Shalatlah Sebagaimana Kalian Melihat Aku Shalat’

Ada dua kunci utama agar semua amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu ikhlas dan ittiba’. Ikhlas berarti melakukannya semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ittiba’ berarti mengikuti cara peribadatan yang beliau contohkan.

Terkait dengan ittiba’ dalam hal shalat, kita dapat berpijak pada sabda berikut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ وَهُوَ أَبُو سُلَيْمَانَ أَنَّهُمْ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ وَصَاحِبٌ لَهُ أَوْ صَاحِبَانِ لَهُ فَقَالَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَيْنِ لَهُ أَيُّوبُ أَوْ خَالِدٌ فَقَالَ لَهُمَا إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا وَصَلُّوا كَمَا تَرَوْنِي أُصَلِّي

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khaliddari Abu Qilabah dari Malik bin Huwairits yaitu Abu Sulaiman bahwa mereka datang menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika itu disamping beliau ada seorang sahabat, -atau dua orang sahabat, lalu salah satu dari keduanya berkata -Ayyub atau Khalid-, lalu beliau bersabda kepada keduanya: “Apabila datang waktu shalat, maka kumandangkanlah, dan dirikanlah shalat, hendaklah orang yang lebih tua diantara kalian menjadi imam, lalu shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Hadits Ahmad No.19625)

Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR.Bukhari Nomor6705, dan Ad-Darimi Nomor 1225)

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!”, penggalan hadits inilah yang menjadi dasar kewajiban kita untuk mengikuti cara beliau dalam mendirikan shalat.

Dari itulah, kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara beliau shalat? Pertanyaan ini ternyata menuai jawaban yang sangat beragam. Terbukti, ada yang shalat tanpa membaca basmalah dalam rangkaiannya dengan Al-Fatihah, ada yang redaksi iftitahnya berbeda antara satu dengan yang lain, ada yang mendirikan shalat Shubuh dengan qunut dan ada pula yang tidak, ada yang shalat tarawih 8 rakaat dan ada pula yang 20 rakaat, ada yang menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan ada juga yang tidak, serta masih banyak lagi perbedaan kaifiyah furu’iyah (cara beribadah yang bersifat cabang, bukan mendasar) lainnya.

Apakah fenomena perbedaan ini mengindikasikan bahwa mereka tidak mengikuti contoh dari Nabi? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kaji secara mendalam hadits kunci di atas, yakni sabda beliau:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Cobalah Anda bandingkan redaksi hadits tersebut dengan dua ungkapan berikut:

صَلُّوا كَصَلّتِي

“Shalatlah kalian seperti shalatku.”

atau:

صَلُّوا بِصَلّتِي

“Shalatlah kalian dengan shalatku.”

Apa yang Anda rasakan dengan ketiga kalimat di atas? Sekilas ketiganya tampak sama. Tetapi, jika dikaji lebih mendalam, ternyata ada kandungan makna yang berbeda antara redaksi hadits Nabi di atas dengan dua kalimat pembanding sesudahnya. Di antara perbedaannya sebagai berikut:

Pertama, Redaksi hadits Nabi tersebut mengandung makna yang lebih luas daripada dua kalimat pembanding setelahnya. Sabda beliau “sebagaimana kalian melihat”, menunjukkan bahwa dalam proses ittiba’ membutuhkan peran penglihatan orang-orang yang hidup bersama Nabi (istri dan para sahabat beliau). Tetapi, boleh jadi penglihatan seseorang akan berbeda dengan penglihatan seorang lainnya. Bahkan, sangat mungkin masing-masing memiliki fokus penglihatan yang berbeda, baik pada masalah fisik maupun nonfisik.

Kedua, Kalimat “kalian melihat” juga menyiratkan muatan makna bahwa para sahabat (tentunya juga istri-istri beliau) tidak sekadar melihat kaifiyat shalat Nabi, tetapi juga memerhatikan bagaimana beliau menghayati makna shalat, menjiwai bacaannya, bagaimana interaksi beliau dengan Al-Qur’an, serta pengaruh shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Kalimat “sebagaimana kalian melihat aku” memberi peluang untuk berbeda sesuai kadar penglihatan masing-masing. Hal ini memungkinkan terjadinya keragaman praktik shalat (dalam batas tertentu), sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kesempatan sahabat melihat shalat beliau.

Sama halnya dengan kita, seandainya diminta untuk menggambarkan sifat dan bentuk suatu bangunan, masjid misalnya, tentu masing-masing memiliki jawaban yang berbeda antara satu dengan lainnya. Saya yang melihatnya dari arah depan, pasti akan menggambarkan secara berbeda dengan Anda yang melihatnya dari arah samping, belakang, atau mungkin dari arah atas. Anda yang melihatnya dari jarak dekat, tentu juga akan menggambarkan secara berbeda dengan saya yang melihatnya dari kejauhan.

