Syarat-Syarat Ibadah Puasa

Muqaddimah,

Sebelum masuk pada pembahasan hukum puasa, perlu kita fahami perbedaan syarat dan rukun adalah,

Syarat adalah sesuatu perkara yang wajib dilaksanakan yang menentukan sah tidaknya suatu perbuatan atau ibadah, dan ia berada di luar perbuatan atau ibadah tersebut. Jika salah satu tidak terpenuh maka ibadahnya tidak sah.

Rukun adalah sesuatu perkara yang wajib dilaksanakan yang menentukan sah tidaknya suatu perbuatan atau ibadah, dan ia berada di dalam perbuatan atau ibadah tersebut. Jika salah satu tidak dilakukan maka ibadahnya tidak sah.

Adapun syarat wajib berpuasa itu ada 4 yaitu; Islam, berakal, baligh, dan berpuasa. Berikut penjelasannya;

Pertama, mampu menjalankan puasa

Sehat dalam artian seorang muslim tidak dalam keadaan sakit dan mampu untuk berpuasa. Tidak dalam perjalanan atau sebagai seorang musafir. Dan Allah berfiman;

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185).

Syarat di atas merupakan syarat wajib seorang muslim untuk menunaikan ibadah puasa, tidak termasuk syarat sah dalam berpuasa dan syarat wajib dalam mengqadha puasa. Syarat wajib seorang muslim untuk menunaikan ibadah puasa bisa gugur karena keadaan seorang muslim yang tidak mampu. Misalkan dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (seorang musafir).

Dan ketika seorang muslim tidak berpuasa karena sakit ataupun dalam perjalanan maka tetap wajib hukumnya untuk mengganti atau mengqadha puasa yang telah di tinggalkannya, setelah keadan seorang muslim sudah mulai membaik atau bisa dikatakan mampu untuk berpuasa. Namun ketika seorang muslim tetap berpuasa dalam keadaan yang demikian, maka hukumnya tetap sah.

Kedua, Suci dari nifas, haidh dan hadats

Bebas dari hadas besar atau dalam keadaan suci dari haid dan nifas. Hal ini adalah salah satu syarat sah sekaligus syarat wajib dalam menunaikan ibadah puasa.

Apabila seorang wanita mengalami haidl atau nifas di tengah-tengah berpuasa baik di awal atau akhir hari puasa, puasanya batal dan hanya wajib membayar kaffarat dengan mengqada’ saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?” Kami jawab, “Benar.” Beliau berkata: “Itulah kelemahan (dispensasi) agamanya.” (Hadits Bukhari Nomor 293)

Perintah mengqadha’ puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (Hadits Muslim Nomor 508)

Hadits dari Mu’adzah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits tersebut adalah,

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.”

Berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama’ juga menyebutkan bahwasanya ketika seorang wanita muslim mengalami haid dan nifas maka haram baginya untuk menunaikan ibadah puasa. Karena mereka dalam keadaan berhadats besar. Dan wajib baginya untuk mengganti atau mengqadha’ puasanya setelah bersuci dari hadas besar tersebut.

Begitu juga berhadats dengan sengaja juga tidak sah puasanya, entah mengeluarkan mani dengan sengaja, bersetubuh di siang hari dengan sengaja. Sebagaiman sabda Nabi,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuiluh kebaikan yang serupa”. (Hadits Bukhari Nomor 1761)

Mafhum mukhalafah dari hadits di atas menunjukkan bahwa salah satu rukun sah puasa adalah bebas dari haidz, nifas, dan hadats besar.

Ketiga, kewajiban puasa hanya orang Islam

Syarat seseorang dikenakan kewajiban puasa adalah beragama Islam. Orang yang tidak Islam tidak wajib puasa. Ketika di dunia, orang kafir tidak dituntut melakukan puasa karena puasanya tidak sah. Namun di akhirat, ia dihukum karena kemampuan dia mengerjakan ibadah tersebut dengan masuk Islam. (Lihat Al Iqna’, 1: 204 dan 404).

Jadi kewajiban berpuasa Ramadhan hanya bagi orang Islam. Hal ini berdasarkan sebuah Hadits yang berbunyi,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan”. (Hadits Bukhari Nomor 7)

Keempat, Kewajiban puasa untuk orang baligh

Puasa tidak diwajibkan bagi mereka yang belum baligh, yakni anak kecil. Hal ini menjadi persyaratan berikutnya. Sedangkan bagi anak yang sudah tamyiz masih sah puasanya. Selain itu, di bawah tamyiz, tidak sah puasanya. Demikian dijelaskan dalam Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al Baijuri, 1: 551.

