Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Rakaat, Duduknya Tawarruk Atau Iftirasy?

Sebelum masuk ke pembahasan perlu kiranya dijelaskan sedikit tentang pengertian Tawarruk, Iftirasy, dan Tasyahud Akhir.

Duduk tawarruk yaitu duduk dengan meletakkan pinggul dilantai dengan mengeluarkan telapak kaki yang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini di rakaat terakhir sebelum salam.

Duduk iftirasy yaitu duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kakinya yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini pada tasyahud awal.

Tasyahud Akhir adalah duduk tasyahud setelah sujud yang kedua pada rakaat terakhir dalam suatu shalat. Artinya, duduk sebelum kita melakukan salam.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idiyang menyebutkan:

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

”Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 828)

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan duduk tawarruk, apakah ada dalam tasyahud awal atau hanya ada dalam tasyahud akhir. Berdasarkan penjelasan yang kami rumuskan dari Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari kitab bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Shalatul Mu’miin / Tata Cara Shalat Nabi (edisi bahasa Indonesia)” halaman 182-183 terbitan Irsyad Baitus Salam cetakan ke-10, Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 5/84, Nailul Authar (oleh asy-Syaukaniy-red.) 2/54, al-Mughni (Oleh Ibnu Qudamah-red.) 2/225-228.)

Menurut Mazhab Imam Malik, duduk tawarruk ada dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir. Jadi tidak perlu heran atau kaget dan gelisah, jika ada orang yang ketika duduk tasyahud awal pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk tawarruk. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Maliki dalam shalatnya atau memang dia lupa.

Menurut Mazhab Imam Abu Hanifah, baik dalam tasyahud awal ataupun dalam tasyahud akhir, cara duduknya adalah duduk iftirasy. Jadi jangan heran dan gelisah, ketika ada orang yang ketika duduk dalam tasyahud akhir pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk iftirasy. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Abu Hanifah dalam shalatnya atau memang dia lupa dan tidak sadar.

Menurut pendapat Imam Ahmad, setiap shalat yang didalamnya terdapat 2 tasyahud, cara duduknya dalam tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, sedang dalam shalat yang didalamnya tidak terdapat 2 tasyahud maka cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy. Jadi jangan heran atau sedih ketika anda melihat orang yang shalat shubuh dua rakaat, tetapi dalam tasyahud akhirnya dia malah duduk iftirasy, atau duduk seperti duduk tasyahud awal. Kemungkinannya, dia menggunakan pendapat Imam Ahmad tadi.

Menurut pendapat Imam Syafi’i, bahwa dalam tasyahud yang terjadi sebelum salam (baik dalam shalat yang 2,3, maupun 4 rakaat, atau tasyahud akhir), cara duduknya adalah duduk tawarruk, sedang pada tasyahhud yang lain, cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy. Dan inilah yang dipahami kebanyakan umat Muslim di Indonesia yang memang sebagian besar menggunakan mazhab Imam Syafi’i dalam shalatnya.

Imam Nawawi berkata,

“Adapun menurut mazhab Syafi’i, adalah duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir; hal ini didasarkan pada Hadits Abu Humaid As-Sa’idi, dan aku telah mendapatkan Hadits ini dalam Shahih Bukhari yang mana hadits ini dengan jelas menerangkan perbedaan cara duduk dalam kedua tasyahud. Imam Syafi’i berkata: ‘Hadits-hadits yang menjelaskan tentang duduk tawarruk atau duduk iftirasy adalah bersifat mutlaq. Didalamnya tidak dijelaskan secara rinci apakah duduk tawarruk atau duduk iftirasy itu dikerjakan dalam kedua tasyahud atau dalam salah satu dari kedunya. Namun Abu Humaid telah menjelaskan hal ini dan ini diperkuat dengan Hadits yang aku temukan bahwa mereka (para sahabat) menyebutkan tentang dikerjakannya duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir. Demikianlah yang dijelaskan (dalam Hadits Abu Humaid). Karenanya, sudah seharusnya bagi kita utuk mengambil kesimpulan dari dalil yang mujmal ini, Wallahu a’lam’” (Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 5/84)

Dalam hadits lain disebutkan:

“Sehingga jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada pada raka’at yang padanya terdapat salam, cara duduk beliau adalah dengan mengeluarkan telapak kakinya yang kiri dan duduk tawarruk dengan pantat dan paha sebelah kiri. “Mereka (Para shahabat Abu Humaid) berkata: “Engkau benar! Memang demikianlah cara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR Abu Dawud, 1/141)

Sedangkan kita ketahui bahwa yang dinamakan tasyahud akhir adalah duduk sebelum salam, baik shalatnya itu dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Demikianlah yang afdhal, yakni duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan yang demikian.

Setelah melihat perbedaan dikalangan ulama Salaf tentang hal ini, maka tidak selayaknya kita mengatakan mereka yang berbeda pilihan dalam cara duduknya pada tasyahud akhir dalam shalat dua rakaat sebagai ahlul bid’ah dan layak disesatkan.

Sangat tidak layak manakala Nabi sendiri pernah mencontohkan beberapa variasi dalam mengamalkan gerakan shalat sebagai bentuk pilihan bagi umatnya, lalu kemudian kita hanya menetapkan satu jenis pilihan saja dengan menyesatkan pihak lain sebagai bid’an. Sebagaimana yang kita ketahui tuduhan itu sering datang dari kaum Salafi ketika mereka memilih duduk iftiras pada shalat yang hanya memiliki dua rakaat lalu kemudian yang berbeda pilihan dari mereka sebagai ahlul bid’ah.

Variasi ajaran dalam agama Islam itu bukan perbedaan, namun pilihan sebagai bentuk kemurahan agama untuk mempermudah umatnya.

Seringkali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mencontohkan secara langsung variasi sebuah amalan atau ibadah yang dapat kita pilih untuk kita amalkan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan variasi sebuah amalan atau ibadah, bukan berarti apa yang dilakukan Nabi tersebut merupakan perbedaan dan saling bertentangan.

Melainkan sengaja Nabi melakukan hal tersebut sebagai bentuk kemurahan agama dan menunjukkan bahwa Islam tersebut merupakan agama yang mudah dan mempermudah. Variasi yang dicontohkan Nabi tersebut bertujuan agar umatnya dapat memilih amalan-amalan yang diingininya dan yang dianggap sesuai dengan keadaan dirinya.

Baca juga; Islam Itu Mudah

Namun sebagai umat Islam yang bijak bilamana menjumpai dalam syariat agama Islam terdapat banyak bentuk ajarannya, hal tersebut bukanlah bentuk perbedaan yang patut dipertentangkan dan diperdebatkan, namun sebaiknya sebagai umat yang bijak cukup memilih atau mengamalkan secara bergiliran sebagai bentuk ingin mengamalkan semuah sunnah yang pernah dicontohkan oleh Nabi kepada umatnya.

Sikap terbaik menghadapi perbedaan syariat yang diajarkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah mengamalkannya secara bergantian dan bergiliran, selama itu masih memiliki dasar hukumnya. Misalnya pada saat tasyahud awal pada shalat Subuh kita menggunakan tawaruk, ketika shalat Dzuhur kita menggunakan iftirasy, dan seterusnya. Sehingga kita akan mendapatkan semua pahala karena pernah mengamalkan semua sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Sehingga ajaran dan syariat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan tetap lestari.

Sebab sudah sangat jelas sekali bahwa dalam hal ini semua pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya, dan masing-masing memiliki dasarnya. Sehingga kita tidak perlu lagi ribut-ribut mengklaim bahwa apa yang diamalkannya yang lebih benar dan menuduh pihal lain yang memilih untuk mengamalkan sesuatu yang berbeda karena lebih diyakini dan dicocoki sesuai dengan keadaannya tidak perlu lagi dituduh bid’ah, sesat dan apalagi kafir. Sebab tidak ada paksaan dalam beragama dan tidak ada paksaan memilih untuk mengamalkan ajaran agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al Baqarah: 256)

Indah sekali jika yang ada dalam benak kita seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Pendapatku benar, tetapi masih mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat anda salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran”. Subhanallah..

 

Dikembangkan dari tulisan Ustad Hanif Yogyakarta

Bagikan Artikel Ini Ke