Begitu pula yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. istri-istri beliau, keluarga, dan para sahabat, mereka melihat sifat shalat Nabi dengan fokus pandangan yang berbeda-beda. Tak mengherankan jika kemudian muncul banyak riwayat hadits yang menceritakan suatu masalah secara berbeda. Misalnya dalam hal menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud, ada riwayat berbeda tentangnya. Dalam hal rukuk, setidaknya ada enam versi bacaan yang dibaca ketika itu. Begitu pula bacaan ketika tasyahud, setidaknya ada lima versi.

Keempat, Sedangkan dua kalimat pembanding (“Shalatlah kalian seperti shalatku” dan “Shalatlah kalian dengan shalatku”) mengandung makna yang sempit, di mana kalimat tersebut tidak memberi peluang untuk berbeda antara seseorang dengan lainnya. Juga tidak boleh berbeda sedikit pun dari Rasul, baik secara lahir maupun batin.

Keduanya menuntut kita untuk dapat menunaikan shalat secara “persis-sis!” seperti shalat Nabi, tanpa berbeda sedikit pun. Ya, tidak boleh berbeda sedikit pun! Padahal, dalam suatu hadits disebutkan beliau shalat malam sampai kedua kaki beliau bengkak-bengkak. Apakah kita juga seperti itu? Begitu pula dalam shalat-shalat tertentu beliau membaca surat yang panjang-panjang, sementara kita seringkali hanya mengulang surat Al-Ikhlas dan Al-Kautsar.

Setelah mencermati dan mengkaji kandungan makna terdalam dari hadits kunci di atas, kita patut meningkatkan kekaguman kepada Nabi karena kearifannya. Beliau tidak otoriter. Beliau justru memberi kelonggaran dan peluang kepada umatnya untuk berbeda, tentunya dalam batas-batas tertentu. Beliau tidak mengatakan, “Shalatlah kalian seperti shalatku” atau “Shalatlah kalian dengan shalatku”, tetapi “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Baca juga; Variasi Ajaran dalam Islam Itu Bukan Perbedaan Namun Pilihan Sebagai Bentuk Kemurahan Agama untuk Mempermudah Umatnya

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mencontohkan secara langsung sebuah amalan atau ibadah yang dapat kita pilih untuk dipanjatkan saat sujud. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan variasi amalan atau ibadah, bukan berarti apa yang dilakukan Nabi tersebut merupakan perbedaan dan saling bertentangan.

Melainkan sengaja Nabi melakukan hal tersebut sebagai bentuk kemurahan agama dan menunjukkan bahwa Islam tersebut merupakan agama yang mudah dan mempermudah. Variasi yang dicontohkan Nabi tersebut bertujuan agar umatnya dapat memilih amalan-amalan yang diingininya dan yang dianggap sesuai dengan dirinya.

Baca juga; Islam Itu Mudah

Namun sebagai umat Islam yang bijak bilamana menjumpai dalam syariat agama Islam terdapat banyak bentuk ajarannya, hal tersebut bukanlah bentuk perbedaan namun sebagai bentuk variasi alternatif yang dapat dipilih oleh umatnya.

Sikap terbaik menghadapi perbedaan syariat yang diajarkan oleh Nabi tersebut adalah mengamalkannya secara bergantian dan bergiliran. Misalnya pada saat shalat Subuh kita membaca doa sujud pertama, ketika shalat Dzuhur membaca doa sujud kedua, dan seterusnya. Sehingga kita akan mendapatkan semua pahala karena pernah mengamalkan semua sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. sehingga ajaran dan syariat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan tetap lestari.

Dalam rangkaian ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada baiknya pula kita mengkaji firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Surat Al-Hasyr Ayat 7)

Ada dua sikap tegas yang harus diambil berdasarkan ayat tersebut, yaitu mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul semampunya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya juga semampunya.

Beberapa dalil yang mendukung hal ini, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah pada Allah semampu kalian” (QS. At Taghobun: 16).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَىْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika kalian diperintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337, dari Abu Hurairah)

Sementara apa yang tidak dibawa dan tidak pula dilarang, kemungkinan akan memunculkan perbedaan. Demikian pula menetapkan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Rasul atau melarang sesuatu yang tidak dilarangnya, sangat mungkin menimbulkan pro dan kontra. Dalam kondisi demikian, sikap tasamuh (toleransi) adalah jalan terbaik untuk mempertahankan keutuhan ukhuwah dan persatuan umat Islam. Umat Islam wajib saling menghargai sebab masing-masing juga memiliki dasar yang juga dapat dipertanggungjawabkan.

Begitu pula dalam praktik shalat, jika kita menemukan kondisi demikian maka sikap tasamuh adalah solusi terbaik untuk menjaga kekuatan Islam.

 

Oleh: Ustadz Irham Sya’roni, dengan sedikit penambahan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahamad

Bagikan Artikel Ini Ke