Muhammad Al Khatib berkata, “Diperintahkan puasa bagi anak usia tujuh tahun ketika sudah mampu. Ketika usia sepuluh tahun tidak mampu puasa, maka ia dipukul.” (Al Iqna’, 1: 404).

Menurut ulama Syafiiyah baligh dapat diketahui dengan keluarnya mani atau usia mencapai 15 tahun bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan dapat diketahui dengan datangnya haidh atau usia telah mencapai 9 tahun. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 8: 188-192)

Yang dimaksud tamyiz adalah bisa mengenal baik dan buruk atau bisa mengenal mana yang manfaat dan mudhorot (bahaya) setelah dikenalkan sebelumnya. Anak yang sudah tamyiz belum dikenai kewajiban syar’i seperti shalat, puasa atau haji. Akan tetapi jika ia melakukannya, ibadah tersebut sah. Bagi orang tua anak ini ketika usia tujuh tahun, ia perintahkan anaknya untuk shalat dan puasa. Jika ia meninggalkan ketika usia sepuluh tahun, maka boleh ditindak dengan dipukul. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 14: 32-33)

Tidak ada kewajiban berpuasa bagi mereka yang masih anak-anak berdasarkan beberapa dalil berikut ini. Di antaranya,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ أَيْضًا وَعَنْ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (gugur kewajiban) diangkat dari tiga orang, yaitu; orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia dapat bermimpi (baligh), dan dari orang yang gila hingga berakal.” Hammad berkata; “Juga dari orang yang kurang akal hingga ia berakal.” (Hadits Darimi Nomor 2194)

Meskipun begitu, seyogyanya anak kecil dianjurkan untuk berpuasa agar terbiasa. Dan karena akan ditulis untuknya sebagai amalan saleh yang dilakukannya. Umur yang dapat dimulai anak-anak belajar berpuasa adalah umur yang mampu untuk berpuasa.

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَليَصُمْ قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ

“Bahwa siapa yang tidak berpuasa sejak pagi hari maka dia harus menggantinya pada hari yang lain, dan siapa yang sudah berpuasa sejak pagi hari maka hendaklah dia melanjutkan puasanya”. Dia (Ar-Rubai’ binti Mu’awwidz) berkata; “Setelah itu kami selalu berpuasa dan kami juga mendidik anak-anak kecil kami untuk berpuasa dan kami sediakan untuk mereka semacam alat permainan terbuat dari bulu domba, apabila seorang dari mereka ada yang menangis meminta makan maka kami beri dia permainan itu. Demikianlah terus kami lakukan hingga tiba waktu berbuka”. (Hadits Bukhari Nomor 1824)

Kelima, Kewajiban puasa hanya bagi mereka yang sedang waras

Persyaratan yang lain menurut madzhab Syafi’i dalah harus berakal sehat. Mereka yang tergolong dianggap tidak berakal sehat adalah orang gila, pingsan dan tidak sadarkan diri karena mabuk, ketiduran, maka bagi mereka tidak ada kewajiban puasa. Jika seseorang hilang kesadaran ketika puasa, maka puasanya tidak sah. Namun jika hilang kesadaran lalu sadar di siang hari dan ia dapati waktu siang tersebut walau hanya sekejap, maka puasanya sah. Kecuali jika ia tidak sadarkan diri pada seluruh siang (mulai dari shubuh hingga tenggelam matahari), maka puasanya tidak sah. (Lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al Baijuri, 1: 551-552)

Pemahaman ini di dasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud no. 4403, An Nasai no. 3432, Tirmidzi no. 1423, Ibnu Majah no. 2041. Nabi bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ أَيْضًا وَعَنْ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (gugur kewajiban) diangkat dari tiga orang, yaitu; orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia dapat bermimpi (baligh), dan dari orang yang gila hingga berakal.” Hammad berkata; “Juga dari orang yang kurang akal hingga ia berakal.” (Hadits Darimi Nomor 2194)

Semua persyaratan di atas oleh Syaikh Al-Qodi Abu Suja’ diringkas dalam sebuah konsep hukum fikih berikut ini,

وشرائط وجوب الصيام أربعة أشياء: الإسلام والبلوغ والعقل والقدرة على الصوم.

Syarat wajib puasa ada empat yaitu Islam, baligh, berakal sehat, mampu berpuasa.

Demikianlah syarat dan rukun puasa yang perlu dipelajari bagi setiap muslim bekal ilmu menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Agar amal ibadah kita menjadi sempurna sehingga menjadi sebab datangnya ridha dari Allah subhanahu wa taala. Amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke