Sunah-sunah Ab’ad yang Harus Diperbaiki dengan Sujud Sahwi Ketika Mengalami Kerusakan Saat Shalat

Pengertian sujud sahwi, menurut bahasa sujud artinya ketundukan baik itu menundukan kepala ke tempat yang lebih rendah ataupun suatu perbuatan yang mengisyaratkan kepada kerendahan diri dan hati sebagai wujud ketaatan. Sedangkan Sahwi artinya Lupa, yaitu meninggalkan sesuatu dengan tidak sengaja.

Sedangkan menurut ilmu fikih sujud sahwi adalah bagian ibadah Islam yang yang dilakukan di akhir shalat yang dilakukan karena ada salah satu perbuatan shalat yang tertinggal secara tidak sengaja. Sedangkan kedudukan sujud sahwi adalah sebagai pengganti dari kesalahan terjadi di dalam salatnya karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.

Kecuali Imam Malik yang mengatakan hukum sujud sahwi adalah sunnah, Menurut tiga madzhab, yakni Imam Hanafi, Syafi’i, fan Hambali menghukumi melakukan sujud sahwi adalah wajib. Siapa saja yang dengan sengaja meninggalkannya maka mendapat dosa, walaupun tidak membatalkan shalat. Dalil mereka sebagaimana diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim no. 571)

Ketika sebuah amalan mengalami kerusakan disebabkan kurang, lebih atau ragu maka amalan di dalam shalat tersebut harus diperbaiki dengan sujud sahwi. Rukun-rukun shalat, dan sunnah-sunnah ab’ad yang mengalami kerusakan.

Menurut Syeh Salim bin Sumair Al-Hadhromi di dalam kitab Safinah mengatakan penyebab sujud sahwi ada empat,

(فصل) أَسْبَابُ سُجُوْدِ السَّهْوِ أَرْبَعَةٌ: الْأَوَّلُ: تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلَاةِ أَوْ بَعْضِ الْبَعْضِ، الثَّانِي: فِعْلُ مَايَبْطُلُ عَمْدُهُ وَلَايَبْطُلُ سَهْوُهُ إِذَا فَعَلَهُ نَاسِيًا، الثَّالِثُ: نَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِيٍّ إِلَى غَيْرِ مَحَلِّهِ، الرَّابِعُ: إِيْقَاعُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ مَعَ اِحْتِمَالِ الزِّيَادَةِ.

Sebab Sujud Syahwi Ada 4 : Meninggalkan sebuah dari sunnah ab’dl shalat, atau meninggalkan sebagain dari bagian sunnah ab’adl shalat. Mengerjakan sesuatu yang bisa membatalkan ketika dikerjakan dengan sengaja dan tidak sampai membatalkan ketika dikerjakannya karena sebab lupa. Memindahkan rukun yang bersifat qauli (ucapan) ke tempat lainnya. Mengerjakan sebuah rukun disertai dengan dugaan sedang menambah rukun.

Syekh Muhammad bin Syatha’ rahimahullah mengutip tulisannya Ibnu Ruslan rahimahullah, dia mengatakan bahwa rincian sunah ab’ad sebagai berikut;

أبعاضها تشهد إذ تبتديه * * ثم القعود وصلاة الله فيهش على النبي وآله في الآخر * * ثم القنوت وقيام القادر في الاعتدال الثان من صبح وفي * * وتر لشهر الصوم إن ينتصف

Artinya, “Adapun ab’ad shalat adalah dimulai dengan tasyahud kemudian duduk tasyahud awal dan membaca shalawat untuk Nabi SAW kemudian qunut pada saat berdiri i’tidal di rakaat kedua shalat subuh dan witir di pertengahan bulan Ramadhan,” (Lihat Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anatut Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, tanpa catatan tahun], halaman 196).

Baca juga; Sunah-sunah Ab’ad dalam Ibadah Shalat

Menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami rahimahullah dalam Kitab Safinatun Naja sunah ab’ad terdiri atas tujuh: Tasyahud awal, duduk untuk tasyahud awal, membaca shalawat Nabi pada tasyahud awal, membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud akhir, membaca qunut, membaca shalawat salam kepada Nabi pada qunut, dan membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada qunut.

Setalah lupa atau keraguan dihalau dengan keyakinan, maka shalat yang mengalami lupa dan keraguan tersebut diperbaiki dengan melaksanakan sujud sahwi. Dari Abu Sa’id al-Khudri radliallahu ‘anhu, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟ ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًـا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَـا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ. فَإِنْ كَـانَ صَلَّى خَمْسًا شَفِعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ.

“Jika salah seorang di antara kamu ragu dalam shalatnya sehingga dia tidak tahu berapa rakaat yang telah dia lakukan, tiga rakaat atau empat rakaat. Maka hendaklah ia tepis keraguan itu dan ikutilah yang dia yakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia mengerjakan lima rakaat, maka dia telah melengkapkan shlatnya. Namun, jika dia mengerjakan empat rakaat, maka dua sujud tadi adalah penghinaan bagi syaitan.” (Hadis Riwayat Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i)

Selengkapnya baca; Sebab-sebab Diharuskan Sujud Sahwi dalam Shalat

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke