sejarah yang dialami oleh agama Islam. Islam menjadi agama yang porak poranda, Islam menjadi sumber kekacauan dan permusuhan, bukan hanya dengan umat lain, namun juga menjadi sumber perpecahan dan pertikaian di antara kalangan umat Islam sendiri. Agama dan umat Islam pada akhirnya terjerumus dan terperosok ke dalam keterpurukan dan kekalahan dengan bangsa dan umat lain dalam segala sendi kehidupan. Inilah dahsyatnya fitnah yang ditimbulkan oleh doktrin bid’ah dan takfiri ciptaan Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Najed. Namun sayangnya umat Islam tidak dapat berbuat banyak dikarenakan perkara ini kelihatannya sudah menjadi ketetapan atau sunnatullah dikarenakan Nabi sendiri sudah mengisyaratkan bahwa agama Islam yang dibawanya akan dihancurkan dan difitnah sendiri oleh salah satu umatnya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Najed. Nabi bersabda,

قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanjatkan doa; “Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami. ” Para sahabat berkata; ‘ya Rasulullah, dan juga dalam Nejed kami! ‘ Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaca doa: “Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami. ” Para sahabat berkata; ‘Ya Rasulullah, juga dalam Nejed kami! ‘ dan seingatku, pada kali ketiga, beliau bersabda; “Disanalah muncul keguncangan dan fitnah, dan disanalah tanduk setan muncul. ” (HR. Bukhari Nomor 6565, Bukhari Nomor 979, Muslim Nomor 2439, Muslim Nomor 3731, Tirmidzi Nomor 3888)

Nabi juga sering mengalami kerepotan karena diprotes saat berupaya meredam dan memadamkan fitnah yang dikhawatirkan akan muncul dari orang-orang Najed. Inilah golongan yang memperkenalkan dirinya sebagai Salafi dengan selogan kembali pada al-Qur’an dan Hadits, namun pemahaman mereka hanya sebatas tenggorokan. Fenomena ini sebetulnya sudah diprediksi oleh Nabi dalam Haditsnya. Akan muncul sebuah golongan di mana dia terkesan agamis dengan segala atributnya. Mereka suka mewajibkan perkara-perkara yang sebetulnya hanya berhukum sunnah atau mubah saja, seperti; Berjenggot, keningnya hitam, celana cingkrang, dan bercadar, namun pemahamannya sangat dangkal sehingga seringkali menimbulkan fitnah dan kekisruhan di dalam umat Islam itu sendiri. Sebagaimana sabda Nabi,

“Ketika Ali bin Abi Thalib berada di Yaman, dia pernah mengirimkan emas yang masih kotor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Lalu emas itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada empat kelompok. Yaitu kepada Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, Uyainah bin Badar al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah al-Amiri, termasuk Bani Kilab dan Zaid al-Khair Ath Thay dan salah satu Bani Nabhan. Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, “Kenapa pemimpin-pemimpin Najed yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. ” Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, “Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku?” Abu Sa’id berkata; Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin al-Walid) meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh orang itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. ” (HR. Muslim No. 1762 dan 1773)

 

Dikutip dari buku;

“Menyoal Kehujjahan Hadits Bid’ah”

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Agar pemahaman Anda utuh terkait tidak berlakunya Hadits-hadits bertema bid’ah, maka dapatkan buku tersebut via WA: 081234013630

Bagikan Artikel Ini Ke