Shalat Jahriyah dan Sirriyah Hukumnya Sunnah Atau Wajib?’

Imam Malik, Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa masalah men-jahr-kan (mengeras) kan bacaan atau memelankan bacaan adalah perkara sunnah. Artinya jika mengeraskan bacaan yang seharusnya sirriyah atau memelankan bacaan yang seharusnya jahriyah adalah tidak mengapa dan shalatnya tetap sah.

Dalam beberapa Hadits kita jumpai bahwa terkadang dalam shalat Dzuhur atau Ashar yang seharusnya dipelankan. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

 

أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ خَالِدِ بْنِ مُسْلِمٍ يُعْرَفُ بِابْنِ أَبِي جَمِيلٍ الدِّمَشْقِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ سَمَاعَةَ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَتَيْنِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطِيلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى

“Telah mengabarkan kepada kami [Imran bin Yazid bin Khalid bin Muslim] yang dikenal dengan Abu Jamil Ad-Dimasyqi dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Abdullah bin Sama’ah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Auza’i] dari [Yahya bin Abu Katsir] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Abu Qatadah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Bapakku] bahwa Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam membaca Ummul Qur’an (Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama shalat Zhuhur dan Ashar. Kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami dan memperpanjang rakaat pertama.” (Hadits Riwayat An-Nasa’i Nomor 965)

Dalam Hadits di atas menunjukkan sekali waktu (kadang-kadang) bacaan dalam shalat Dzuhur dan Ashar pun boleh dikeraskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Hadits lain juga diceritakan bahwa dalam shalatnya Dzuhur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaan shalat dan menegur sahabat lain yang ikut membaca dengan suara keras karena menyaingi dengan suara imam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ الْمَعْنَى عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ فَجَاءَ رَجُلٌ فَقَرَأَ خَلْفَهُ سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ أَيُّكُمْ قَرَأَ قَالُوا رَجُلٌ قَالَ قَدْ عَرَفْتُ أَنَّ بَعْضَكُمْ خَالَجَنِيهَا

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid Ath Thayalisi] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah]. Dan telah diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir Al ‘Abdi] telah mengabarkan kepada kami [Syu’bah] sedangkan makna haditsnya dari [Qatadah] dari [Zurarah] dari [‘Imran bin Hushain] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat Dzuhur, tiba-tiba seorang laki-laki datang sambil membaca “Sabbihisma rabbikal a’la.” di belakang beliau, ketika selesai shalat, beliau bersabda: “Siapakah tadi yang membaca (surat)?” para sahabat menjawab; “Laki-laki ini.” beliau bersabda: “Sungguh aku telah mengetahui, bahwa sebagian dari kalian telah mengalahkan bacaanku.(Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 704)

Sementara ketika shalat sunnah Rawatib dimalam hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaannya terbukti para sahabat mengetahui surat apa yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ وَاقِدٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُؤَمَّلِ بْنِ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا بَدَلُ بْنُ الْمُحَبَّرِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ زِرٍّ وَأَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Al Azhar] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Abdurrahman bin Waqid]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Mu`ammal bin Ash Shabbah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Badal bin Muhabbar] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik bin Al Walid] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Ashim bin Bahdalah] dari [Zir] dan [Abu Wa`il] dari [Abdullah bin Mas’ud] berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu membaca di dua rakaat setelah maghrib QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN (Katakanlah: “Hai orang-orang kafir) dan QUL HUWA ALLAHU AHAD (Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa). “(Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 1156)

Sedangkan dalam Hadits lain disebutkan bahwa dalam shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang mengeraskan dan terkadang memelankan bacaan. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ صُدْرَانَ قَالَ حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْبَرِيدِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا نُصَلِّي خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ فَنَسْمَعُ مِنْهُ الْآيَةَ بَعْدَ الْآيَاتِ مِنْ سُورَةِ لُقْمَانَ وَالذَّارِيَاتِ وَبِاَلمَثَلْ فِي صَلَاةَ الْسَنِةَ ، فِي بَعْضَ الْأَحْيَانْ يُصَرِخْ النَّبِيْ القِرَاءَةُ وَيُبْطِئ أَحْيَانَا القِرَاءَةُ وَهَذَا هُوَ الرَّحَابَةْ فِي الْإِسْلَامِ كَمَا ذَكَرَتْ عَائِشَةْ زَوْجَةُ النًّبِيْ

“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim bin Shudran dia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Salm bin Qutaibah dia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Hasyim bin Al Barid dari Abu Ishaq dari Abu Bara’ dia berkata; “Kami shalat Dzuhur di belakang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, kemudian kami mendengar satu ayat setelah beberapa ayat dari surat Luqman dan Adzariyat.”Demikian pula dalam shalat sunnah, terkadang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengeraskan bacaan dan terkadang memelankan bacaan dan ini adalah sebuah kelapangan (keluwesan) dalam Islam sebagaimana dinyatakan oleh ‘Aisyah radliallahu ‘anha istri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam “ (Hadits RiwayatAn-Nasa’i Nomor 961)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا أَسَرَّ بِالْقِرَاءَةِ وَرُبَّمَا جَهَرَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

“Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Mu’awiyah bin Shalih] dari [Abdullah bin Abu Qais] dia berkata, saya bertanya kepada [‘Aisyah], “Bagaimanakah bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu shalat malam, apakah beliau memelankan ataukah mengeraskan bacaannya?” Dia menjawab, “Itu semua pernah dilakukan oleh beliau, terkadang beliau memelankan bacaannya dan terkadang pula beliau mengeraskan bacaannya”. Saya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam perkara ini”. Abu Isa berkata, “Bahwa hadits ini hasan shahih gharib.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 411)

Dari Hadits di atas Imam An-Nawawi menjelaskan : “Dan adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan ayat yang beliau baca itu kadang-kadang beliau memperdengarkan kepada kami”, ini bisa jadi bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud untuk memberikan penjelasan atas diperbolehkannya bacaan keras (jahriyah) diwaktu shalat yang seharusnya pelan (sirriyah), dan bahwa bacaan pelan itu bukan syarat sahnya shalat, namun itu hukumnya sunnah.” (Syarah Muslim, Jilid 4, halaman 175)

Ibnu Hajar Asqolani menjelaskan Hadits dari Abu Bara’ di atas berkata : “Hadits di atas dijadikan dalil dibolehkannya mengeraskan baaan pada shalat yang sirriyah dan tidak diperintahkan sujud sahwi bagi yang melakukannya (berarti hal itu bukan sebuah kesalahan) hal ini berbeda dengan pendapat Madzhab Hanafi yang menjelaskan kebolehannya (mengeraskan shalat sirriyah) hanya jika untuk tujuan memberikan pengajaran dan juga bagi yang berpendapat bahwa memelankan bacaan adalah syarat sahnya shalat sirriyah” (Fathul Bari, Jilid 4, halaman 484)

Bahkan dalam suatu Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkritik orang yang shalat di waktu malam dengan mengeraskan bacaannya karena beliau tahu orang tersebut melakukannya karena riya’ (pamer ingin dipuji karena bacaannya bagus) tapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuji orang lain yang melakukannya karena ikhlas. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنِ ابْنِ الْأَدْرَعِ قَالَ كُنْتُ أَحْرُسُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجَ لِبَعْضِ حَاجَتِهِ قَالَ فَرَآنِي فَأَخَذَ بِيَدِي فَانْطَلَقْنَا فَمَرَرْنَا عَلَى رَجُلٍ يُصَلِّي يَجْهَرُ بِالْقُرْآنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَسَى أَنْ يَكُونَ مُرَائِيًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ يُصَلِّي يَجْهَرُ بِالْقُرْآنِ قَالَ فَرَفَضَ يَدِي ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوا هَذَا الْأَمْرَ بِالْمُغَالَبَةِ قَالَ ثُمَّ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَأَنَا أَحْرُسُهُ لِبَعْضِ حَاجَتِهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَمَرَرْنَا عَلَى رَجُلٍ يُصَلِّي بِالْقُرْآنِ قَالَ فَقُلْتُ عَسَى أَنْ يَكُونَ مُرَائِيًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَّا إِنَّهُ أَوَّابٌ قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا هُوَ عَبْدُ اللَّهِ ذُو الْبِجَادَيْنِ

“Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Sa’d dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Al Adra’ ia berkata : “Pada suatu malam, saya pernah menjaga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau pun keluar untuk suatu keperluan. Beliau menggandeng tanganku dan kami pun pergi. Kemudian kami melewati seorang laki-laki yang sedang shalat dengan mengeraskan bacaan Alqur`annya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Boleh jadi ia melakukannya karena riya’.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah ia shalat dengan mengeraskan bacaan Al-Qur`annya?(karena memang shalat jahriyah)” Beliau pun melepaskan tanganku kemudian bersabda: “Kalian tidak akan meraih Islam ini dengan cara mendebatku (karena beliau lebih tahu apa yang terjadi).” Pada suatu malam, beliau keluar lagi untuk suatu keperluan. Saat itu, saya sedang menjaganya. Beliau kemudian menggandeng tanganku kemudian pergi dan melewati seorang laki-laki yang sedang shalat dengan membaca Al Qur’an, dan saya pun berkata, “Boleh jadi ia melakukannya karena riya’.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, bahkan ia adalah seorang yang banyak bertaubat dan kembali kepada Allah.” Saya menolehnya, dan ternyata ia adalah Abdullah Dzul Bijadain.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 18203)

Dengan kata lain, Hadits di atas mengatakan bahwa suatu ketika mengeraskan bacaan pada shalat yang Jahriyah bisa jadi adalah terlarang atau dibenci jika dilakukan karena riya’ (pamer).

Baca selengkapnya; Ketentuan Shalat Jahriyah (Suara Dikeraskan) Dan Sirriyah (Suara Dipelankan)’

 

Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke