Ukhuwah Bashariyah’

Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, oleh karena itu hubungan kepada sesama manusia harus selalu dijaga dan dipelihara. Untuk menikmati hidup yang tentram dan damai maka salah satu kuncinya adalah dijaga kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Adapun makna kerukunan berasal dari kata rukun, artinya kondisi dimana masing-masing individu dalam satu komunitas saling memberikan rasa percaya, rasa aman, dan rasa nyaman dalam menjalani aktifitas kehidupan sehari-hari.

Masyarakat yang rukun adalah masyarakat yang senantiasa menjaga kebersamaan dengan saling memberikan rasa aman tanpa ada huru hara, saling memberikan rasa nyaman tanpa ada yang mengganggu satu dengan yang lainnya. Dalam bahasa agama kerukunan sering diistilahkan dengan sakinah yang artinya tenang dan tentram.

Hidup rukun adalah dambaan setiap insan yang terlahir ke dunia. Orang yang tidak bisa merasakan hidup rukun, maka dirinya tidak akan pernah merasakan nikmat dan bahagianya hidup di dunia. Oleh karena itu sudah menjadi fitrah bagi manusia untuk hidup dengan penuh kerukunan.

Islam adalah agama damai dan mencintai kedamaian, Islam senantiasa membimbing ummatnya untuk selalu mampu menjaga kerukunan antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam ajaran agama Islam bahwa semua manusia itu bersaudara tanpa memandang perbedaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS..Al-Hujurat ayat 10)

Dalam keterangan yang lain tentang kerukunan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan dalam sabdanya bagaimana seorang muslim yang bersaudara dan menjunjung tinggi kerukunan dalam bermasyarakat sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

bersabda:

عَنْ أَبِي مُسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Abu Musa meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “kaum mukmin adalah bersaudara satu sama lain ibarat (bagian-bagian dari) suatu bangunan satu bagian memperkuat bagian lainnya.” dan beliau menyelibkan jari-jari disatu tangan dengan tangan yang lainnya agar kedua tangannya tergabung.” (HR. Bukhari)

من لم يشكر الناس لم يشكر الله

“Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah.” (HR. Turmudzi)

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – بخاري

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. (HR. Bukhari)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya.” (Hadits Muslim Nomor 4650)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”. (Hadits Bukhari Nomor 1164)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ أِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَأِذَا دَعَاكَ فَأَ جِبْهُ وَأِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَأِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ وَأِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَأِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam: jika Anda bertemu dengannya maka ucapkanlah salam atasnya, jika dia mengundang Anda maka penuhilah undangnnya, jika dia meminta nasihat kepada Anda maka berilah nasihat padanya, jika dia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah maka doakanlah dengan yarhamukallah, jika dia sakit maka jenguk (besuk) lah, dan jika dia meninggal dunia maka antarkanlah jenazahnya.” ( HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ أَخْبَرَنَا سَيَّارٌ عَنْ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْقَسْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجَدِّهِ يَزِيدَ بْنِ أَسَدٍ أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ – أحمد

“Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami Hutsaim berkata; telah mengabarkan kepada kami Sayyar dari Khalid bin Abdullah Al Qasri dari Bapaknya sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepada kakeknya, Yazid bin Asad, “Cintailah kepada manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu.” (HR. Ahmad)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.” (Hadits Muslim Nomor 4685)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَبْدِاللهِ مَسْعُوْدٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَا لُهُ كُفْرٌ

“Dari Abdullah ibn Mas’ud, dia berkata, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Memaki seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir.”(HR. Bukhari)

Perilaku Yang Mencerminkan Kerukunan

Ada beberapa perilaku seseorang yang bisa mencerminkan kerukunan kepada sesama yang bisa dijadikan panutan dalam masyarakat di antaranya:

Menjaga Kebersamaan dan Tali Silaturrahmi dengan Berbagai Aktifitas

Dalam menjalankan aktifitas keseharian, menjaga tali silaturrahmi sangatlah penting, baik dalam

lingkungan sekolah, kantor, maupun didalam masyarakat. Dengan menjaga tali silaturrahmi akan mencerminkan persaudaraan yang kokoh tanpa ada saling bercerai, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 103)

Selain dari ayat tersebut diatas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan dalam sabdanya:

وَعَنْ أنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلم: لاَتَقَا طَعُوا وَلاَتَدَا بَرُوا وَلَاتَبَا غَضُوا وَلاَتَحَا سَدُوا ، وَكُونُواعِبَادَ اللهِ إخْوَانًا ، وَلاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

