Ulama yang Berpendapat Meletakkan Tangan Saat Sedekap Shalat di Atas Dada”

Saat shalat disunnahkan bersedekap pada waktu berdiri. Karena dalam beribadah hanya berdasarkan taqlid buta tanpa didasari dengan ilmu, terkadang persoalan bersedekap dalam shalat ini menjadi pertentangan di kalangan umat Islam. Dikarenakan sudah terbiasa sejak kecil hanya diajarkan dengan satu jenis bersedekap dalam shalat, maka dianggapnya apa yang dilakukannya hanya satu-satunya cara bersedekap dalam shalat dan kemudian dengan membabi buta menuduh pihak lain sesat dan bid’ah karena mengamalkan jenis cara bersedekap yang berbeda. Padahal berdasarkan banyak riwayat, cara bersedekap ini banyak ragamnya yang dapat kita pilih karena masing-masing juga ada dalilnya.

Terdapat beberapa variasi dan versi dalam meletakkan tangan saat sedekap dalam shalat; Ada ulama yang berpendapat bahwa; Letak tangan saat sedekap shalat di bawah pusar. Letak tangan saat sedekap shalat di bawah dada di atas pusar. Letak tangan saat sedekap shalat boleh di bawah pusar atau di atas pusar. Dan saat shalat tidak sedekap.

Baca selengkapnya; Letak Tangan Saat Sedekap Shalat Menurut Empat Madzhab’

Namun untuk kali ini kami utarakan ulama yang yang berpendapat meletakkan tangan saat sedekap shalat di atas dada berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Wail bin Hujr radhiallahu ‘anhu:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ

“Saya shalat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di atas dadanya.” (Imam Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih-nya, h. 1/243 no. 479)

Diriwayatkan dari Thawus bin Kaisan radhiallahu ‘anhu secara mursal, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat” (HR,. Abu Daud 759, Al Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3322)

Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah tentang firman Allah Ta’ala,

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” (Al-Kautsar: 2)

Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah beliau berkata,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى وَسَطِ سَاعِدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ فِي الصَّلاَةِ

“Beliau meletakkan tangan kanannya di atas sa’id (setengah jarak pertama dari pergelangan ke siku) tangan kirinya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas dadanya di dalam shalat.” (Ibnu Jarir dalam Tafsir -nya 30/326, Al-Baihaqy 2/30)

Pendapat letak sedekap di atas dada diikuti oleh beberapa ulama muta’akhirin seperti Ash-Shon’ani, Asy-Syaukani, Al Mubarokfuri dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat ini tidak diikuti oleh satupun ulama madzhab yang empat.

Sudah sangat jelas sekali bahwa dalam hal ini semua pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya, dan masing-masing memiliki dasarnya. Sehingga kita tidak perlu lagi ribut-ribut mengklaim bahwa apa yang diamalkannya yang lebih benar dan menuduh pihal lain yang memilih untuk mengamalkan sesuatu yang berbeda karena lebih diyakini dan dicocoki sesuai dengan keadaannya tidak perlu lagi dituduh bid’ah, sesat dan apalagi kafir. Sebab tidak ada paksaan dalam beragama dan tidak ada paksaan memilih untuk mengamalkan ajaran agama Islam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al Baqarah: 256)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad yang dikembangkan dari tulisan almubayyin

Bagikan Artikel Ini Ke