“Anas radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: jangan putus-memutus hubungan dan jangan belakang-membelakangi dan jangan benci-membenci, dan jangan hasud-menghasud dan jadilah kamu hamba Allah sebagai saudara, dan tidak dihalalkan bagi seorang muslim memboikot saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari. (HR.Bukhari dan Muslim)

Bersikap Rendah Hati Terhadap Sesama

Sikap rendah hati merupakan akhlak yang mulia yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan sikap rendah hati ini manusia bisa dapat menjadi lebih tiinggi derajatnya disisi Allah. Seseorang yang mampu bersikat rendah hati maka dengan sendirinya tidak akan pernah atau jauh dari sifat arogan, tidak pernah merasa pintar, dan merasa paling segalanya. oleh karena itu dengan sikap rendah hati akan melahirkan hubungan persaydaraan yang kokoh dan kuat sehingga kerukunan pun akan semakin terpelihara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku dzalim pada yang lain.” (HR. Muslim Nomor 2865)

Mengakui dan Menghormati Setiap perbedaan Yang Ada Disekitar Kita

Orang yang bersikap toleran, maka akan senantiasa menghormati segala bentuk perbedaan yang ada disekitarnya, baik yang berhubungan dengan krakter saudaranya yang beraneka ragam, perbedaan pendapat, dan yang lainnya. Karena semua perbedaan yang ada pada hakikatnya adalah merupakan bentuk motivasi untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”. (Q.S.Al-Maidah ayat 48)

Menjaga Perasaan Orang Lain Agar Tidak Tersakiti Dengan Apa Yang Kita Ucapkan dan Lakukan

Salah satu kunci kerukunan dalam hidup bermasyarakat adalah senantiasa menjaga perasaan setiap orang yang bertemu dengan kita. Seorang muslim yang baik adalah yang mampu menjaga lisan dan perbuatannya untuk tidak menyakiti perasaan orang-orang yang ada disekelilingnya atau disekitarnya. Sebagai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أبْنِ عُمَرَ رَضِى الله عَنْه قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَضْلِمُهُ ولايخذله وَلا يُسْلِمُهُ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Memaafkan OrangYang Melakukan Kesalahan Kepada Kita

Memberi maaf adalah perbuatan yang jauh lebih sulit untuk dilakukan dibandingkan dengan sekedar minta maaf. Oleh karena itu alangkah mulianya orang yang senantiasa mau memberi maaf kepada orang yang berbuat salah yang memohon maaf kepada kita. Dengan sikap memafkan orang lain, maka perselisihan dan permusuhan pun semakin berkurang, maka kerukunan hidup pun akan tercipta. Budaya saling memaafkan inilah yang harus dimiliki oleh bangsa kita terutama pada para pelajar begitu juga dalam masyarakat. Sehingga setiap ada persoalan tidak berujung kericuan, tawuran dan perkelahian yang justru menurunkan martabat sebagai manusia disisi Allah.

Dalam Al-Qur’an Allah Tabaraka Wa Ta’ala, mengelompokkan orang-orang pemaaf ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan yang senantiasa mendapatkan surga dan ampunan dari Allah Tabaraka Wa Ta’ala, Sebagaimana firmanNya,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran ayat 133-134)

Disamping ayat tersebut diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga telah bersabda dalam haditsnya:

 عن البراء قال قال رسول الله صلى اللهم عليه وسلم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا

“Setiap dua orang muslim bertemu dan berjabat tangan niscaya diampunkan dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (Riwayat Abu Daud)

Hikmah Sikap Toleransi Dan Kerukunan

Ada beberapa hikmah yang bisa dijadikan pelajaran dalam bersikap toleran dan rukun dalam masyarakat antara lain:

Orang yang mampu menghormati dan menghargai orang lain meskipun berbeda dengan kita dan dihormati pula oleh orang lain. Hai ini menunjukkan bahwa kebaikan yang kita tanam, akan membuahkan kebaikan pula, dan begitu pun sebaliknya.

Orang yang mampu bersikap toleran akan memiliki kedewasaan dalam berfikir, hati-hati dalam bertindak, serta bersikap bijak dalam mengambil setiap keputusan, Sehingga keputusan yang diambil akan senantiasa membawa kemamfaatan bagi semua pihak.

Orang yang mampu menghargai perbedaan dan keragaman, maka perbedaan itu akan menjadi rahmat dan nikmat baginya. (ilmusaudara)

 

Artikel yang sama;

Kerukunan dalam Islam

Ukhuwah Islamiyah

Kerukunan Sesama Manusia

Bagikan Artikel Ini Ke